Kategori: Stories

  • The Red Umbrella

    STORIES · SEASON 1 · STORY 4

    The Red Umbrella

    Hujan mulai turun pukul 3.17 sore. Tidak deras, hanya cukup untuk membuat semua orang di halte melihat ke langit pada saat yang sama.

    Nao tidak. Ia sedang melihat payung merahnya.

    Payung itu baru tiga hari menjadi miliknya dan, menurut Nao, merupakan salah satu pembelian terbaik bulan itu. Warnanya merah tua, gagangnya melengkung seperti payung di film-film lama, dan ketika dibuka bentuknya sedikit lebih lebar daripada payung biasa. Yang paling menyenangkan, harganya bahkan tidak sampai setengah dari payung yang hampir dibelinya di toko sebelah.

    Moa melihat payung itu ketika Nao pertama kali membawanya pulang. Ia mengelilinginya sebentar, lalu mendongak.

    “Bagus. Merah.”

    “Itu observasi, bukan pujian.”

    Moa melihat payung itu sekali lagi. “Merahnya bagus.”

    Nao memutuskan untuk menerima itu sebagai pujian.

    Sore itu Nao baru pulang dari tempat les ketika hujan mulai membesar. Orang-orang yang tadi santai di halte mulai bergeser ke bagian dalam, sementara beberapa pengendara motor berhenti untuk mengenakan jas hujan.

    Nao membuka payung merahnya.

    Pop.

    Payung itu mengembang sempurna.

    Seorang perempuan di sebelahnya bahkan sempat melihat ke arah payung itu sebelum membuka payung hitam miliknya sendiri. Nao tidak yakin perempuan itu benar-benar mengagumi payungnya, tetapi memutuskan bahwa kemungkinan tersebut cukup besar.

    Nao melangkah keluar dari halte.

    Hujan menyambutnya.

    Payung merah bekerja dengan sangat baik.

    Selama kira-kira empat puluh meter.

    Masalah pertama datang dari angin.

    Sebuah hembusan tiba-tiba menyusuri jalan, menerbangkan daun-daun kecil dan membuat spanduk warung berkibar keras. Nao merasakan gagang payungnya tertarik ke belakang.

    Ia menggenggam lebih kuat.

    “Okay.”

    Payungnya bergetar.

    “Okay.”

    Angin datang lagi.

    WHUP.

    Payung merah itu terbalik.

    Nao berhenti di trotoar dengan gagang masih di tangan dan bagian dalam payung menghadap langit.

    Seorang anak kecil di bawah jas hujan kuning melihatnya.

    Nao melihat anak itu.

    Anak itu melihat payung.

    Nao menarik gagangnya keras-keras sampai payung kembali ke bentuk semula.

    Anak itu tersenyum.

    Nao melanjutkan perjalanan.

    Moa menunggu di rumah ketika Nao tiba dengan satu bahu basah.

    Ia duduk di dekat pintu sambil mengamati Nao menutup payung.

    “Bagus,” katanya.

    Nao menatapnya.

    Moa memperhatikan satu batang payung yang sekarang sedikit bengkok.

    “Merah.”

    “Moa.”

    “Aku cuma observasi.”

    Nao menggantung payung di teras.

    Besok tidak akan hujan sekeras itu, pikirnya.

    Besoknya hujan justru lebih deras.

    Nao membawa payung merah lagi.

    Batang yang sedikit bengkok masih berfungsi. Payung masih terbuka dengan baik dan warnanya tetap cantik, hanya saja Nao sekarang memegangnya dengan dua tangan setiap kali angin bertiup.

    Ia mulai menemukan teknik.

    Kalau angin datang dari depan, payung harus sedikit dimiringkan. Kalau dari samping, tubuh ikut diputar. Kalau anginnya berubah arah terlalu cepat, tidak ada teknik—hanya doa dan refleks.

    Nao cukup bangga dengan kemampuan barunya.

    Sampai hujan mulai menetes dari atas kepalanya.

    Ia mendongak.

    Ada setitik air di bagian dalam payung.

    Lalu satu lagi.

    Nao menyentuh kainnya.

    Air merembes melalui jahitan kecil dekat salah satu tulang payung.

    “Seriously?”

    Hujan tidak menjawab.

    Nao tiba di sebuah minimarket dan berdiri di bawah kanopinya bersama beberapa orang lain. Ia mengibaskan air dari lengan jaket, lalu memeriksa payung merah itu.

    Jahitannya terlihat tipis. Salah satu sambungan tulang payung mulai longgar, dan batang yang kemarin bengkok ternyata lebih bengkok daripada yang ia kira. Tidak ada satu pun kerusakan yang terlihat besar.

    Kalau payung itu berada di rak toko, Nao mungkin masih akan memilihnya.

    Seorang ibu di sampingnya sedang menutup payung biru tua yang terlihat jauh lebih membosankan. Payung itu basah kuyup di bagian luar, tetapi bagian dalamnya kering.

    Nao memperhatikannya sedikit terlalu lama.

    Ibu itu menoleh.

    Nao pura-pura melihat hujan.

    Ketika hujan sedikit reda, Nao melanjutkan perjalanan. Ia baru berjalan beberapa menit ketika melihat seseorang yang dikenalnya berdiri di depan toko buah.

    Sasa.

    Sasa memegang dua kantong belanja dan tidak membawa payung.

    “Nao!”

    Nao menghampiri.

    “Kamu nggak bawa payung?”

    “Tadi nggak hujan.”

    Nao melihat dua kantong di tangannya.

    “Rumah?”

    “Iya.”

    “Ayo.”

    Sasa masuk ke bawah payung merah.

    Barulah Nao menemukan masalah berikutnya.

    Payung itu memang terlihat besar ketika hanya dipakai satu orang. Untuk dua orang, ukurannya berubah secara misterius menjadi sangat kecil.

    “Geser dikit,” kata Sasa.

    “Aku sudah.”

    “Bahuku kena.”

    “Bahuku juga.”

    Mereka berjalan berdempetan. Nao memiringkan payung ke arah Sasa, lalu air membasahi lengannya sendiri. Ketika ia menggesernya kembali, Sasa yang terkena.

    “Kamu beli payung buat setengah orang?”

    “Ini payung normal.”

    Sasa melihat payung.

    Lalu Nao.

    “Normal yang mana?”

    Nao tidak menjawab.

    Mereka berhasil berjalan hampir dua blok sebelum angin datang lagi.

    Nao sudah mengenali tanda-tandanya: daun bergerak, air hujan berubah arah, lalu gagang payung mulai menarik tangannya.

    “Oh no.”

    “Apa?”

    “Pegang belanjaannya.”

    “Aku sudah pegang.”

    “Pegang lebih serius.”

    “Nao—”

    WHUP.

    Payung merah terbalik.

    Sasa menjerit.

    Nao tertawa.

    Entah kenapa, setelah dua hari berusaha mempertahankan martabat payung itu, melihatnya terbalik di depan Sasa justru terasa sangat lucu.

    Mereka berdiri di tengah hujan, satu memegang dua kantong belanja dan satu lagi bergulat dengan sesuatu yang sekarang lebih mirip parabola merah.

    “Nao!”

    “Aku tahu!”

    “Payungmu!”

    “Aku tahu!”

    Mereka berlari ke bawah atap sebuah warung sambil tertawa.

    Malam itu payung merah terbuka di lantai ruang tamu.

    Moa mengelilinginya.

    Satu batang bengkok.

    Satu sambungan longgar.

    Ada rembesan di jahitan.

    Nao duduk bersila sambil melihat hasil pemeriksaannya.

    Moa memasukkan kepala ke bawah payung.

    “Masih merah.”

    “Thank you.”

    “Merahnya masih bagus.”

    “Very helpful.”

    Moa keluar dari bawahnya.

    “Mau beli lagi?”

    “Nggak.”

    “Kenapa?”

    Nao menunjuk kerusakannya satu per satu.

    “Karena ternyata aku butuh payung yang nggak cuma bagus waktu nggak hujan.”

    Moa berpikir sebentar.

    “Itu memang requirement yang cukup penting buat payung.”

    Nao melempar bantal kecil ke arahnya.

    Hari Sabtu, Nao pergi mencari payung baru.

    Kali ini ia tidak mulai dari warna.

    Ia membuka beberapa payung dan menggoyangkannya sedikit. Ia memperhatikan sambungan tulangnya, meraba ketebalan kain, mencoba mekanisme buka-tutup, dan bertanya apakah ada model yang lebih tahan angin.

    Penjual menunjukkan dua pilihan.

    Salah satunya cantik.

    Yang lain abu-abu gelap.

    Nao membuka yang abu-abu.

    Lebih berat.

    Tulangnya lebih tebal.

    Gagangnya tidak secantik payung merah.

    Harganya juga hampir dua kali lipat.

    Nao memutarnya sebentar.

    “Kalau dipakai dua orang?”

    Penjual membuka payung itu penuh.

    “Bisa, Kak. Ini lebih lebar.”

    Nao berdiri di bawahnya.

    Cukup luas.

    “Yang ini.”

    Moa memeriksa payung baru itu sore harinya. Ia berjalan mengelilinginya sekali, lalu melihat Nao.

    “Abu-abu. Nggak cantik. Lebih mahal juga.”

    “Iya.”

    “Terus kenapa beli?”

    Nao menutup payung. “Karena aku beli payung, Moa. Bukan beli warna.”

    Moa terlihat seperti hendak mengatakan sesuatu, lalu mengurungkan niatnya.

    Keputusan yang sangat bijaksana.

    Hujan datang lagi beberapa hari kemudian.

    Kali ini Nao sedang berjalan bersama Sasa ketika titik-titik air mulai jatuh. Ia membuka payung abu-abunya dan mereka masuk ke bawahnya tanpa perlu saling mendorong.

    Angin bertiup cukup keras di persimpangan.

    Nao otomatis menggenggam gagang dengan dua tangan.

    Payung bergoyang.

    Tetapi tidak terbalik.

    Mereka terus berjalan.

    Di depan sebuah toko, Nao melihat payung merah tergantung di rak. Warnanya bahkan lebih bagus daripada miliknya dulu—merah tua, gagang melengkung, bentuknya cantik.

    Sasa mengikuti pandangannya.

    “Bagus.”

    “Iya.”

    “Mau?”

    Nao melihat payung abu-abu di atas kepala mereka. Air mengalir rapi dari pinggirannya, sementara kedua bahu mereka tetap kering.

    “Nggak.”

    “Kenapa?”

    Nao tersenyum.

    “Aku sudah punya payung.”

    Payung merah yang lama tidak dibuang.

    Nao menyimpannya di dalam keranjang dekat pintu bersama beberapa barang yang jarang dipakai. Kadang-kadang warna merahnya masih terlihat dari sela-sela tas belanja dan jas hujan.

    Suatu sore Moa menemukan payung itu.

    Ia menariknya keluar dan membukanya di ruang tamu.

    Nao melihat dari sofa.

    “Mau ngapain?”

    Moa duduk di bawahnya.

    “Nggak hujan.”

    “I know.”

    Moa merebahkan diri, memutar badan dua kali, lalu menemukan posisi yang nyaman.

    Nao memperhatikannya.

    “Jadi?”

    Moa menutup mata.

    “Bagus kalau nggak hujan.”

    Nao tertawa.

    Akhirnya, payung merah itu menemukan pekerjaannya.

    RELATED IDEAS

    · Harga Termurah Belum Tentu Pilihan Terbaik

    · Hari Pertama Jadi Buyer

  • Everyone Knows Nao Will Fix It

    STORIES · SEASON 1 · STORY 6

    Everyone Knows Nao Will Fix It

    Awalnya hanya sebuah kotak.

    Bu Rina mengetuk pagar rumah Nao menjelang siang sambil membawa kotak kardus kecil yang diikat tali rafia. Ia harus pergi sebentar, sementara sore nanti keponakannya akan lewat untuk mengambil kotak itu. Karena rumah Nao hampir selalu ada orang dan letaknya persis di tikungan, Bu Rina bertanya apakah kotaknya boleh dititipkan beberapa jam.

    “Tentu, Bu. Taruh saja di sini. Nanti kalau keponakannya datang, saya kasih,” kata Nao.

    Kotak itu diletakkan di atas meja kecil dekat pintu.

    Moa mendekat, mengendusnya dari tiga sisi, lalu melihat Nao.

    “Bukan punya kita,” kata Nao. “Cuma numpang sebentar.”

    Moa mengendus sisi keempat, barangkali untuk memastikan.

    Beberapa hari kemudian, Sasa datang membawa kantong kain besar. Ia harus pergi latihan, tetapi ada buku yang hendak dipinjam seseorang malam nanti. Karena rumah Nao berada di tengah antara rumah mereka berdua, menurut Sasa akan jauh lebih praktis kalau bukunya ditinggal di sana.

    “Aku sebenarnya bisa bawa besok,” kata Sasa, “tapi dia butuh malam ini. Kalau kutaruh di rumahmu, nanti dia tinggal mampir. Aku sudah bilang ke dia supaya chat kamu dulu.”

    Nao menerima kantong itu. “Ya sudah, tapi kasih tahu orangnya jangan terlalu malam. Aku juga nggak mau jam sebelas masih jadi perpustakaan.”

    Sasa tertawa dan berjanji.

    Kantong itu digantung di sandaran kursi dekat pintu.

    Moa sedang tidur di bawah kursi tersebut. Ia membuka satu mata ketika kantong itu menyentuh telinganya, bangkit, lalu pindah ke bawah meja makan.

    Nao tidak memperhatikan.

    Setelah itu, entah bagaimana, orang mulai tahu.

    Pak Darto menitipkan kunci gudang komunitas karena sore nanti akan dipakai tim dekorasi. Bu Rina kembali dengan sebuah payung milik tetangganya yang kebetulan rumahnya searah dengan perjalanan Nao besok pagi. Sasa meminta Nao mengingatkan seseorang membawa kabel ekstensi. Seorang anak dari ujung jalan bahkan datang membawa dua gulung pita dan berkata ibunya bilang, “Titip di Kak Nao saja, nanti pasti aman.”

    Nao mulai punya satu sudut khusus di dekat pintu.

    Kotak Bu Rina sudah lama pergi, tetapi tempatnya segera digantikan benda lain.

    Moa memperhatikan perkembangan itu dengan perhatian yang semakin serius.

    Nao sebenarnya tidak keberatan.

    Ada rasa menyenangkan ketika orang mempercayainya. Kalau seseorang bingung mencari sesuatu, Nao sering tahu siapa yang memegangnya. Kalau ada barang yang harus sampai ke orang lain, Nao cukup teratur untuk mengingatnya. Dan kalau ada rencana kecil yang mulai berantakan, biasanya ia bisa membantu membuatnya sedikit lebih masuk akal.

    “Lumayan,” katanya suatu sore sambil menyusun tiga barang berbeda di meja dekat pintu. “Kita jadi useful.”

    Moa duduk di lantai, menatap sebuah tas kain yang sekarang menempati tempat favoritnya untuk berbaring ketika matahari sore masuk melalui jendela.

    Nao mengikuti pandangannya.

    “Oh. Itu cuma sampai besok.”

    Moa pindah ke tempat lain.

    Besoknya tas itu memang pergi.

    Sebagai gantinya datang sebuah kardus.

    Masalah sebenarnya baru muncul pada hari Sabtu.

    Pagi itu lingkungan mereka sedang menyiapkan acara kecil di taman. Tidak ada yang besar—beberapa meja makanan, permainan anak-anak, musik, dan bazar kecil. Nao hanya punya satu tugas resmi: membawa dua papan petunjuk yang sudah ia buat sendiri malam sebelumnya.

    Tetapi pukul sembilan pagi, ponselnya sudah penuh pesan.

    Sasa menanyakan kabel ekstensi. Pak Darto bertanya apakah kunci gudang masih ada. Bu Rina ingin memastikan kantong berisi gelas kertas sudah diambil seseorang. Seorang tetangga lain bertanya apakah Nao tahu siapa yang membawa taplak meja panjang.

    Nao menjawab satu per satu sambil sarapan.

    Moa duduk di seberangnya.

    “Aku bukan panitia,” kata Nao sambil mengetik. “Entah kenapa aku tahu terlalu banyak.”

    Moa menatapnya.

    Nao berhenti mengetik sejenak.

    “Jangan lihat aku begitu. Mereka cuma tanya.”

    Ponselnya berbunyi lagi.

    Nao kembali mengetik.

    Menjelang siang, rumah mereka berubah menjadi tempat transit.

    Dua kantong ada di dekat pintu. Sebuah gulungan kabel berada di bawah meja. Kardus berisi gelas kertas menempati sudut ruang tamu. Di atas kursi ada tas yang Nao sendiri tidak ingat milik siapa.

    Moa kehilangan tempat berjemurnya untuk kedua kalinya minggu itu.

    Kali ini ia tidak pindah.

    Ia berdiri di depan kardus, melihatnya cukup lama, lalu menggigit pelan salah satu pegangannya.

    Nao sedang membaca pesan ketika menyadari Moa berjalan menuju pintu sambil menyeret kantong kecil berisi pita.

    “Moa.”

    Moa terus berjalan.

    “Moa, itu punya Bu Rina.”

    Poodle itu berhasil membawa kantong tersebut sampai ke teras sebelum Nao mengambilnya.

    Nao mengembalikannya ke dalam rumah. “Kamu nggak bisa sembarangan mengembalikan barang ke orang. Ada sistemnya.”

    Moa duduk di ambang pintu.

    Beberapa menit kemudian Bu Rina lewat di depan rumah.

    Moa berdiri, mengambil kantong pita tadi, dan membawanya keluar lagi.

    Bu Rina berhenti.

    “Oh, itu punya saya.”

    Nao berdiri di ruang tamu dengan ponsel masih di tangan.

    Bu Rina mengambil kantongnya sambil tertawa. “Pintar sekali, Moa. Saya malah lupa ini masih di sini.”

    Moa kembali masuk.

    Ia berjalan ke tempat yang tadi ditempati kantong itu, berputar dua kali, lalu berbaring.

    Nao menatapnya.

    “Hm.”

    Sore harinya seseorang datang membawa sebuah kotak plastik besar.

    “Mbak Nao, boleh titip ini? Nanti Pak Darto ambil sebelum acara mulai. Katanya kalau ditaruh di sini lebih gampang karena semua orang tahu rumah Mbak.”

    Nao sudah mengulurkan kedua tangan.

    Moa muncul dari belakang sofa.

    Ia berjalan ke pintu, berdiri di antara Nao dan kotak plastik itu, lalu menatap kotaknya. Setelah itu ia melihat orang yang membawanya. Kemudian kembali melihat kotaknya.

    Nao belum pernah melihat seekor poodle menyampaikan pendapat tentang distribusi tanggung jawab dengan begitu jelas.

    Tangannya perlahan turun.

    “Sebentar,” katanya. “Pak Darto sekarang ada di taman, kan? Kalau iya, lebih aman langsung dibawa ke sana saja. Kalau ditinggal di sini, nanti malah saya yang harus memastikan barang ini sampai ke beliau.”

    Orang itu berpikir sebentar, lalu mengangguk. “Oh iya juga. Sekalian saya ke sana.”

    Kotak plastik itu pergi bersama pemiliknya.

    Moa kembali ke ruang tamu.

    Nao memperhatikannya.

    “Kamu puas?”

    Moa naik ke karpet dan duduk.

    Nao mulai curiga jawabannya iya.

    Baru beberapa menit kemudian Nao melihat jam.

    Ia membeku.

    Dua papan petunjuk buatannya masih berada di kamar.

    Nao berlari mengambilnya. Salah satu belum selesai dipasangi tali, sementara spidol yang ia perlukan ternyata berada di dasar salah satu tas titipan. Ia harus membongkar beberapa barang hanya untuk menemukannya.

    Untuk pertama kalinya hari itu, Nao berhenti.

    Rumahnya penuh barang yang bukan miliknya. Ponselnya penuh pertanyaan tentang pekerjaan yang bukan tugasnya. Dan satu-satunya hal yang memang menjadi tanggung jawab Nao sendiri hampir terlupakan.

    Moa duduk di pintu kamar.

    Nao melihatnya.

    “Oke,” katanya. “Sekarang aku mengerti.”

    Moa menggaruk telinga.

    Mungkin ia mengerti. Mungkin juga tidak.

    Tetapi sore itu, Nao mulai mengubah caranya membantu.

    Ketika Sasa menelepon menanyakan kabel ekstensi, Nao memberi tahu di mana kabel itu terakhir dilihat dan siapa yang sedang berada di taman. Ia tidak menawarkan diri mengambilkannya. Ketika seseorang bertanya apakah sebuah kantong boleh ditinggalkan di rumah, Nao membantu menghubungi orang yang seharusnya menerima kantong tersebut.

    Dan ketika Bu Rina bertanya apakah Nao bisa membantu mengecek daftar perlengkapan, Nao mengangguk.

    “Bisa, Bu. Kita cek bareng. Tapi yang pegang daftarnya tetap Bu Rina ya, supaya nanti saya nggak malah jadi pusat semua barang.”

    Bu Rina tertawa. “Iya juga. Belakangan semua memang dilempar ke rumah kamu.”

    Nao ikut tertawa.

    Aneh rasanya.

    Ia masih membantu.

    Tidak ada yang marah.

    Dunia juga tidak runtuh.

    Malamnya, setelah acara selesai, rumah kembali terasa seperti rumah.

    Tidak ada kardus di dekat pintu. Tidak ada kabel di bawah meja. Kursi kembali menjadi kursi, bukan gudang sementara. Bahkan bagian lantai yang terkena matahari sore akhirnya kosong lagi.

    Moa berjalan ke sana, berputar dua kali, lalu menjatuhkan tubuhnya dengan puas.

    Nao duduk di sofa sambil melihatnya.

    “Kamu tahu,” katanya, “membantu orang ternyata beda dengan mengambil alih urusan orang.”

    Moa meregangkan kaki depannya.

    Nao tersenyum. “Dan kamu sebenarnya cuma mau tempat tidurmu kembali, kan?”

    Ekor Moa bergerak sekali.

    Keesokan paginya terdengar ketukan di pagar.

    Nao membuka pintu.

    Seorang tetangga berdiri di sana sambil membawa kotak kardus.

    “Mbak Nao, boleh minta tolong? Saya mau titip ini sebentar. Nanti sore ada yang ambil.”

    Nao melihat kotaknya.

    Dari dalam rumah, Moa muncul. Ia melihat kotak itu, lalu melihat Nao.

    Nao tersenyum.

    “Kalau orangnya ambil sore, lebih baik kotaknya tetap dibawa dulu ya. Nanti kasih tahu dia ambil langsung ke tempat Mbak saja. Kalau perlu, saya bantu kasih tahu arah rumahnya.”

    Tetangganya berpikir sebentar. “Oh iya juga. Bisa begitu.”

    Ia pergi bersama kotaknya.

    Nao menutup pagar.

    Moa sudah berjalan kembali ke dalam rumah.

    Nao mengikutinya.

    Di ruang tamu, cahaya pagi jatuh tepat di tempat favorit Moa.

    Kosong.

    Seperti seharusnya.

    THERE IS A PROCUREMENT IDEA HIDING IN THIS STORY.

    Bagaimana caranya tetap helpful tanpa perlahan menjadi pemilik semua masalah orang lain?

    Learn: Kenapa Buyer Selalu Dicari Kalau Ada Masalah? →

  • The Cheapest Basket

    STORIES · SEASON 1 · STORY 5

    The Cheapest Basket

    Keranjang Nao sudah mulai menyerah pada kehidupan.

    Pegangannya masih terpasang, tetapi sekarang berbunyi kecil setiap kali diangkat. Dua anyaman di bagian bawah sudah putus, dan salah satu sudutnya mulai membuka celah yang cukup besar untuk sesuatu berukuran biskuit melewatinya. Fakta terakhir itu diketahui bukan dari pemeriksaan Nao, melainkan dari penelitian lapangan yang dilakukan Moa selama beberapa minggu.

    Pagi itu Nao meletakkan keranjangnya di meja makan dan menatapnya cukup lama. Keranjang itu sudah menemaninya ke pasar, festival kampung, toko Pak Bram, dan berbagai perjalanan kecil yang awalnya tidak pernah membutuhkan keranjang tetapi entah bagaimana selalu berakhir dengan membawa sesuatu pulang.

    Moa memasukkan hidungnya ke sudut yang berlubang.

    “Jangan dibantu rusak,” kata Nao. “Aku sudah memutuskan beli yang baru.”

    Moa menarik kepalanya keluar dan duduk dengan ekspresi seseorang yang merasa baru saja kehilangan sebuah fitur.

    Pasar akhir pekan di lapangan kecamatan ternyata punya satu lorong khusus kerajinan. Ada tas kain, kotak kayu, tempat tanaman, sandal anyaman, dan cukup banyak keranjang untuk membuat Nao bertanya-tanya mengapa selama ini ia hanya mengenal satu jenis keranjang.

    Penjual pertama adalah seorang ibu dengan meja yang sangat rapi. Keranjangnya ringan, anyamannya halus, dan bagian dalamnya dilapisi kain yang bisa dilepas untuk dicuci. Pegangannya terasa nyaman bahkan ketika Nao memasukkan beberapa barang pajangan ke dalamnya untuk mencoba.

    Nao melihat label harga.

    Ia meletakkannya kembali dengan lebih hati-hati daripada saat mengambilnya.

    “Bagus sekali,” katanya kepada Moa setelah mereka berjalan beberapa meter. “Tapi kalau aku beli itu, sepertinya selama sebulan kita harus mengagumi keranjangnya sambil makan mi instan.”

    Moa memandang ke belakang ke arah keranjang tadi. Ia tampaknya tidak melihat hubungan antara keputusan finansial Nao dan menu makannya sendiri, tetapi memilih tidak memperpanjang persoalan.

    Penjual kedua berada tidak jauh dari sana. Keranjangnya sedikit lebih berat dan tampilannya jauh lebih sederhana, tetapi pegangannya kokoh dan bagian bawahnya rata. Harganya hampir sepertiga lebih murah daripada yang pertama.

    Nao mengangkatnya, memutar sedikit, lalu mencoba membawanya sambil berjalan beberapa langkah.

    “Yang ini masuk akal,” katanya. “Nggak cantik-cantik amat, tapi sepertinya bisa diajak hidup bersama.”

    Moa mengendus bagian bawahnya.

    Itu tampaknya bentuk persetujuan.

    Mereka hampir selesai ketika Nao melihat sebuah papan kecil di ujung lorong.

    KERANJANG ANYAMAN — HARGA PASAR LANGSUNG

    Di bawahnya tersusun keranjang dengan bentuk yang hampir sama seperti yang baru saja mereka lihat. Warnanya sedikit lebih muda, anyamannya rapi, dan yang paling menarik perhatian Nao adalah angka yang ditulis besar pada selembar karton.

    Harganya hampir setengah dari keranjang pertama.

    Nao berhenti.

    Kemudian mundur dua langkah.

    “Sebentar.”

    Ia mendekati meja.

    Penjualnya seorang perempuan muda yang sedang mengikat tali pada beberapa keranjang kecil. Ia menjelaskan bahwa keluarganya membuat sendiri keranjang-keranjang itu di desa sebelah, sehingga mereka tidak menitipkan barang melalui toko atau pengecer. Itu sebabnya harganya bisa lebih rendah.

    Nao mengambil satu.

    Tidak ada anyaman yang lepas. Pegangannya tidak bergoyang. Bagian bawahnya bahkan terasa cukup kokoh ketika ditekan dengan telapak tangan.

    Ini bukan barang jelek.

    Justru itu yang membuat Nao semakin tertarik.

    “Kalau dilihat begini,” katanya pelan kepada Moa, “aku hampir beli yang tadi dengan harga jauh lebih mahal.”

    Moa sedang sibuk dengan hal lain.

    Ketika Nao menoleh, separuh tubuhnya sudah berada di dalam salah satu keranjang pajangan.

    “Moa.”

    Poodle itu berhenti bergerak.

    “Keluar. Itu bukan bagian dari quality inspection.”

    Moa keluar dengan tenang, seolah keputusan tersebut memang berasal darinya sendiri.

    Nao tersenyum kecil, lalu kembali melihat keranjang di tangannya. Beberapa bulan sebelumnya mungkin ia sudah membayar dan pulang dengan perasaan berhasil menemukan bargain. Tetapi kali ini ia tidak langsung membuka dompet.

    Ia memikirkan keranjang lamanya.

    Apa sebenarnya yang biasa ia masukkan ke sana?

    Nao mengambil ponsel dan membuka foto-foto lama. Ada foto bekal makan siang, kotak kue Bu Rina, dua botol minum, beberapa buku, belanjaan kecil, dan sekali waktu tiga pot tanaman yang keputusan pembeliannya masih sulit ia jelaskan.

    Ia memperkirakan ukurannya dengan tangan.

    Kemudian melihat kembali keranjang murah tadi.

    Bentuknya hampir sama, tetapi bagian atasnya sedikit menyempit.

    “Boleh saya coba masukkan kotak ini?” tanya Nao sambil menunjuk sebuah kotak makanan yang dipajang di meja sebelah.

    Penjualnya mengangguk.

    Kotak itu masuk.

    Hampir.

    Nao harus memiringkannya sedikit agar melewati bagian atas keranjang. Setelah berada di dalam, posisinya juga tidak bisa benar-benar rata.

    Nao mengeluarkannya lagi.

    “Kalau cuma sayur, buah, atau barang kecil sebenarnya bagus banget ya,” katanya kepada penjual.

    “Iya,” jawab perempuan itu. “Yang ini memang paling banyak dibeli buat belanja pasar. Kalau Mbak sering bawa kotak besar, mungkin yang model sebelah sana lebih enak karena mulutnya lebih lebar.”

    Ia menunjuk model lain.

    Harganya lebih mahal.

    Tidak jauh berbeda dengan keranjang kedua yang tadi dilihat Nao.

    Nao tersenyum. “Oke. Sekarang masalahnya jadi lebih menarik.”

    Mereka kembali ke penjual kedua.

    Kali ini Nao tidak hanya melihat keranjangnya. Ia mengambil salah satu kotak pajangan dari meja sebelah, meminta izin, lalu memasukkannya ke dalam.

    Masuk dengan rata.

    Masih ada ruang di sampingnya untuk botol minum dan beberapa barang kecil. Nao mengangkat keranjang itu lagi. Sedikit lebih berat daripada yang pertama, tetapi tidak cukup berat untuk menjadi masalah.

    Moa memperhatikan proses tersebut dengan sangat serius.

    Lalu masuk ke keranjang lain.

    Nao menatapnya.

    “Aku mulai curiga kamu punya metode evaluasi sendiri.”

    Moa berputar sekali di dalam keranjang sebelum duduk.

    Nao menghela napas. “Baik. Comfortable. Dicatat.”

    Penjualnya tertawa.

    Nao akhirnya membeli keranjang itu.

    Bukan yang paling cantik.

    Bukan yang paling murah.

    Dan, kalau dipikir-pikir, mungkin juga bukan keranjang terbaik yang ada di seluruh pasar.

    Tapi ketika kotak makanannya diletakkan rata di dasar, botol minum masuk di sampingnya, dan pegangannya masih nyaman ketika semuanya diangkat, Nao tahu satu hal sederhana.

    Keranjang itu cocok untuk hidupnya.

    Dalam perjalanan pulang mereka melewati lorong kerajinan sekali lagi.

    Di depan penjual keranjang murah tadi, seorang perempuan sedang memilih dua buah sekaligus. Keranjang pertama diisi sayuran, sementara yang kedua sudah penuh dengan bunga potong dan beberapa gulung kain.

    Semuanya masuk dengan mudah.

    Perempuan itu membayar sambil tersenyum puas.

    Nao memperlambat langkah.

    Ia melihat keranjang perempuan itu, lalu melihat keranjang barunya sendiri.

    Tidak ada yang salah dengan keranjang murah tadi. Anyamannya bagus, harganya sangat menarik, dan untuk barang-barang yang sedang dibawa perempuan itu, bentuknya bahkan mungkin lebih praktis daripada keranjang Nao.

    Nao tersenyum kecil.

    Keranjang termurah itu bukan pilihan yang salah.

    Ia hanya bukan keranjang untuk Nao.

    Moa berjalan beberapa langkah di depannya sambil mengunyah sesuatu.

    Nao menyipitkan mata.

    “Moa, kamu makan apa?”

    Moa terus berjalan.

    Nao mempercepat langkah dan melihat sesuatu yang sangat mirip biskuit muncul sebentar dari sisi mulutnya.

    Ia menoleh ke keranjang baru yang dibawanya. Tidak ada lubang. Tidak ada biskuit di dalamnya. Bahkan Nao cukup yakin mereka belum membeli biskuit hari itu.

    Untuk beberapa detik ia mencoba mencari penjelasan yang masuk akal.

    Lalu menyerah.

    Ada hal-hal yang memang perlu dievaluasi dengan teliti.

    Ada juga Moa.

    THERE IS A PROCUREMENT IDEA HIDING IN THIS STORY.

    Kalau pilihan termurah sebenarnya bagus, kapan kita punya alasan yang cukup untuk memilih sesuatu yang lebih mahal?

    Learn: Harga Termurah Belum Tentu Pilihan Terbaik →

  • The Basket for Grandma

    STORIES · SEASON 1 · STORY 1

    The Basket for Grandma

    Hujan semalam menyisakan titik-titik air di pagar dan daun jambu ketika Nao membuka pintu belakang rumah.

    Moa sudah duduk di anak tangga, memperhatikan seekor siput yang sedang berusaha menyeberangi lantai teras.

    “Dia dari tadi di situ?” tanya Nao.

    “Sudah lama.”

    “Kenapa nggak dibantu?”

    Moa mengangkat bahu. “Dia nggak minta.”

    Nao menghela napas. Kadang-kadang berbicara dengan Moa terasa seperti berbicara dengan seseorang yang sangat bijaksana.

    Kadang-kadang tidak.

    Pagi itu Mama menitipkan sebuah keranjang kecil.

    “Tolong antar ke rumah Oma Lili sebelum jam empat, ya.”

    “Isinya apa?”

    “Beberapa barang buat sore ini. Nanti sekalian beli roti di Bu Rina. Oma suka yang roti susu.”

    Nao mengintip isi keranjang. Ada satu botol kecil, dua bungkus teh, sebuah kotak, dan secarik kertas yang dilipat.

    Gampang.

    Sangat gampang.

    Moa memasukkan kedua kaki depannya ke kantong hoodie kecil yang dipakaikan Nao pagi itu.

    “Kita ke mana dulu?”

    “Bu Rina.”

    “Lewat tukang sosis?”

    “Nggak.”

    “Kenapa?”

    “Karena kita baru sarapan.”

    “Aku nggak ingat.”

    Mereka sampai di toko Bu Rina pukul sebelas kurang sedikit.

    “Roti susu habis, Nao,” kata Bu Rina. “Besok pagi ada lagi.”

    Nao mengerutkan hidung.

    “Yang mirip?”

    “Ada roti cokelat.”

    Nao memandang roti cokelat.

    Moa juga.

    “Cokelat lebih enak,” bisiknya.

    “Oma sukanya susu.”

    “Oma belum coba yang cokelat.”

    “Itu bukan poinnya.”

    “Justru itu poinnya.”

    Nao mengabaikannya.

    Di rak sebelah ada roti tawar kecil. Tidak menarik, tetapi setidaknya tidak terlalu manis.

    “Yang ini masih fresh, Bu?”

    “Baru datang pagi.”

    Nao mengambilnya.

    Masalah pertama selesai.

    Atau begitu pikirnya.

    Di luar toko, Nao membuka kertas kecil dari dalam keranjang.

    Roti susu.

    Teh.

    Obat gosok.

    Puding dingin.

    Nao berhenti berjalan.

    Ia melihat isi keranjang.

    Teh ada.

    Obat gosok ada.

    Kotak yang tadi dilihatnya ternyata berisi puding.

    Nao menatap kotak itu cukup lama, lalu menatap matahari yang mulai muncul dari balik awan.

    “Moa.”

    “Hmm?”

    “Ini harus dingin.”

    Moa mengendus kotaknya.

    “Masih dingin.”

    “Kita baru mau ke taman.”

    “Kenapa?”

    “Kan aku janji ketemu Sasa jam dua belas.”

    Moa berpikir sebentar.

    “Taruh di bawah pohon.”

    “Dua jam?”

    “Pohonnya besar.”

    Nao menutup mata.

    Ada hari-hari ketika Moa benar-benar tidak membantu.

    Nao melihat jam.

    11.18.

    Rumah Oma Lili sebenarnya hanya dua puluh menit dari sana. Kalau ia mengantar keranjang sekarang, ia masih mungkin bertemu Sasa sedikit terlambat.

    Tetapi roti susu belum dapat.

    Ia membuka ponsel dan mencari toko lain.

    Ada bakery di dekat stasiun.

    1,7 km.

    Roti susunya tersedia.

    Nao tersenyum.

    “Nah.”

    Moa ikut melihat layar.

    “Jauh.”

    “Cuma satu koma tujuh.”

    “Kakimu pendek.”

    Nao menatapnya.

    “Kakimu lebih pendek.”

    “Aku punya empat.”

    Mereka berangkat.

    Bakery dekat stasiun memang punya roti susu.

    Bahkan terlihat lebih bagus daripada roti Bu Rina. Packaging-nya cantik, ada pita kecil di bagian atas, dan rotinya masih hangat.

    “Harganya dua kali lipat,” kata Nao.

    “Oma nggak tahu harganya.”

    “Aku yang tahu.”

    “Kalau begitu jangan kasih tahu Oma.”

    Nao mulai curiga Moa seharusnya tidak pernah dipercaya mengelola uang.

    Ia membeli satu.

    Saat keluar dari bakery, jam menunjukkan 11.52.

    Sasa sudah mengirim pesan.

    Naooo kamu di mana 😭

    Nao mengetik:

    otw

    Ia melihat tulisan itu sebentar.

    Kemudian menghapusnya.

    Ia sebenarnya tidak sedang on the way ke taman.

    Ia berdiri di depan stasiun dengan sebuah keranjang, dua jenis roti, puding yang semakin tidak dingin, dan seekor poodle yang sedang memperhatikan penjual sosis.

    “Nao.”

    “Apa?”

    “Sosisnya dua belas ribu.”

    “Terus?”

    “Aku cuma kasih informasi.”

    Nao memasukkan ponsel ke tas.

    Ia mulai menghitung. Ke taman sekitar lima belas menit. Kalau bertemu Sasa satu jam, lalu ke rumah Oma…

    Ia menyentuh kotak puding.

    Tidak dingin lagi.

    Moa ikut menyentuhnya.

    “Hangat.”

    “Aku tahu.”

    “Bisa jadi sup.”

    “Moa.”

    “Aku cuma kasih informasi.”

    Nao memandang jalan ke arah taman.

    Kemudian ke arah rumah Oma.

    Ia mengeluarkan ponsel lagi.

    Sa, sorry. Aku harus antar sesuatu dulu ke Oma. Kayaknya aku telat. Jangan tunggu makan ya.

    Tiga titik muncul.

    Hilang.

    Muncul lagi.

    okeh. kabarin ajaa

    Nao merasa sedikit bersalah. Tapi anehnya, setelah mengirim pesan itu, kepalanya terasa lebih ringan.

    “Ayo.”

    “Ke Oma?”

    “Ke Oma.”

    “Lewat penjual sosis?”

    “Tidak.”

    “Nao!”

    Seseorang memanggil dari seberang jalan.

    Nao menoleh. “Eh, Tante Mira.”

    Tante Mira menghampiri mereka dan mengobrol sebentar tentang Mama. Moa sibuk mengendus rerumputan di dekat kaki Nao, lalu duduk ketika kepalanya dielus.

    “Lucu banget sih kamu,” kata Tante Mira.

    Moa menjulurkan lidah.

    Setelah Tante Mira pergi, mereka melanjutkan perjalanan.

    “Menurutku kita tetap harus lewat tukang sosis,” kata Moa.

    Nao meliriknya.

    “Kamu belum menyerah juga?”

    “Dua belas ribu.”

    Mereka tiba di rumah Oma Lili pukul 12.24.

    Oma membuka pintu dengan rambut putih yang masih digulung kecil di belakang kepala.

    “Nao?”

    “Mama titip ini.”

    Nao menyerahkan keranjang.

    Oma melihat ke dalam.

    “Lho, banyak sekali.”

    “Ada roti juga.”

    “Wah.”

    Nao mengeluarkan roti susu yang dibelinya dekat stasiun.

    Oma tersenyum.

    “Ini buat teman-teman Oma nanti sore.”

    Nao berhenti.

    “Teman-teman?”

    “Iya. Jam tiga mereka datang.”

    Nao melihat kotak puding.

    “Oma… pudingnya harus masuk kulkas.”

    “Oh iya.”

    Oma mengambilnya.

    “Untung cepat kamu antar.”

    Nao tidak mengatakan apa-apa.

    Puding masuk ke kulkas. Roti diletakkan di meja.

    Kemudian Oma mengambil roti tawar yang tadi dibeli Nao di toko Bu Rina.

    “Ini juga?”

    “Yang susu tadi habis. Jadi aku beli ini dulu. Terus aku ketemu yang susu di dekat stasiun.”

    Oma memandang dua bungkus roti itu.

    Nao menunggu.

    Lalu Oma tertawa kecil.

    “Besok kita sarapan roti banyak sekali.”

    Nao ikut tertawa.

    Sedikit.

    Di luar rumah Oma, Nao berjalan lebih pelan.

    Moa menyusul di sampingnya.

    “Aku berhasil,” kata Nao.

    “Hmm.”

    “Semua barang sampai.”

    “Hmm.”

    “Rotinya juga dapat.”

    “Dua.”

    “Jangan mulai.”

    Moa berjalan beberapa langkah.

    “Pudingnya hampir jadi sup.”

    Nao melirik tajam.

    “Tapi nggak jadi.”

    “Karena kamu nggak jadi ke taman.”

    Nao diam.

    Mereka sampai di sebuah tembok rendah di bawah pohon. Nao duduk. Moa naik ke sebelahnya dan ikut duduk, kakinya menggantung di sisi tembok.

    Nao meletakkan keranjang kosong di pangkuannya.

    “Tadinya kupikir cuma disuruh antar barang.”

    “Hmm.”

    “Ternyata repot.”

    “Hmm.”

    Nao menoleh.

    “Kamu nggak mau bilang apa-apa?”

    “Aku lapar.”

    Nao tertawa.

    “Ya sudah. Sosis.”

    Moa langsung turun dari tembok.

    “Yang dua belas ribu?”

    “Kamu hafal banget.”

    “Aku memperhatikan hal penting.”

    Nao berdiri dan membawa keranjang kosong itu bersamanya.

    Mereka berjalan kembali ke arah stasiun.

    Baru beberapa langkah, Nao berhenti.

    “Moa.”

    “Hmm?”

    “Kalau tadi aku ke taman dulu, pudingnya rusak.”

    “Hmm.”

    “Kalau aku langsung ke Oma, aku nggak dapat roti susu.”

    “Hmm.”

    Nao memandang keranjang kosongnya.

    “Kalau dari awal aku tahu—”

    “Nao.”

    “Apa?”

    “Aku lapar.”

    Nao menatapnya beberapa detik.

    Kemudian tertawa.

    “Ayo.”

    Mereka melanjutkan perjalanan.

    Di ujung jalan, aroma sosis mulai tercium. Moa mempercepat langkah.

    Nao tidak.

    Kali ini ia melihat dulu jam di ponselnya.

    Sasa masih menunggu kabar.

    THERE IS A PROCUREMENT IDEA HIDING IN THIS STORY.

    Ketika beberapa hal sama-sama penting, bagaimana kita menentukan apa yang harus dijaga lebih dulu?

    Learn: Kamu Masih Mengira Procurement Itu Cuma Belanja? →

  • The Map with No Legend

    STORIES · SEASON 1 · STORY 2

    The Map with No Legend

    Nao sudah berdiri di depan papan kayu yang sama hampir tiga menit.

    Di sana ada sebuah peta. Setidaknya, Nao rasa itu peta. Lingkaran-lingkaran kecil berwarna merah, kuning, biru, dan hijau tersebar di atas kertas, sebagian dihubungkan garis putus-putus. Di sampingnya ada simbol lonceng, daun, cangkir, dan sesuatu yang mencurigakan bentuknya seperti ayam.

    Tidak ada keterangan apa pun.

    Moa memiringkan kepala.

    “Paham?”

    “Paham.”

    “Bohong.”

    Nao menoleh.

    “Aku sedang memahami.”

    “Sudah tiga menit.”

    “Memahami itu butuh waktu.”

    Moa mengangguk.

    “Berarti belum paham.”

    Nao memutuskan untuk tidak menjawab.

    Pagi itu kampung mereka sedang mengadakan festival tahunan. Nao ikut menjadi volunteer karena Sasa bilang acaranya bakal seru.

    Sasa lupa menyebutkan satu hal kecil.

    Para volunteer sepertinya diharapkan sudah tahu apa yang harus dilakukan.

    Semua orang memakai pita berwarna di pergelangan tangan. Ada yang membawa kardus, memindahkan kursi, menggantung dekorasi, atau berjalan cepat ke sana kemari dengan keyakinan orang-orang yang tahu persis ke mana mereka harus pergi.

    Nao melihat pita kuning di tangannya.

    Seorang anak laki-laki berpita biru lewat sambil membawa tiga meja lipat.

    “Yang hijau sudah ke belakang?”

    Nao terdiam setengah detik.

    “Sudah.”

    Anak itu mengangguk dan terus berjalan.

    Moa memandang Nao.

    “Apa?”

    “Kamu nggak tahu yang hijau itu apa.”

    “Aku tahu.”

    “Apa?”

    Nao melihat anak tadi menghilang di balik tenda.

    “Something green.”

    Moa terlihat kagum.

    “Pintar.”

    Seorang perempuan membawa clipboard menghampiri.

    “Nao, ya?”

    “Iya, Kak.”

    “Tolong yang dari meja tujuh dibawa ke titik daun sebelum jam sepuluh, ya.”

    Nao tersenyum.

    “Siap.”

    Perempuan itu pergi.

    Nao mempertahankan senyumnya beberapa detik lebih lama.

    Lalu melihat ke sekeliling.

    Ada banyak meja.

    Tidak satu pun terlihat punya nomor.

    Moa menengadah.

    “Meja tujuh?”

    Nao melihat kembali peta misterius tadi. Salah satu lingkarannya memiliki gambar daun kecil.

    “Nah. Titik daun ketemu.”

    “Meja tujuh?”

    Nao tidak menjawab.

    Mereka mulai berjalan.

    Meja pertama penuh dengan kue.

    “Ini meja tujuh?” tanya Moa.

    “Bukan.”

    “Tahu dari mana?”

    “Feeling.”

    Meja kedua penuh gelas plastik.

    “Ini?”

    “Bukan.”

    “Tahu dari mana?”

    “Feeling.”

    Di bawah meja ketiga ada sebuah kardus.

    Moa berhenti.

    “Ini.”

    Nao menoleh.

    “Kenapa?”

    “Feeling.”

    Nao menatapnya.

    Moa tersenyum.

    Mereka melanjutkan pencarian.

    Baru beberapa menit kemudian Nao menemukan angka kecil yang ditempel pada salah satu kaki meja.

    7

    “Oh.”

    Di bawahnya ada dua kardus yang diikat tali kuning. Satu besar dan ringan, satu lagi kecil tetapi cukup berat.

    Nao berjongkok.

    “Nah, ini.”

    Moa melihat kedua kardus.

    “Yang mana?”

    Nao berhenti.

    Perempuan tadi hanya mengatakan yang dari meja tujuh.

    Nao melihat ke kanan dan kiri, berharap perempuan ber-clipboard itu tiba-tiba muncul kembali.

    Tidak.

    “Dua-duanya,” putus Nao.

    Moa mengangguk.

    “Strategi bagus.”

    “Kan?”

    “Kalau salah, salahnya lengkap.”

    Nao menatapnya.

    Kardus besar itu cukup merepotkan sehingga Nao harus membawanya dengan kedua tangan. Mereka mengikuti peta menuju lingkaran dengan simbol daun.

    Setengah perjalanan, seorang bapak tua muncul dari balik deretan stan.

    “Dek, titik daun sebelah mana, ya?”

    Nao melirik peta.

    “Ke arah sini, Pak.”

    “Terima kasih.”

    Bapak itu ikut berjalan.

    Nao mempercepat langkah sedikit.

    Moa berjalan di dekat kakinya, sibuk mencium rerumputan sepanjang jalan.

    Mereka melewati satu tikungan, lalu satu lagi, dan tiba di sebuah taman kecil yang dihiasi puluhan daun dari kertas warna-warni.

    Nao tersenyum.

    “Tuh.”

    Bapak tadi melihat sekeliling.

    “Ini titik daun?”

    “Iya, Pak.”

    Seorang volunteer yang sedang duduk di dekat situ mengangkat kepala.

    “Ini titik kebun.”

    Nao diam.

    Bapak itu diam.

    Moa menggaruk telinganya.

    Volunteer tadi menunjuk ke seberang lapangan.

    “Titik daun dekat panggung kecil.”

    “Oh.”

    Nao tersenyum kepada bapak tadi.

    “Sedikit lagi, Pak.”

    “Tidak apa-apa.”

    Mereka berbalik.

    Setelah bapak itu berjalan cukup jauh di depan, Moa menoleh.

    “Tuh.”

    “Diam.”

    “Kamu tadi bilang paham.”

    “Aku paham map-nya.”

    “Kita salah tempat.”

    “Map-nya kurang jelas.”

    Moa tidak menjawab.

    “Lagian kenapa ada titik kebun sama titik daun? Itu hampir sama.”

    “Hmm.”

    “Moa.”

    “Hmm?”

    “Jangan hmm terus.”

    “Oke.”

    Mereka berjalan lima langkah.

    “Hmm.”

    Nao hampir menjatuhkan kardusnya.

    Titik daun yang sebenarnya berada di samping panggung kecil.

    Nao menurunkan kedua kardus dengan lega. Seorang gadis berpita hijau langsung menghampiri.

    “Ini apa?”

    “Dari meja tujuh.”

    “Dua-duanya?”

    Kepercayaan diri Nao turun sedikit.

    “Iya?”

    Gadis itu membuka kardus besar.

    Puluhan gelas kertas memenuhi isinya.

    “Oh, ini bukan buat sini.”

    Tentu saja.

    “Ini buat titik minum.”

    Nao melihat kardus kecil.

    Gadis itu membukanya.

    Di dalamnya ada sekantong klip logam.

    “Nah, ini yang kita tunggu.”

    Nao memandang kardus besar yang tadi dibawanya hampir mengelilingi festival.

    Moa ikut memandang.

    Kali ini mereka sama-sama tidak berkomentar.

    “Gapapa,” kata gadis itu sambil tersenyum. “Titik minum dekat pintu masuk kok.”

    Nao tahu persis di mana pintu masuk.

    Sayangnya, letaknya hampir tepat di tempat ia memulai perjalanan tadi.

    Dalam perjalanan kembali, Nao membawa kardus gelas tanpa banyak bicara.

    Festival terasa berbeda sekarang. Tadi pagi, orang-orang yang berjalan cepat dengan pita warna-warni terlihat seperti anggota perkumpulan rahasia yang semuanya memahami aturan kecuali dirinya.

    Sekarang Nao mulai memperhatikan hal-hal kecil.

    Volunteer berpita merah kebanyakan berada di sekitar makanan. Yang biru sibuk memindahkan meja, kabel, dan kursi. Beberapa yang hijau berkumpul dekat permainan dan panggung kecil.

    Mungkin semua itu sebenarnya mempunyai pola.

    Nao hanya belum tahu polanya.

    “Kenapa sih semua orang tahu semuanya?” katanya akhirnya.

    Moa melihat sekeliling.

    “Mungkin mereka tanya.”

    “Nggak.”

    “Mungkin.”

    “Mereka kayaknya langsung tahu.”

    Moa berpikir sebentar.

    “Gimana caranya?”

    Nao hendak menjawab.

    Lalu urung.

    Ia juga tidak tahu.

    Di dekat pintu masuk, mereka bertemu lagi dengan perempuan ber-clipboard.

    “Kak.”

    Perempuan itu berbalik.

    “Iya?”

    Nao hampir mengatakan nggak jadi.

    Sebaliknya, ia mengangkat pergelangan tangannya.

    “Pita kuning artinya apa?”

    Perempuan itu berkedip.

    Lalu tersenyum.

    “Logistics.”

    Nao melirik Moa.

    Moa terlihat sangat puas.

    “Kalau biru?”

    “Setup. Hijau activity. Merah consumption.”

    Nao menunjuk peta.

    “Terus simbol-simbol ini?”

    “Oh! Belum ada yang jelasin?”

    Nao menggeleng.

    Perempuan itu mendekat.

    “Daun itu panggung kecil. Cangkir titik minum. Lonceng panggung utama. Ayam area makanan.”

    Nao menatap gambar ayam.

    “Itu benar-benar ayam?”

    “Iya.”

    “Kenapa?”

    Perempuan itu mengangkat bahu.

    “Pak Dedi yang bikin map.”

    Entah kenapa, jawaban itu tidak menjelaskan apa-apa.

    Sekaligus menjelaskan semuanya.

    “Ada lagi yang masih bingung?” tanyanya.

    Nao ragu sebentar.

    “Meja tujuh tadi ada dua kardus. Gimana tahu yang harus dibawa ke mana?”

    “Label-nya di bawah.”

    Nao diam.

    “Di bawah?”

    “Iya.”

    Nao perlahan melihat kardus di tangannya.

    Ia memiringkannya sedikit.

    Sebuah label putih menempel di bagian bawah.

    TITIK MINUM

    Moa mendekat untuk membaca.

    Nao segera menegakkan kardusnya kembali.

    “Oke.”

    “Ada lagi?”

    Kali ini Nao berpikir lebih lama.

    Lalu mengeluarkan ponsel.

    “Actually… ada.”

    Lima menit kemudian, Nao sudah punya foto peta, catatan arti setiap simbol, fungsi keempat warna pita, dan nama tiga orang yang bisa ditanya kalau ia bingung lagi.

    Perempuan itu pergi.

    Nao melihat catatannya.

    Moa ikut melihat.

    “Kamu nanya banyak.”

    “I know.”

    “Malu?”

    “Sedikit.”

    “Lebih malu daripada bawa gelas keliling festival?”

    Nao menoleh.

    “Nggak.”

    “Bagus.”

    Menjelang siang, Nao sudah tahu bahwa lonceng berarti panggung utama. Ia tahu daun bukan taman. Ia tahu pita kuning mengurus logistics, dan ia tahu bahwa untuk alasan yang tidak diketahui siapa pun, label kardus ditempel di bagian bawah.

    Festivalnya sendiri tidak menjadi lebih sederhana. Orang masih mondar-mandir, suara dari panggung bercampur dengan orang berjualan, dan sesekali seseorang masih meneriakkan sesuatu yang sama sekali tidak dipahami Nao.

    Tetapi sekarang ia tahu siapa yang bisa ditanya.

    Seorang anak laki-laki berpita biru berlari menghampirinya.

    “Nao, tahu kabel extension cadangan di mana?”

    Nao hampir langsung menjawab.

    Lalu berhenti.

    “Nggak tahu.”

    Anak itu menunggu.

    “Tapi Kak Mira mungkin tahu. Atau kita cek meja penyimpanan.”

    “Oh. Oke.”

    Mereka pergi bersama.

    Sore harinya, Nao duduk di bawah pohon sambil makan sepotong kue. Festival masih ramai di depannya. Pita-pita berwarna bergerak di antara stan, sebuah lonceng berbunyi entah untuk apa, dan dari arah panggung terdengar suara mikrofon mendecit keras.

    Moa duduk di sebelahnya dengan sesuatu di mulut.

    Nao menoleh.

    “Kamu dapat dari mana?”

    Moa mengunyah lebih cepat.

    “Moa.”

    Ia menelan.

    “Titik makanan.”

    “Kamu sudah tahu tempatnya?”

    “Ayam.”

    Nao tertawa.

    Ia membuka catatan di ponselnya. Peta yang tadi pagi terlihat seperti teka-teki sekarang penuh coretan kecil yang hanya dimengerti olehnya.

    Nao menatap festival sekali lagi.

    Masih banyak yang belum ia tahu.

    Anehnya, sekarang itu tidak terlalu mengganggunya.

    “Moa.”

    “Hmm?”

    “Besok aku bawa pulpen.”

    Moa mengangguk serius.

    “Bawa dua.”

    “Kenapa?”

    “Aku mungkin butuh.”

    “Kamu nggak bisa nulis.”

    Moa menatap Nao.

    “Itu nggak perlu diomongin.”

    THERE IS A PROCUREMENT IDEA HIDING IN THIS STORY.

    Hari pertama sebagai Buyer juga sering terasa seperti menerima sebuah peta tanpa legend. Apa yang sebenarnya perlu dipelajari lebih dulu?

    Learn: Hari Pertama Jadi Buyer — Sebenarnya Aku Harus Ngapain? →

  • The Things Mr. Bram Keeps

    STORIES · SEASON 1 · STORY 3

    The Things Mr. Bram Keeps

    Pak Bram menyimpan banyak barang yang menurut orang lain tidak berguna.

    Kancing yang tinggal satu. Potongan pita yang terlalu pendek untuk membungkus hadiah. Kardus kecil bekas teh. Dua buah roda koper. Sebuah gagang payung tanpa payungnya.

    Semua tersusun di rak-rak tinggi di belakang tokonya, bercampur dengan barang dagangan, perkakas, kaleng biskuit, dan kotak-kotak yang tulisannya sudah memudar.

    Menurut Mama, toko Pak Bram berantakan.

    Menurut Nao, toko itu ajaib.

    Karena entah bagaimana, setiap kali Nao membutuhkan sesuatu, Pak Bram selalu punya.

    Pertama kali Nao menyadarinya adalah ketika kancing jaket kesayangannya lepas. Warnanya aneh—hijau pucat, hampir abu-abu—dan Nao sudah mendatangi dua toko tanpa menemukan yang cocok.

    Pak Bram melihat jaketnya sebentar.

    “Coba tunggu.”

    Ia menghilang ke belakang toko. Terdengar suara kotak digeser, sesuatu jatuh, lalu suara Pak Bram berkata, “Bukan kamu.”

    Nao tidak pernah tahu kepada siapa kalimat itu ditujukan.

    Beberapa menit kemudian, Pak Bram kembali membawa sebuah kaleng biskuit tua. Di dalamnya ada puluhan kancing. Ia mengaduknya dengan satu jari, mengambil sebuah kancing kecil, lalu meletakkannya di atas meja.

    Hijau pucat.

    Hampir abu-abu.

    Nao membandingkannya dengan jaket.

    Persis.

    “Berapa, Pak?”

    Pak Bram mengibaskan tangan. “Satu kancing doang.”

    “Tapi—”

    “Sudah. Bawa.”

    Sejak hari itu, Nao mulai percaya bahwa Pak Bram bisa menemukan apa saja.

    Kepercayaan itu tumbuh dari hal-hal kecil.

    Ketika Nao membutuhkan kardus untuk mengirim hadiah ulang tahun Sasa, Pak Bram punya satu dengan ukuran yang pas. Ketika hujan turun tiba-tiba dan Nao tidak membawa payung, Pak Bram meminjamkan payung toko. Ketika Mama membutuhkan baterai untuk jam dinding pada malam hari, toko Pak Bram sebenarnya sudah tutup, tapi lampu belakang masih menyala dan Pak Bram membukakan pintu sambil mengomel bahwa orang-orang baru ingat baterai setelah toko tutup.

    Suatu kali Nao bahkan datang hanya untuk bertanya apakah ia punya toples kaca kecil.

    Pak Bram membungkuk ke bawah meja, lalu mengeluarkan sebuah toples.

    Nao menatapnya. “Bapak memang sudah tahu aku bakal cari toples?”

    “Nggak.”

    “Terus kenapa ada di situ?”

    “Karena belum dibuang.”

    Itu jawaban khas Pak Bram.

    Moa menyukai toko Pak Bram karena alasan yang berbeda.

    Di bawah meja kasir ada kaleng kecil berisi biskuit anjing. Pak Bram tidak pernah mengaku membelinya khusus untuk Moa, tetapi kaleng itu selalu terisi.

    Sore itu, Moa sudah duduk di depan meja sebelum Nao selesai membuka pintu.

    Pak Bram mengambil satu biskuit. “Cuma satu.”

    Moa menerimanya.

    Pak Bram mengambil satu lagi. “Ini bukan berarti dua.”

    Moa menerima yang kedua.

    Nao meletakkan dagunya di atas meja. “Pak.”

    “Hmm?”

    “Itu dua.”

    Pak Bram menutup kaleng.

    “Matematika toko beda.”

    Moa mengunyah dengan wajah puas.

    Beberapa minggu kemudian, Nao membutuhkan sebuah lampu meja. Bukan sesuatu yang istimewa. Ia hanya ingin lampu kecil untuk meja belajarnya karena lampu kamar terlalu terang kalau dinyalakan malam-malam.

    Pak Bram punya tiga.

    Yang pertama putih dan bentuknya sederhana. Yang kedua hitam, lebih besar, dengan leher yang bisa ditekuk. Yang ketiga berwarna hijau tua dengan kap bulat yang membuatnya terlihat seperti lampu perpustakaan dalam film lama.

    Nao langsung menunjuk yang hijau.

    “Ini bagus.”

    “Bagus,” kata Pak Bram.

    “Berapa?”

    Pak Bram menyebutkan harga.

    Nao berhenti. Ia sudah melihat lampu serupa di toko dekat sekolah, dan harganya lebih murah. Cukup jauh lebih murah.

    “Yang ini memang lebih mahal ya, Pak?”

    Pak Bram mengangkat bahu. “Barang bagus.”

    Nao mengangguk. Mungkin memang begitu. Pak Bram selama ini selalu membantunya; ia tidak mungkin sengaja memberi harga yang tidak masuk akal.

    Nao membeli lampu itu.

    Lampunya memang bagus.

    Setidaknya selama empat hari pertama.

    Pada malam kelima, lampu berkedip dua kali. Nao mengetuk kapnya dan lampu kembali normal. Malam keenam, berkedip tiga kali. Malam ketujuh, lampu mati.

    Nao menekan tombol beberapa kali, lalu mengganti bohlam. Tetap gelap.

    Moa yang sedang berbaring di karpet mengangkat kepala.

    “Sudah mati?”

    “Belum.”

    Nao menekan tombol sekali lagi.

    “Kelihatannya mati.”

    “Maybe bulb-nya.”

    Nao sudah menggantinya.

    Moa menunggu.

    Nao menatap lampu hijau yang sangat cantik itu.

    “Mati.”

    Keesokan harinya Nao membawa lampu kembali ke toko. Pak Bram mencolokkannya ke stopkontak, membalik lampu, membuka bagian bawahnya, lalu menghela napas.

    “Kabel dalamnya.”

    “Bisa diperbaiki?”

    “Bisa. Nanti sore ambil.”

    Nao masih berdiri di depan meja ketika Pak Bram mulai membuka dua sekrup kecil.

    “Pak, lampu ini baru seminggu.”

    “Iya.”

    “Kok sudah rusak?”

    Tangan Pak Bram berhenti sebentar.

    “Barang lama,” katanya.

    Nao mengerutkan kening. “Barang lama?”

    “Stok lama.”

    “Seberapa lama?”

    Pak Bram melihat lampu itu, lalu Nao.

    “Lumayan.”

    Nao menunggu.

    Pak Bram kembali melihat lampu.

    “Sudah lama.”

    Nao berjalan pulang tanpa lampu. Untuk pertama kalinya, toko Pak Bram terasa sedikit berbeda ketika ia meninggalkannya. Tidak buruk, tidak juga menakutkan—hanya berbeda, seperti melihat sebuah gambar dari jauh lalu mendekat dan menemukan garis-garis kecil yang sebelumnya tidak terlihat.

    Moa berjalan di sampingnya cukup lama tanpa bicara. Nao yang akhirnya membuka suara.

    “Pak Bram baik. Dia sering bantu kita. Lampunya juga akan diperbaiki gratis.”

    “Iya.”

    Nao menendang kerikil kecil di jalan. “Terus kenapa rasanya aneh?”

    Moa memperhatikan kerikil itu memantul ke selokan.

    “Nggak tahu.”

    Nao menoleh. Biasanya Moa punya jawaban untuk segala sesuatu, bahkan ketika tidak ditanya.

    Kali ini tidak.

    Dan entah kenapa, itu membuat pikirannya semakin ramai.

    Sore harinya lampu sudah menyala kembali. Pak Bram bahkan mengganti kabelnya dengan yang baru.

    “Coba.”

    Nao menekan tombol dan cahaya kuning memenuhi kap hijau.

    “Sudah.”

    “Thank you, Pak.”

    Nao memasukkan tangan ke tas untuk mengambil dompet, tetapi Pak Bram mengibaskan tangan.

    “Nggak usah. Garansi Pak Bram.”

    Biasanya kalimat seperti itu akan membuat Nao ikut tersenyum lebar. Kali ini ia tetap tersenyum, hanya saja ada sebuah pertanyaan yang belum pergi.

    “Pak, kalau aku mau beli lampu satu lagi… Bapak masih saranin yang ini?”

    Pak Bram berhenti merapikan obeng.

    Pertanyaan itu tampaknya sederhana.

    Tapi untuk pertama kalinya sejak Nao mengenalnya, Pak Bram membutuhkan waktu untuk menjawab.

    “Buat kamu?”

    “Iya.”

    Pak Bram melihat lampu hijau, lalu dua lampu lain di rak. Akhirnya ia menunjuk lampu putih yang tadi tidak dipilih Nao.

    “Yang itu.”

    “Kenapa?”

    “Lebih baru.”

    Nao mengangguk perlahan.

    “Oke.”

    Ia tidak membeli lampu kedua. Ia hanya membawa lampu hijaunya pulang.

    Beberapa hari kemudian, Nao melewati toko dekat sekolah. Di etalase masih ada lampu yang dulu pernah dilihatnya.

    Ia masuk, bukan untuk membeli. Hanya melihat.

    Penjaga toko menunjukkan beberapa model. Ada yang lebih murah daripada lampu Pak Bram, ada yang lebih mahal. Ada yang garansinya enam bulan, ada yang setahun.

    Nao bertanya tentang kabel, bohlam, garansi, bahkan stok lama. Penjaga toko sempat terlihat heran ketika Nao menanyakan tahun produksi sebuah lampu meja. Nao sendiri merasa pertanyaannya agak berlebihan, tetapi ia tetap bertanya.

    Ketika keluar, ia tidak membawa apa-apa.

    Anehnya, ia merasa cukup puas.

    Seminggu kemudian Nao kembali ke toko Pak Bram.

    Bukan karena membutuhkan sesuatu.

    Moa yang membutuhkan biskuit.

    Setidaknya begitu menurut Moa.

    Pak Bram sedang duduk di belakang meja sambil memperbaiki sebuah jam tua.

    “Lampunya gimana?”

    “Masih hidup.”

    “Bagus.”

    Pak Bram membuka kaleng biskuit. Moa segera mendekat.

    “Satu,” kata Pak Bram.

    Moa menerima satu.

    Pak Bram mengambil satu lagi.

    Nao mengangkat alis.

    Pak Bram berhenti.

    Mereka saling memandang.

    “Matematika toko?” tanya Nao.

    Pak Bram tertawa. “Matematika toko.”

    Biskuit kedua diberikan.

    Nao ikut tertawa.

    Tidak ada yang berubah.

    Dan ternyata, ada sesuatu yang berubah.

    Beberapa bulan kemudian, ketika Nao membutuhkan kabel charger, ia kembali ke toko Pak Bram. Pak Bram punya, tentu saja. Ia mengambil sebuah kotak dari rak dan meletakkannya di atas meja.

    “Yang ini bagus.”

    Nao mengambil kotaknya. Ia membaca mereknya, membalik kemasan, melihat panjang kabel, lalu melihat harganya.

    Pak Bram menunggu.

    Nao mengeluarkan ponsel.

    “Ngapain?” tanyanya.

    “Cek sebentar.”

    Pak Bram tidak terlihat tersinggung. Ia hanya kembali memperbaiki jam.

    Beberapa detik kemudian Nao memasukkan ponselnya ke tas.

    “Oke.”

    “Jadi?”

    “Beli.”

    Pak Bram memasukkan kabel itu ke kantong, lalu menambahkan satu biskuit kecil.

    “Ini buat Moa.”

    Moa langsung mengambilnya.

    Nao tersenyum. “Cuma satu?”

    Pak Bram melihat Moa, kemudian Nao. Ia mengambil satu lagi.

    “Jangan ikut campur urusan toko.”

    Dalam perjalanan pulang, Moa sibuk mengunyah sementara Nao membawa kantong kecil berisi kabel.

    “Jadi kamu masih percaya Pak Bram?” tanya Moa.

    Nao berpikir sebentar.

    “Iya.”

    “Terus kenapa tadi dicek?”

    Nao menatapnya.

    “Karena aku percaya Pak Bram.”

    Moa berhenti mengunyah.

    Nao sudah berjalan beberapa langkah ketika menyadari Moa tidak mengikutinya.

    “Apa?”

    Moa menyusul.

    “Nggak apa-apa.”

    “Kok mukamu begitu?”

    “Aku lagi memahami.”

    Nao tertawa.

    “Sudah berapa menit?”

    Moa menatapnya.

    Nao masih tertawa ketika mereka sampai di ujung jalan.

    THERE IS A PROCUREMENT IDEA HIDING IN THIS STORY.

    Bisakah kita mempercayai seseorang dan tetap memeriksa keputusan bisnis yang melibatkan dirinya?

    Learn: Supplier Itu Partner, Teman, atau Lawan? →