STORIES

Some things make more sense as a story.

Nggak ada supplier. Nggak ada PO.

Cuma Nao, Moa, dan kehidupan yang kadang ternyata sama rumitnya.


SEASON 1 · 6 STORIES

Small situations. Bigger questions.

Keranjang, festival, toko tua, payung merah.

Tidak ada yang kelihatannya berhubungan dengan Procurement.

STORY 01

Nao cuma perlu mengantar satu keranjang ke rumah Oma.

Lalu roti habis, waktu berjalan, ada janji lain, dan sesuatu yang tadinya sederhana mulai punya terlalu banyak kepentingan.

Read the story →

STORY 02

Semua volunteer terlihat tahu apa yang harus dilakukan.

Nao punya pita kuning, sebuah peta tanpa keterangan, dan keyakinan yang mulai terasa sedikit terlalu optimistis.

Read the story →

STORY 03

Pak Bram menyimpan kancing, pita, roda koper, kardus lama, dan terlalu banyak benda yang menurut orang lain sudah tidak berguna.

Nao selalu menganggap tokonya ajaib. Sampai suatu hari dia melihat sesuatu yang membuat kepercayaan terasa sedikit lebih rumit.

Read the story →

STORY 04

The Red Umbrella

Payung merah itu cantik, murah, dan menurut Nao salah satu pembelian terbaik bulan itu.

Setidaknya selama empat puluh meter pertama.

Read the story →

STORY 05

The Cheapest Basket

Keranjangnya bagus.

Harganya bahkan jauh lebih murah. Masalahnya baru terlihat ketika Nao berhenti melihat harga dan mulai memikirkan apa yang sebenarnya dia butuhkan.

Read the story →

STORY 06

Everyone Knows Nao Will Fix It

Awalnya cuma satu kotak yang dititipkan.

Lalu semua orang mulai tahu bahwa kalau ada sesuatu yang perlu dibereskan, Nao biasanya akan membantu.

Sampai rumahnya sendiri perlahan menjadi pusat urusan semua orang.

Read the story →


At first, Nao mostly has to figure out what to do.

Later, the questions become harder.

What if you made the mistake?

What if everyone remembers the same event differently?

What if there isn’t one obviously right answer?


The answers get less obvious.

Kesalahan, janji, fakta, tanggung jawab, kebiasaan, dan keputusan yang mungkin tidak pernah memberi tahu apakah kita benar.

STORY 01

The Missing Name

Satu booklet. Satu nama yang hilang.

Masalahnya kecil, acaranya tetap berjalan, dan mungkin tidak akan ada yang sadar—kecuali Nao.

Read the story →

STORY 02

The Little Red Chair

Sebuah kursi kecil. Sebuah janji yang terdengar sederhana.

Lalu keadaan berubah, sementara seseorang masih mengingat persis apa yang pernah dikatakan.

Read the story →

STORY 03

The Rehearsal Recording

Nao punya video.

Rekaman itu membantu menjelaskan apa yang terjadi. Ternyata itu tidak otomatis menjelaskan kenapa semuanya terjadi.

Read the story →

STORY 04

The Cracked Violin Case

Nao menyandarkan violin case-nya sebentar.

Lalu terdengar suara brak, dan dalam beberapa menit satu retakan kecil berubah menjadi seluruh daftar kemungkinan buruk di kepalanya.

Read the story →

STORY 05

The Door Patrol

Nao sangat pandai menghentikan Moa menggonggong.

Masalahnya, dia harus melakukannya lagi. Dan lagi. Dan lagi.

Read the story →

STORY 06

The Evening She Kept

Nao sengaja mengosongkan Rabu malamnya.

Kemudian dua kesempatan datang. Dia memilih salah satunya—dan tidak pernah benar-benar mendapat bukti bahwa pilihannya benar.

Read the story →

STORY 07

The Better Bowl

Moa mulai menolak makanannya.

Nao memperbaiki masalah itu dengan ayam. Lalu telur. Lalu sesuatu yang sedikit lebih enak lagi.

Sampai dia menyadari siapa yang sebenarnya sedang mengajari siapa.

Read the story →

STORY 08

The Guest Room

Semua orang menyebutnya guest room.

Ayah menggunakannya untuk bekerja. Auntie mulai menginap di sana. Tidak ada satu momen besar ketika kepemilikannya berubah.

Tapi perlahan, cara semua orang menggunakan ruangan itu ikut berubah.

Read the story →


Something felt familiar?

Stories tidak menjelaskan Procurement.

Learn does.

Kalau kamu ingin membongkar ide yang bersembunyi di balik cerita-cerita ini, kembali ke dunia Buyer, supplier, PO, delivery, keputusan, dan segala kekacauannya.