STORIES · SEASON 1 · STORY 3

The Things Mr. Bram Keeps

Pak Bram menyimpan banyak barang yang menurut orang lain tidak berguna.

Kancing yang tinggal satu. Potongan pita yang terlalu pendek untuk membungkus hadiah. Kardus kecil bekas teh. Dua buah roda koper. Sebuah gagang payung tanpa payungnya.

Semua tersusun di rak-rak tinggi di belakang tokonya, bercampur dengan barang dagangan, perkakas, kaleng biskuit, dan kotak-kotak yang tulisannya sudah memudar.

Menurut Mama, toko Pak Bram berantakan.

Menurut Nao, toko itu ajaib.

Karena entah bagaimana, setiap kali Nao membutuhkan sesuatu, Pak Bram selalu punya.

Pertama kali Nao menyadarinya adalah ketika kancing jaket kesayangannya lepas. Warnanya aneh—hijau pucat, hampir abu-abu—dan Nao sudah mendatangi dua toko tanpa menemukan yang cocok.

Pak Bram melihat jaketnya sebentar.

“Coba tunggu.”

Ia menghilang ke belakang toko. Terdengar suara kotak digeser, sesuatu jatuh, lalu suara Pak Bram berkata, “Bukan kamu.”

Nao tidak pernah tahu kepada siapa kalimat itu ditujukan.

Beberapa menit kemudian, Pak Bram kembali membawa sebuah kaleng biskuit tua. Di dalamnya ada puluhan kancing. Ia mengaduknya dengan satu jari, mengambil sebuah kancing kecil, lalu meletakkannya di atas meja.

Hijau pucat.

Hampir abu-abu.

Nao membandingkannya dengan jaket.

Persis.

“Berapa, Pak?”

Pak Bram mengibaskan tangan. “Satu kancing doang.”

“Tapi—”

“Sudah. Bawa.”

Sejak hari itu, Nao mulai percaya bahwa Pak Bram bisa menemukan apa saja.

Kepercayaan itu tumbuh dari hal-hal kecil.

Ketika Nao membutuhkan kardus untuk mengirim hadiah ulang tahun Sasa, Pak Bram punya satu dengan ukuran yang pas. Ketika hujan turun tiba-tiba dan Nao tidak membawa payung, Pak Bram meminjamkan payung toko. Ketika Mama membutuhkan baterai untuk jam dinding pada malam hari, toko Pak Bram sebenarnya sudah tutup, tapi lampu belakang masih menyala dan Pak Bram membukakan pintu sambil mengomel bahwa orang-orang baru ingat baterai setelah toko tutup.

Suatu kali Nao bahkan datang hanya untuk bertanya apakah ia punya toples kaca kecil.

Pak Bram membungkuk ke bawah meja, lalu mengeluarkan sebuah toples.

Nao menatapnya. “Bapak memang sudah tahu aku bakal cari toples?”

“Nggak.”

“Terus kenapa ada di situ?”

“Karena belum dibuang.”

Itu jawaban khas Pak Bram.

Moa menyukai toko Pak Bram karena alasan yang berbeda.

Di bawah meja kasir ada kaleng kecil berisi biskuit anjing. Pak Bram tidak pernah mengaku membelinya khusus untuk Moa, tetapi kaleng itu selalu terisi.

Sore itu, Moa sudah duduk di depan meja sebelum Nao selesai membuka pintu.

Pak Bram mengambil satu biskuit. “Cuma satu.”

Moa menerimanya.

Pak Bram mengambil satu lagi. “Ini bukan berarti dua.”

Moa menerima yang kedua.

Nao meletakkan dagunya di atas meja. “Pak.”

“Hmm?”

“Itu dua.”

Pak Bram menutup kaleng.

“Matematika toko beda.”

Moa mengunyah dengan wajah puas.

Beberapa minggu kemudian, Nao membutuhkan sebuah lampu meja. Bukan sesuatu yang istimewa. Ia hanya ingin lampu kecil untuk meja belajarnya karena lampu kamar terlalu terang kalau dinyalakan malam-malam.

Pak Bram punya tiga.

Yang pertama putih dan bentuknya sederhana. Yang kedua hitam, lebih besar, dengan leher yang bisa ditekuk. Yang ketiga berwarna hijau tua dengan kap bulat yang membuatnya terlihat seperti lampu perpustakaan dalam film lama.

Nao langsung menunjuk yang hijau.

“Ini bagus.”

“Bagus,” kata Pak Bram.

“Berapa?”

Pak Bram menyebutkan harga.

Nao berhenti. Ia sudah melihat lampu serupa di toko dekat sekolah, dan harganya lebih murah. Cukup jauh lebih murah.

“Yang ini memang lebih mahal ya, Pak?”

Pak Bram mengangkat bahu. “Barang bagus.”

Nao mengangguk. Mungkin memang begitu. Pak Bram selama ini selalu membantunya; ia tidak mungkin sengaja memberi harga yang tidak masuk akal.

Nao membeli lampu itu.

Lampunya memang bagus.

Setidaknya selama empat hari pertama.

Pada malam kelima, lampu berkedip dua kali. Nao mengetuk kapnya dan lampu kembali normal. Malam keenam, berkedip tiga kali. Malam ketujuh, lampu mati.

Nao menekan tombol beberapa kali, lalu mengganti bohlam. Tetap gelap.

Moa yang sedang berbaring di karpet mengangkat kepala.

“Sudah mati?”

“Belum.”

Nao menekan tombol sekali lagi.

“Kelihatannya mati.”

“Maybe bulb-nya.”

Nao sudah menggantinya.

Moa menunggu.

Nao menatap lampu hijau yang sangat cantik itu.

“Mati.”

Keesokan harinya Nao membawa lampu kembali ke toko. Pak Bram mencolokkannya ke stopkontak, membalik lampu, membuka bagian bawahnya, lalu menghela napas.

“Kabel dalamnya.”

“Bisa diperbaiki?”

“Bisa. Nanti sore ambil.”

Nao masih berdiri di depan meja ketika Pak Bram mulai membuka dua sekrup kecil.

“Pak, lampu ini baru seminggu.”

“Iya.”

“Kok sudah rusak?”

Tangan Pak Bram berhenti sebentar.

“Barang lama,” katanya.

Nao mengerutkan kening. “Barang lama?”

“Stok lama.”

“Seberapa lama?”

Pak Bram melihat lampu itu, lalu Nao.

“Lumayan.”

Nao menunggu.

Pak Bram kembali melihat lampu.

“Sudah lama.”

Nao berjalan pulang tanpa lampu. Untuk pertama kalinya, toko Pak Bram terasa sedikit berbeda ketika ia meninggalkannya. Tidak buruk, tidak juga menakutkan—hanya berbeda, seperti melihat sebuah gambar dari jauh lalu mendekat dan menemukan garis-garis kecil yang sebelumnya tidak terlihat.

Moa berjalan di sampingnya cukup lama tanpa bicara. Nao yang akhirnya membuka suara.

“Pak Bram baik. Dia sering bantu kita. Lampunya juga akan diperbaiki gratis.”

“Iya.”

Nao menendang kerikil kecil di jalan. “Terus kenapa rasanya aneh?”

Moa memperhatikan kerikil itu memantul ke selokan.

“Nggak tahu.”

Nao menoleh. Biasanya Moa punya jawaban untuk segala sesuatu, bahkan ketika tidak ditanya.

Kali ini tidak.

Dan entah kenapa, itu membuat pikirannya semakin ramai.

Sore harinya lampu sudah menyala kembali. Pak Bram bahkan mengganti kabelnya dengan yang baru.

“Coba.”

Nao menekan tombol dan cahaya kuning memenuhi kap hijau.

“Sudah.”

“Thank you, Pak.”

Nao memasukkan tangan ke tas untuk mengambil dompet, tetapi Pak Bram mengibaskan tangan.

“Nggak usah. Garansi Pak Bram.”

Biasanya kalimat seperti itu akan membuat Nao ikut tersenyum lebar. Kali ini ia tetap tersenyum, hanya saja ada sebuah pertanyaan yang belum pergi.

“Pak, kalau aku mau beli lampu satu lagi… Bapak masih saranin yang ini?”

Pak Bram berhenti merapikan obeng.

Pertanyaan itu tampaknya sederhana.

Tapi untuk pertama kalinya sejak Nao mengenalnya, Pak Bram membutuhkan waktu untuk menjawab.

“Buat kamu?”

“Iya.”

Pak Bram melihat lampu hijau, lalu dua lampu lain di rak. Akhirnya ia menunjuk lampu putih yang tadi tidak dipilih Nao.

“Yang itu.”

“Kenapa?”

“Lebih baru.”

Nao mengangguk perlahan.

“Oke.”

Ia tidak membeli lampu kedua. Ia hanya membawa lampu hijaunya pulang.

Beberapa hari kemudian, Nao melewati toko dekat sekolah. Di etalase masih ada lampu yang dulu pernah dilihatnya.

Ia masuk, bukan untuk membeli. Hanya melihat.

Penjaga toko menunjukkan beberapa model. Ada yang lebih murah daripada lampu Pak Bram, ada yang lebih mahal. Ada yang garansinya enam bulan, ada yang setahun.

Nao bertanya tentang kabel, bohlam, garansi, bahkan stok lama. Penjaga toko sempat terlihat heran ketika Nao menanyakan tahun produksi sebuah lampu meja. Nao sendiri merasa pertanyaannya agak berlebihan, tetapi ia tetap bertanya.

Ketika keluar, ia tidak membawa apa-apa.

Anehnya, ia merasa cukup puas.

Seminggu kemudian Nao kembali ke toko Pak Bram.

Bukan karena membutuhkan sesuatu.

Moa yang membutuhkan biskuit.

Setidaknya begitu menurut Moa.

Pak Bram sedang duduk di belakang meja sambil memperbaiki sebuah jam tua.

“Lampunya gimana?”

“Masih hidup.”

“Bagus.”

Pak Bram membuka kaleng biskuit. Moa segera mendekat.

“Satu,” kata Pak Bram.

Moa menerima satu.

Pak Bram mengambil satu lagi.

Nao mengangkat alis.

Pak Bram berhenti.

Mereka saling memandang.

“Matematika toko?” tanya Nao.

Pak Bram tertawa. “Matematika toko.”

Biskuit kedua diberikan.

Nao ikut tertawa.

Tidak ada yang berubah.

Dan ternyata, ada sesuatu yang berubah.

Beberapa bulan kemudian, ketika Nao membutuhkan kabel charger, ia kembali ke toko Pak Bram. Pak Bram punya, tentu saja. Ia mengambil sebuah kotak dari rak dan meletakkannya di atas meja.

“Yang ini bagus.”

Nao mengambil kotaknya. Ia membaca mereknya, membalik kemasan, melihat panjang kabel, lalu melihat harganya.

Pak Bram menunggu.

Nao mengeluarkan ponsel.

“Ngapain?” tanyanya.

“Cek sebentar.”

Pak Bram tidak terlihat tersinggung. Ia hanya kembali memperbaiki jam.

Beberapa detik kemudian Nao memasukkan ponselnya ke tas.

“Oke.”

“Jadi?”

“Beli.”

Pak Bram memasukkan kabel itu ke kantong, lalu menambahkan satu biskuit kecil.

“Ini buat Moa.”

Moa langsung mengambilnya.

Nao tersenyum. “Cuma satu?”

Pak Bram melihat Moa, kemudian Nao. Ia mengambil satu lagi.

“Jangan ikut campur urusan toko.”

Dalam perjalanan pulang, Moa sibuk mengunyah sementara Nao membawa kantong kecil berisi kabel.

“Jadi kamu masih percaya Pak Bram?” tanya Moa.

Nao berpikir sebentar.

“Iya.”

“Terus kenapa tadi dicek?”

Nao menatapnya.

“Karena aku percaya Pak Bram.”

Moa berhenti mengunyah.

Nao sudah berjalan beberapa langkah ketika menyadari Moa tidak mengikutinya.

“Apa?”

Moa menyusul.

“Nggak apa-apa.”

“Kok mukamu begitu?”

“Aku lagi memahami.”

Nao tertawa.

“Sudah berapa menit?”

Moa menatapnya.

Nao masih tertawa ketika mereka sampai di ujung jalan.

THERE IS A PROCUREMENT IDEA HIDING IN THIS STORY.

Bisakah kita mempercayai seseorang dan tetap memeriksa keputusan bisnis yang melibatkan dirinya?

Learn: Supplier Itu Partner, Teman, atau Lawan? →

Bagikan cerita ini
Salin link · Bagikan

Procurement is more than buying.