STORIES · SEASON 1 · STORY 4

The Red Umbrella

Hujan mulai turun pukul 3.17 sore. Tidak deras, hanya cukup untuk membuat semua orang di halte melihat ke langit pada saat yang sama.

Nao tidak. Ia sedang melihat payung merahnya.

Payung itu baru tiga hari menjadi miliknya dan, menurut Nao, merupakan salah satu pembelian terbaik bulan itu. Warnanya merah tua, gagangnya melengkung seperti payung di film-film lama, dan ketika dibuka bentuknya sedikit lebih lebar daripada payung biasa. Yang paling menyenangkan, harganya bahkan tidak sampai setengah dari payung yang hampir dibelinya di toko sebelah.

Moa melihat payung itu ketika Nao pertama kali membawanya pulang. Ia mengelilinginya sebentar, lalu mendongak.

“Bagus. Merah.”

“Itu observasi, bukan pujian.”

Moa melihat payung itu sekali lagi. “Merahnya bagus.”

Nao memutuskan untuk menerima itu sebagai pujian.

Sore itu Nao baru pulang dari tempat les ketika hujan mulai membesar. Orang-orang yang tadi santai di halte mulai bergeser ke bagian dalam, sementara beberapa pengendara motor berhenti untuk mengenakan jas hujan.

Nao membuka payung merahnya.

Pop.

Payung itu mengembang sempurna.

Seorang perempuan di sebelahnya bahkan sempat melihat ke arah payung itu sebelum membuka payung hitam miliknya sendiri. Nao tidak yakin perempuan itu benar-benar mengagumi payungnya, tetapi memutuskan bahwa kemungkinan tersebut cukup besar.

Nao melangkah keluar dari halte.

Hujan menyambutnya.

Payung merah bekerja dengan sangat baik.

Selama kira-kira empat puluh meter.

Masalah pertama datang dari angin.

Sebuah hembusan tiba-tiba menyusuri jalan, menerbangkan daun-daun kecil dan membuat spanduk warung berkibar keras. Nao merasakan gagang payungnya tertarik ke belakang.

Ia menggenggam lebih kuat.

“Okay.”

Payungnya bergetar.

“Okay.”

Angin datang lagi.

WHUP.

Payung merah itu terbalik.

Nao berhenti di trotoar dengan gagang masih di tangan dan bagian dalam payung menghadap langit.

Seorang anak kecil di bawah jas hujan kuning melihatnya.

Nao melihat anak itu.

Anak itu melihat payung.

Nao menarik gagangnya keras-keras sampai payung kembali ke bentuk semula.

Anak itu tersenyum.

Nao melanjutkan perjalanan.

Moa menunggu di rumah ketika Nao tiba dengan satu bahu basah.

Ia duduk di dekat pintu sambil mengamati Nao menutup payung.

“Bagus,” katanya.

Nao menatapnya.

Moa memperhatikan satu batang payung yang sekarang sedikit bengkok.

“Merah.”

“Moa.”

“Aku cuma observasi.”

Nao menggantung payung di teras.

Besok tidak akan hujan sekeras itu, pikirnya.

Besoknya hujan justru lebih deras.

Nao membawa payung merah lagi.

Batang yang sedikit bengkok masih berfungsi. Payung masih terbuka dengan baik dan warnanya tetap cantik, hanya saja Nao sekarang memegangnya dengan dua tangan setiap kali angin bertiup.

Ia mulai menemukan teknik.

Kalau angin datang dari depan, payung harus sedikit dimiringkan. Kalau dari samping, tubuh ikut diputar. Kalau anginnya berubah arah terlalu cepat, tidak ada teknik—hanya doa dan refleks.

Nao cukup bangga dengan kemampuan barunya.

Sampai hujan mulai menetes dari atas kepalanya.

Ia mendongak.

Ada setitik air di bagian dalam payung.

Lalu satu lagi.

Nao menyentuh kainnya.

Air merembes melalui jahitan kecil dekat salah satu tulang payung.

“Seriously?”

Hujan tidak menjawab.

Nao tiba di sebuah minimarket dan berdiri di bawah kanopinya bersama beberapa orang lain. Ia mengibaskan air dari lengan jaket, lalu memeriksa payung merah itu.

Jahitannya terlihat tipis. Salah satu sambungan tulang payung mulai longgar, dan batang yang kemarin bengkok ternyata lebih bengkok daripada yang ia kira. Tidak ada satu pun kerusakan yang terlihat besar.

Kalau payung itu berada di rak toko, Nao mungkin masih akan memilihnya.

Seorang ibu di sampingnya sedang menutup payung biru tua yang terlihat jauh lebih membosankan. Payung itu basah kuyup di bagian luar, tetapi bagian dalamnya kering.

Nao memperhatikannya sedikit terlalu lama.

Ibu itu menoleh.

Nao pura-pura melihat hujan.

Ketika hujan sedikit reda, Nao melanjutkan perjalanan. Ia baru berjalan beberapa menit ketika melihat seseorang yang dikenalnya berdiri di depan toko buah.

Sasa.

Sasa memegang dua kantong belanja dan tidak membawa payung.

“Nao!”

Nao menghampiri.

“Kamu nggak bawa payung?”

“Tadi nggak hujan.”

Nao melihat dua kantong di tangannya.

“Rumah?”

“Iya.”

“Ayo.”

Sasa masuk ke bawah payung merah.

Barulah Nao menemukan masalah berikutnya.

Payung itu memang terlihat besar ketika hanya dipakai satu orang. Untuk dua orang, ukurannya berubah secara misterius menjadi sangat kecil.

“Geser dikit,” kata Sasa.

“Aku sudah.”

“Bahuku kena.”

“Bahuku juga.”

Mereka berjalan berdempetan. Nao memiringkan payung ke arah Sasa, lalu air membasahi lengannya sendiri. Ketika ia menggesernya kembali, Sasa yang terkena.

“Kamu beli payung buat setengah orang?”

“Ini payung normal.”

Sasa melihat payung.

Lalu Nao.

“Normal yang mana?”

Nao tidak menjawab.

Mereka berhasil berjalan hampir dua blok sebelum angin datang lagi.

Nao sudah mengenali tanda-tandanya: daun bergerak, air hujan berubah arah, lalu gagang payung mulai menarik tangannya.

“Oh no.”

“Apa?”

“Pegang belanjaannya.”

“Aku sudah pegang.”

“Pegang lebih serius.”

“Nao—”

WHUP.

Payung merah terbalik.

Sasa menjerit.

Nao tertawa.

Entah kenapa, setelah dua hari berusaha mempertahankan martabat payung itu, melihatnya terbalik di depan Sasa justru terasa sangat lucu.

Mereka berdiri di tengah hujan, satu memegang dua kantong belanja dan satu lagi bergulat dengan sesuatu yang sekarang lebih mirip parabola merah.

“Nao!”

“Aku tahu!”

“Payungmu!”

“Aku tahu!”

Mereka berlari ke bawah atap sebuah warung sambil tertawa.

Malam itu payung merah terbuka di lantai ruang tamu.

Moa mengelilinginya.

Satu batang bengkok.

Satu sambungan longgar.

Ada rembesan di jahitan.

Nao duduk bersila sambil melihat hasil pemeriksaannya.

Moa memasukkan kepala ke bawah payung.

“Masih merah.”

“Thank you.”

“Merahnya masih bagus.”

“Very helpful.”

Moa keluar dari bawahnya.

“Mau beli lagi?”

“Nggak.”

“Kenapa?”

Nao menunjuk kerusakannya satu per satu.

“Karena ternyata aku butuh payung yang nggak cuma bagus waktu nggak hujan.”

Moa berpikir sebentar.

“Itu memang requirement yang cukup penting buat payung.”

Nao melempar bantal kecil ke arahnya.

Hari Sabtu, Nao pergi mencari payung baru.

Kali ini ia tidak mulai dari warna.

Ia membuka beberapa payung dan menggoyangkannya sedikit. Ia memperhatikan sambungan tulangnya, meraba ketebalan kain, mencoba mekanisme buka-tutup, dan bertanya apakah ada model yang lebih tahan angin.

Penjual menunjukkan dua pilihan.

Salah satunya cantik.

Yang lain abu-abu gelap.

Nao membuka yang abu-abu.

Lebih berat.

Tulangnya lebih tebal.

Gagangnya tidak secantik payung merah.

Harganya juga hampir dua kali lipat.

Nao memutarnya sebentar.

“Kalau dipakai dua orang?”

Penjual membuka payung itu penuh.

“Bisa, Kak. Ini lebih lebar.”

Nao berdiri di bawahnya.

Cukup luas.

“Yang ini.”

Moa memeriksa payung baru itu sore harinya. Ia berjalan mengelilinginya sekali, lalu melihat Nao.

“Abu-abu. Nggak cantik. Lebih mahal juga.”

“Iya.”

“Terus kenapa beli?”

Nao menutup payung. “Karena aku beli payung, Moa. Bukan beli warna.”

Moa terlihat seperti hendak mengatakan sesuatu, lalu mengurungkan niatnya.

Keputusan yang sangat bijaksana.

Hujan datang lagi beberapa hari kemudian.

Kali ini Nao sedang berjalan bersama Sasa ketika titik-titik air mulai jatuh. Ia membuka payung abu-abunya dan mereka masuk ke bawahnya tanpa perlu saling mendorong.

Angin bertiup cukup keras di persimpangan.

Nao otomatis menggenggam gagang dengan dua tangan.

Payung bergoyang.

Tetapi tidak terbalik.

Mereka terus berjalan.

Di depan sebuah toko, Nao melihat payung merah tergantung di rak. Warnanya bahkan lebih bagus daripada miliknya dulu—merah tua, gagang melengkung, bentuknya cantik.

Sasa mengikuti pandangannya.

“Bagus.”

“Iya.”

“Mau?”

Nao melihat payung abu-abu di atas kepala mereka. Air mengalir rapi dari pinggirannya, sementara kedua bahu mereka tetap kering.

“Nggak.”

“Kenapa?”

Nao tersenyum.

“Aku sudah punya payung.”

Payung merah yang lama tidak dibuang.

Nao menyimpannya di dalam keranjang dekat pintu bersama beberapa barang yang jarang dipakai. Kadang-kadang warna merahnya masih terlihat dari sela-sela tas belanja dan jas hujan.

Suatu sore Moa menemukan payung itu.

Ia menariknya keluar dan membukanya di ruang tamu.

Nao melihat dari sofa.

“Mau ngapain?”

Moa duduk di bawahnya.

“Nggak hujan.”

“I know.”

Moa merebahkan diri, memutar badan dua kali, lalu menemukan posisi yang nyaman.

Nao memperhatikannya.

“Jadi?”

Moa menutup mata.

“Bagus kalau nggak hujan.”

Nao tertawa.

Akhirnya, payung merah itu menemukan pekerjaannya.

RELATED IDEAS

· Harga Termurah Belum Tentu Pilihan Terbaik

· Hari Pertama Jadi Buyer

Bagikan cerita ini
Salin link · Bagikan

Procurement is more than buying.