STORIES · SEASON 1 · STORY 2

The Map with No Legend

Nao sudah berdiri di depan papan kayu yang sama hampir tiga menit.

Di sana ada sebuah peta. Setidaknya, Nao rasa itu peta. Lingkaran-lingkaran kecil berwarna merah, kuning, biru, dan hijau tersebar di atas kertas, sebagian dihubungkan garis putus-putus. Di sampingnya ada simbol lonceng, daun, cangkir, dan sesuatu yang mencurigakan bentuknya seperti ayam.

Tidak ada keterangan apa pun.

Moa memiringkan kepala.

“Paham?”

“Paham.”

“Bohong.”

Nao menoleh.

“Aku sedang memahami.”

“Sudah tiga menit.”

“Memahami itu butuh waktu.”

Moa mengangguk.

“Berarti belum paham.”

Nao memutuskan untuk tidak menjawab.

Pagi itu kampung mereka sedang mengadakan festival tahunan. Nao ikut menjadi volunteer karena Sasa bilang acaranya bakal seru.

Sasa lupa menyebutkan satu hal kecil.

Para volunteer sepertinya diharapkan sudah tahu apa yang harus dilakukan.

Semua orang memakai pita berwarna di pergelangan tangan. Ada yang membawa kardus, memindahkan kursi, menggantung dekorasi, atau berjalan cepat ke sana kemari dengan keyakinan orang-orang yang tahu persis ke mana mereka harus pergi.

Nao melihat pita kuning di tangannya.

Seorang anak laki-laki berpita biru lewat sambil membawa tiga meja lipat.

“Yang hijau sudah ke belakang?”

Nao terdiam setengah detik.

“Sudah.”

Anak itu mengangguk dan terus berjalan.

Moa memandang Nao.

“Apa?”

“Kamu nggak tahu yang hijau itu apa.”

“Aku tahu.”

“Apa?”

Nao melihat anak tadi menghilang di balik tenda.

“Something green.”

Moa terlihat kagum.

“Pintar.”

Seorang perempuan membawa clipboard menghampiri.

“Nao, ya?”

“Iya, Kak.”

“Tolong yang dari meja tujuh dibawa ke titik daun sebelum jam sepuluh, ya.”

Nao tersenyum.

“Siap.”

Perempuan itu pergi.

Nao mempertahankan senyumnya beberapa detik lebih lama.

Lalu melihat ke sekeliling.

Ada banyak meja.

Tidak satu pun terlihat punya nomor.

Moa menengadah.

“Meja tujuh?”

Nao melihat kembali peta misterius tadi. Salah satu lingkarannya memiliki gambar daun kecil.

“Nah. Titik daun ketemu.”

“Meja tujuh?”

Nao tidak menjawab.

Mereka mulai berjalan.

Meja pertama penuh dengan kue.

“Ini meja tujuh?” tanya Moa.

“Bukan.”

“Tahu dari mana?”

“Feeling.”

Meja kedua penuh gelas plastik.

“Ini?”

“Bukan.”

“Tahu dari mana?”

“Feeling.”

Di bawah meja ketiga ada sebuah kardus.

Moa berhenti.

“Ini.”

Nao menoleh.

“Kenapa?”

“Feeling.”

Nao menatapnya.

Moa tersenyum.

Mereka melanjutkan pencarian.

Baru beberapa menit kemudian Nao menemukan angka kecil yang ditempel pada salah satu kaki meja.

7

“Oh.”

Di bawahnya ada dua kardus yang diikat tali kuning. Satu besar dan ringan, satu lagi kecil tetapi cukup berat.

Nao berjongkok.

“Nah, ini.”

Moa melihat kedua kardus.

“Yang mana?”

Nao berhenti.

Perempuan tadi hanya mengatakan yang dari meja tujuh.

Nao melihat ke kanan dan kiri, berharap perempuan ber-clipboard itu tiba-tiba muncul kembali.

Tidak.

“Dua-duanya,” putus Nao.

Moa mengangguk.

“Strategi bagus.”

“Kan?”

“Kalau salah, salahnya lengkap.”

Nao menatapnya.

Kardus besar itu cukup merepotkan sehingga Nao harus membawanya dengan kedua tangan. Mereka mengikuti peta menuju lingkaran dengan simbol daun.

Setengah perjalanan, seorang bapak tua muncul dari balik deretan stan.

“Dek, titik daun sebelah mana, ya?”

Nao melirik peta.

“Ke arah sini, Pak.”

“Terima kasih.”

Bapak itu ikut berjalan.

Nao mempercepat langkah sedikit.

Moa berjalan di dekat kakinya, sibuk mencium rerumputan sepanjang jalan.

Mereka melewati satu tikungan, lalu satu lagi, dan tiba di sebuah taman kecil yang dihiasi puluhan daun dari kertas warna-warni.

Nao tersenyum.

“Tuh.”

Bapak tadi melihat sekeliling.

“Ini titik daun?”

“Iya, Pak.”

Seorang volunteer yang sedang duduk di dekat situ mengangkat kepala.

“Ini titik kebun.”

Nao diam.

Bapak itu diam.

Moa menggaruk telinganya.

Volunteer tadi menunjuk ke seberang lapangan.

“Titik daun dekat panggung kecil.”

“Oh.”

Nao tersenyum kepada bapak tadi.

“Sedikit lagi, Pak.”

“Tidak apa-apa.”

Mereka berbalik.

Setelah bapak itu berjalan cukup jauh di depan, Moa menoleh.

“Tuh.”

“Diam.”

“Kamu tadi bilang paham.”

“Aku paham map-nya.”

“Kita salah tempat.”

“Map-nya kurang jelas.”

Moa tidak menjawab.

“Lagian kenapa ada titik kebun sama titik daun? Itu hampir sama.”

“Hmm.”

“Moa.”

“Hmm?”

“Jangan hmm terus.”

“Oke.”

Mereka berjalan lima langkah.

“Hmm.”

Nao hampir menjatuhkan kardusnya.

Titik daun yang sebenarnya berada di samping panggung kecil.

Nao menurunkan kedua kardus dengan lega. Seorang gadis berpita hijau langsung menghampiri.

“Ini apa?”

“Dari meja tujuh.”

“Dua-duanya?”

Kepercayaan diri Nao turun sedikit.

“Iya?”

Gadis itu membuka kardus besar.

Puluhan gelas kertas memenuhi isinya.

“Oh, ini bukan buat sini.”

Tentu saja.

“Ini buat titik minum.”

Nao melihat kardus kecil.

Gadis itu membukanya.

Di dalamnya ada sekantong klip logam.

“Nah, ini yang kita tunggu.”

Nao memandang kardus besar yang tadi dibawanya hampir mengelilingi festival.

Moa ikut memandang.

Kali ini mereka sama-sama tidak berkomentar.

“Gapapa,” kata gadis itu sambil tersenyum. “Titik minum dekat pintu masuk kok.”

Nao tahu persis di mana pintu masuk.

Sayangnya, letaknya hampir tepat di tempat ia memulai perjalanan tadi.

Dalam perjalanan kembali, Nao membawa kardus gelas tanpa banyak bicara.

Festival terasa berbeda sekarang. Tadi pagi, orang-orang yang berjalan cepat dengan pita warna-warni terlihat seperti anggota perkumpulan rahasia yang semuanya memahami aturan kecuali dirinya.

Sekarang Nao mulai memperhatikan hal-hal kecil.

Volunteer berpita merah kebanyakan berada di sekitar makanan. Yang biru sibuk memindahkan meja, kabel, dan kursi. Beberapa yang hijau berkumpul dekat permainan dan panggung kecil.

Mungkin semua itu sebenarnya mempunyai pola.

Nao hanya belum tahu polanya.

“Kenapa sih semua orang tahu semuanya?” katanya akhirnya.

Moa melihat sekeliling.

“Mungkin mereka tanya.”

“Nggak.”

“Mungkin.”

“Mereka kayaknya langsung tahu.”

Moa berpikir sebentar.

“Gimana caranya?”

Nao hendak menjawab.

Lalu urung.

Ia juga tidak tahu.

Di dekat pintu masuk, mereka bertemu lagi dengan perempuan ber-clipboard.

“Kak.”

Perempuan itu berbalik.

“Iya?”

Nao hampir mengatakan nggak jadi.

Sebaliknya, ia mengangkat pergelangan tangannya.

“Pita kuning artinya apa?”

Perempuan itu berkedip.

Lalu tersenyum.

“Logistics.”

Nao melirik Moa.

Moa terlihat sangat puas.

“Kalau biru?”

“Setup. Hijau activity. Merah consumption.”

Nao menunjuk peta.

“Terus simbol-simbol ini?”

“Oh! Belum ada yang jelasin?”

Nao menggeleng.

Perempuan itu mendekat.

“Daun itu panggung kecil. Cangkir titik minum. Lonceng panggung utama. Ayam area makanan.”

Nao menatap gambar ayam.

“Itu benar-benar ayam?”

“Iya.”

“Kenapa?”

Perempuan itu mengangkat bahu.

“Pak Dedi yang bikin map.”

Entah kenapa, jawaban itu tidak menjelaskan apa-apa.

Sekaligus menjelaskan semuanya.

“Ada lagi yang masih bingung?” tanyanya.

Nao ragu sebentar.

“Meja tujuh tadi ada dua kardus. Gimana tahu yang harus dibawa ke mana?”

“Label-nya di bawah.”

Nao diam.

“Di bawah?”

“Iya.”

Nao perlahan melihat kardus di tangannya.

Ia memiringkannya sedikit.

Sebuah label putih menempel di bagian bawah.

TITIK MINUM

Moa mendekat untuk membaca.

Nao segera menegakkan kardusnya kembali.

“Oke.”

“Ada lagi?”

Kali ini Nao berpikir lebih lama.

Lalu mengeluarkan ponsel.

“Actually… ada.”

Lima menit kemudian, Nao sudah punya foto peta, catatan arti setiap simbol, fungsi keempat warna pita, dan nama tiga orang yang bisa ditanya kalau ia bingung lagi.

Perempuan itu pergi.

Nao melihat catatannya.

Moa ikut melihat.

“Kamu nanya banyak.”

“I know.”

“Malu?”

“Sedikit.”

“Lebih malu daripada bawa gelas keliling festival?”

Nao menoleh.

“Nggak.”

“Bagus.”

Menjelang siang, Nao sudah tahu bahwa lonceng berarti panggung utama. Ia tahu daun bukan taman. Ia tahu pita kuning mengurus logistics, dan ia tahu bahwa untuk alasan yang tidak diketahui siapa pun, label kardus ditempel di bagian bawah.

Festivalnya sendiri tidak menjadi lebih sederhana. Orang masih mondar-mandir, suara dari panggung bercampur dengan orang berjualan, dan sesekali seseorang masih meneriakkan sesuatu yang sama sekali tidak dipahami Nao.

Tetapi sekarang ia tahu siapa yang bisa ditanya.

Seorang anak laki-laki berpita biru berlari menghampirinya.

“Nao, tahu kabel extension cadangan di mana?”

Nao hampir langsung menjawab.

Lalu berhenti.

“Nggak tahu.”

Anak itu menunggu.

“Tapi Kak Mira mungkin tahu. Atau kita cek meja penyimpanan.”

“Oh. Oke.”

Mereka pergi bersama.

Sore harinya, Nao duduk di bawah pohon sambil makan sepotong kue. Festival masih ramai di depannya. Pita-pita berwarna bergerak di antara stan, sebuah lonceng berbunyi entah untuk apa, dan dari arah panggung terdengar suara mikrofon mendecit keras.

Moa duduk di sebelahnya dengan sesuatu di mulut.

Nao menoleh.

“Kamu dapat dari mana?”

Moa mengunyah lebih cepat.

“Moa.”

Ia menelan.

“Titik makanan.”

“Kamu sudah tahu tempatnya?”

“Ayam.”

Nao tertawa.

Ia membuka catatan di ponselnya. Peta yang tadi pagi terlihat seperti teka-teki sekarang penuh coretan kecil yang hanya dimengerti olehnya.

Nao menatap festival sekali lagi.

Masih banyak yang belum ia tahu.

Anehnya, sekarang itu tidak terlalu mengganggunya.

“Moa.”

“Hmm?”

“Besok aku bawa pulpen.”

Moa mengangguk serius.

“Bawa dua.”

“Kenapa?”

“Aku mungkin butuh.”

“Kamu nggak bisa nulis.”

Moa menatap Nao.

“Itu nggak perlu diomongin.”

THERE IS A PROCUREMENT IDEA HIDING IN THIS STORY.

Hari pertama sebagai Buyer juga sering terasa seperti menerima sebuah peta tanpa legend. Apa yang sebenarnya perlu dipelajari lebih dulu?

Learn: Hari Pertama Jadi Buyer — Sebenarnya Aku Harus Ngapain? →

Bagikan cerita ini
Salin link · Bagikan

Procurement is more than buying.