Penulis: More Than Buying

  • The Map with No Legend

    STORIES · SEASON 1 · STORY 2

    The Map with No Legend

    Nao sudah berdiri di depan papan kayu yang sama hampir tiga menit.

    Di sana ada sebuah peta. Setidaknya, Nao rasa itu peta. Lingkaran-lingkaran kecil berwarna merah, kuning, biru, dan hijau tersebar di atas kertas, sebagian dihubungkan garis putus-putus. Di sampingnya ada simbol lonceng, daun, cangkir, dan sesuatu yang mencurigakan bentuknya seperti ayam.

    Tidak ada keterangan apa pun.

    Moa memiringkan kepala.

    “Paham?”

    “Paham.”

    “Bohong.”

    Nao menoleh.

    “Aku sedang memahami.”

    “Sudah tiga menit.”

    “Memahami itu butuh waktu.”

    Moa mengangguk.

    “Berarti belum paham.”

    Nao memutuskan untuk tidak menjawab.

    Pagi itu kampung mereka sedang mengadakan festival tahunan. Nao ikut menjadi volunteer karena Sasa bilang acaranya bakal seru.

    Sasa lupa menyebutkan satu hal kecil.

    Para volunteer sepertinya diharapkan sudah tahu apa yang harus dilakukan.

    Semua orang memakai pita berwarna di pergelangan tangan. Ada yang membawa kardus, memindahkan kursi, menggantung dekorasi, atau berjalan cepat ke sana kemari dengan keyakinan orang-orang yang tahu persis ke mana mereka harus pergi.

    Nao melihat pita kuning di tangannya.

    Seorang anak laki-laki berpita biru lewat sambil membawa tiga meja lipat.

    “Yang hijau sudah ke belakang?”

    Nao terdiam setengah detik.

    “Sudah.”

    Anak itu mengangguk dan terus berjalan.

    Moa memandang Nao.

    “Apa?”

    “Kamu nggak tahu yang hijau itu apa.”

    “Aku tahu.”

    “Apa?”

    Nao melihat anak tadi menghilang di balik tenda.

    “Something green.”

    Moa terlihat kagum.

    “Pintar.”

    Seorang perempuan membawa clipboard menghampiri.

    “Nao, ya?”

    “Iya, Kak.”

    “Tolong yang dari meja tujuh dibawa ke titik daun sebelum jam sepuluh, ya.”

    Nao tersenyum.

    “Siap.”

    Perempuan itu pergi.

    Nao mempertahankan senyumnya beberapa detik lebih lama.

    Lalu melihat ke sekeliling.

    Ada banyak meja.

    Tidak satu pun terlihat punya nomor.

    Moa menengadah.

    “Meja tujuh?”

    Nao melihat kembali peta misterius tadi. Salah satu lingkarannya memiliki gambar daun kecil.

    “Nah. Titik daun ketemu.”

    “Meja tujuh?”

    Nao tidak menjawab.

    Mereka mulai berjalan.

    Meja pertama penuh dengan kue.

    “Ini meja tujuh?” tanya Moa.

    “Bukan.”

    “Tahu dari mana?”

    “Feeling.”

    Meja kedua penuh gelas plastik.

    “Ini?”

    “Bukan.”

    “Tahu dari mana?”

    “Feeling.”

    Di bawah meja ketiga ada sebuah kardus.

    Moa berhenti.

    “Ini.”

    Nao menoleh.

    “Kenapa?”

    “Feeling.”

    Nao menatapnya.

    Moa tersenyum.

    Mereka melanjutkan pencarian.

    Baru beberapa menit kemudian Nao menemukan angka kecil yang ditempel pada salah satu kaki meja.

    7

    “Oh.”

    Di bawahnya ada dua kardus yang diikat tali kuning. Satu besar dan ringan, satu lagi kecil tetapi cukup berat.

    Nao berjongkok.

    “Nah, ini.”

    Moa melihat kedua kardus.

    “Yang mana?”

    Nao berhenti.

    Perempuan tadi hanya mengatakan yang dari meja tujuh.

    Nao melihat ke kanan dan kiri, berharap perempuan ber-clipboard itu tiba-tiba muncul kembali.

    Tidak.

    “Dua-duanya,” putus Nao.

    Moa mengangguk.

    “Strategi bagus.”

    “Kan?”

    “Kalau salah, salahnya lengkap.”

    Nao menatapnya.

    Kardus besar itu cukup merepotkan sehingga Nao harus membawanya dengan kedua tangan. Mereka mengikuti peta menuju lingkaran dengan simbol daun.

    Setengah perjalanan, seorang bapak tua muncul dari balik deretan stan.

    “Dek, titik daun sebelah mana, ya?”

    Nao melirik peta.

    “Ke arah sini, Pak.”

    “Terima kasih.”

    Bapak itu ikut berjalan.

    Nao mempercepat langkah sedikit.

    Moa berjalan di dekat kakinya, sibuk mencium rerumputan sepanjang jalan.

    Mereka melewati satu tikungan, lalu satu lagi, dan tiba di sebuah taman kecil yang dihiasi puluhan daun dari kertas warna-warni.

    Nao tersenyum.

    “Tuh.”

    Bapak tadi melihat sekeliling.

    “Ini titik daun?”

    “Iya, Pak.”

    Seorang volunteer yang sedang duduk di dekat situ mengangkat kepala.

    “Ini titik kebun.”

    Nao diam.

    Bapak itu diam.

    Moa menggaruk telinganya.

    Volunteer tadi menunjuk ke seberang lapangan.

    “Titik daun dekat panggung kecil.”

    “Oh.”

    Nao tersenyum kepada bapak tadi.

    “Sedikit lagi, Pak.”

    “Tidak apa-apa.”

    Mereka berbalik.

    Setelah bapak itu berjalan cukup jauh di depan, Moa menoleh.

    “Tuh.”

    “Diam.”

    “Kamu tadi bilang paham.”

    “Aku paham map-nya.”

    “Kita salah tempat.”

    “Map-nya kurang jelas.”

    Moa tidak menjawab.

    “Lagian kenapa ada titik kebun sama titik daun? Itu hampir sama.”

    “Hmm.”

    “Moa.”

    “Hmm?”

    “Jangan hmm terus.”

    “Oke.”

    Mereka berjalan lima langkah.

    “Hmm.”

    Nao hampir menjatuhkan kardusnya.

    Titik daun yang sebenarnya berada di samping panggung kecil.

    Nao menurunkan kedua kardus dengan lega. Seorang gadis berpita hijau langsung menghampiri.

    “Ini apa?”

    “Dari meja tujuh.”

    “Dua-duanya?”

    Kepercayaan diri Nao turun sedikit.

    “Iya?”

    Gadis itu membuka kardus besar.

    Puluhan gelas kertas memenuhi isinya.

    “Oh, ini bukan buat sini.”

    Tentu saja.

    “Ini buat titik minum.”

    Nao melihat kardus kecil.

    Gadis itu membukanya.

    Di dalamnya ada sekantong klip logam.

    “Nah, ini yang kita tunggu.”

    Nao memandang kardus besar yang tadi dibawanya hampir mengelilingi festival.

    Moa ikut memandang.

    Kali ini mereka sama-sama tidak berkomentar.

    “Gapapa,” kata gadis itu sambil tersenyum. “Titik minum dekat pintu masuk kok.”

    Nao tahu persis di mana pintu masuk.

    Sayangnya, letaknya hampir tepat di tempat ia memulai perjalanan tadi.

    Dalam perjalanan kembali, Nao membawa kardus gelas tanpa banyak bicara.

    Festival terasa berbeda sekarang. Tadi pagi, orang-orang yang berjalan cepat dengan pita warna-warni terlihat seperti anggota perkumpulan rahasia yang semuanya memahami aturan kecuali dirinya.

    Sekarang Nao mulai memperhatikan hal-hal kecil.

    Volunteer berpita merah kebanyakan berada di sekitar makanan. Yang biru sibuk memindahkan meja, kabel, dan kursi. Beberapa yang hijau berkumpul dekat permainan dan panggung kecil.

    Mungkin semua itu sebenarnya mempunyai pola.

    Nao hanya belum tahu polanya.

    “Kenapa sih semua orang tahu semuanya?” katanya akhirnya.

    Moa melihat sekeliling.

    “Mungkin mereka tanya.”

    “Nggak.”

    “Mungkin.”

    “Mereka kayaknya langsung tahu.”

    Moa berpikir sebentar.

    “Gimana caranya?”

    Nao hendak menjawab.

    Lalu urung.

    Ia juga tidak tahu.

    Di dekat pintu masuk, mereka bertemu lagi dengan perempuan ber-clipboard.

    “Kak.”

    Perempuan itu berbalik.

    “Iya?”

    Nao hampir mengatakan nggak jadi.

    Sebaliknya, ia mengangkat pergelangan tangannya.

    “Pita kuning artinya apa?”

    Perempuan itu berkedip.

    Lalu tersenyum.

    “Logistics.”

    Nao melirik Moa.

    Moa terlihat sangat puas.

    “Kalau biru?”

    “Setup. Hijau activity. Merah consumption.”

    Nao menunjuk peta.

    “Terus simbol-simbol ini?”

    “Oh! Belum ada yang jelasin?”

    Nao menggeleng.

    Perempuan itu mendekat.

    “Daun itu panggung kecil. Cangkir titik minum. Lonceng panggung utama. Ayam area makanan.”

    Nao menatap gambar ayam.

    “Itu benar-benar ayam?”

    “Iya.”

    “Kenapa?”

    Perempuan itu mengangkat bahu.

    “Pak Dedi yang bikin map.”

    Entah kenapa, jawaban itu tidak menjelaskan apa-apa.

    Sekaligus menjelaskan semuanya.

    “Ada lagi yang masih bingung?” tanyanya.

    Nao ragu sebentar.

    “Meja tujuh tadi ada dua kardus. Gimana tahu yang harus dibawa ke mana?”

    “Label-nya di bawah.”

    Nao diam.

    “Di bawah?”

    “Iya.”

    Nao perlahan melihat kardus di tangannya.

    Ia memiringkannya sedikit.

    Sebuah label putih menempel di bagian bawah.

    TITIK MINUM

    Moa mendekat untuk membaca.

    Nao segera menegakkan kardusnya kembali.

    “Oke.”

    “Ada lagi?”

    Kali ini Nao berpikir lebih lama.

    Lalu mengeluarkan ponsel.

    “Actually… ada.”

    Lima menit kemudian, Nao sudah punya foto peta, catatan arti setiap simbol, fungsi keempat warna pita, dan nama tiga orang yang bisa ditanya kalau ia bingung lagi.

    Perempuan itu pergi.

    Nao melihat catatannya.

    Moa ikut melihat.

    “Kamu nanya banyak.”

    “I know.”

    “Malu?”

    “Sedikit.”

    “Lebih malu daripada bawa gelas keliling festival?”

    Nao menoleh.

    “Nggak.”

    “Bagus.”

    Menjelang siang, Nao sudah tahu bahwa lonceng berarti panggung utama. Ia tahu daun bukan taman. Ia tahu pita kuning mengurus logistics, dan ia tahu bahwa untuk alasan yang tidak diketahui siapa pun, label kardus ditempel di bagian bawah.

    Festivalnya sendiri tidak menjadi lebih sederhana. Orang masih mondar-mandir, suara dari panggung bercampur dengan orang berjualan, dan sesekali seseorang masih meneriakkan sesuatu yang sama sekali tidak dipahami Nao.

    Tetapi sekarang ia tahu siapa yang bisa ditanya.

    Seorang anak laki-laki berpita biru berlari menghampirinya.

    “Nao, tahu kabel extension cadangan di mana?”

    Nao hampir langsung menjawab.

    Lalu berhenti.

    “Nggak tahu.”

    Anak itu menunggu.

    “Tapi Kak Mira mungkin tahu. Atau kita cek meja penyimpanan.”

    “Oh. Oke.”

    Mereka pergi bersama.

    Sore harinya, Nao duduk di bawah pohon sambil makan sepotong kue. Festival masih ramai di depannya. Pita-pita berwarna bergerak di antara stan, sebuah lonceng berbunyi entah untuk apa, dan dari arah panggung terdengar suara mikrofon mendecit keras.

    Moa duduk di sebelahnya dengan sesuatu di mulut.

    Nao menoleh.

    “Kamu dapat dari mana?”

    Moa mengunyah lebih cepat.

    “Moa.”

    Ia menelan.

    “Titik makanan.”

    “Kamu sudah tahu tempatnya?”

    “Ayam.”

    Nao tertawa.

    Ia membuka catatan di ponselnya. Peta yang tadi pagi terlihat seperti teka-teki sekarang penuh coretan kecil yang hanya dimengerti olehnya.

    Nao menatap festival sekali lagi.

    Masih banyak yang belum ia tahu.

    Anehnya, sekarang itu tidak terlalu mengganggunya.

    “Moa.”

    “Hmm?”

    “Besok aku bawa pulpen.”

    Moa mengangguk serius.

    “Bawa dua.”

    “Kenapa?”

    “Aku mungkin butuh.”

    “Kamu nggak bisa nulis.”

    Moa menatap Nao.

    “Itu nggak perlu diomongin.”

    THERE IS A PROCUREMENT IDEA HIDING IN THIS STORY.

    Hari pertama sebagai Buyer juga sering terasa seperti menerima sebuah peta tanpa legend. Apa yang sebenarnya perlu dipelajari lebih dulu?

    Learn: Hari Pertama Jadi Buyer — Sebenarnya Aku Harus Ngapain? →

  • The Basket for Grandma

    STORIES · SEASON 1 · STORY 1

    The Basket for Grandma

    Hujan semalam menyisakan titik-titik air di pagar dan daun jambu ketika Nao membuka pintu belakang rumah.

    Moa sudah duduk di anak tangga, memperhatikan seekor siput yang sedang berusaha menyeberangi lantai teras.

    “Dia dari tadi di situ?” tanya Nao.

    “Sudah lama.”

    “Kenapa nggak dibantu?”

    Moa mengangkat bahu. “Dia nggak minta.”

    Nao menghela napas. Kadang-kadang berbicara dengan Moa terasa seperti berbicara dengan seseorang yang sangat bijaksana.

    Kadang-kadang tidak.

    Pagi itu Mama menitipkan sebuah keranjang kecil.

    “Tolong antar ke rumah Oma Lili sebelum jam empat, ya.”

    “Isinya apa?”

    “Beberapa barang buat sore ini. Nanti sekalian beli roti di Bu Rina. Oma suka yang roti susu.”

    Nao mengintip isi keranjang. Ada satu botol kecil, dua bungkus teh, sebuah kotak, dan secarik kertas yang dilipat.

    Gampang.

    Sangat gampang.

    Moa memasukkan kedua kaki depannya ke kantong hoodie kecil yang dipakaikan Nao pagi itu.

    “Kita ke mana dulu?”

    “Bu Rina.”

    “Lewat tukang sosis?”

    “Nggak.”

    “Kenapa?”

    “Karena kita baru sarapan.”

    “Aku nggak ingat.”

    Mereka sampai di toko Bu Rina pukul sebelas kurang sedikit.

    “Roti susu habis, Nao,” kata Bu Rina. “Besok pagi ada lagi.”

    Nao mengerutkan hidung.

    “Yang mirip?”

    “Ada roti cokelat.”

    Nao memandang roti cokelat.

    Moa juga.

    “Cokelat lebih enak,” bisiknya.

    “Oma sukanya susu.”

    “Oma belum coba yang cokelat.”

    “Itu bukan poinnya.”

    “Justru itu poinnya.”

    Nao mengabaikannya.

    Di rak sebelah ada roti tawar kecil. Tidak menarik, tetapi setidaknya tidak terlalu manis.

    “Yang ini masih fresh, Bu?”

    “Baru datang pagi.”

    Nao mengambilnya.

    Masalah pertama selesai.

    Atau begitu pikirnya.

    Di luar toko, Nao membuka kertas kecil dari dalam keranjang.

    Roti susu.

    Teh.

    Obat gosok.

    Puding dingin.

    Nao berhenti berjalan.

    Ia melihat isi keranjang.

    Teh ada.

    Obat gosok ada.

    Kotak yang tadi dilihatnya ternyata berisi puding.

    Nao menatap kotak itu cukup lama, lalu menatap matahari yang mulai muncul dari balik awan.

    “Moa.”

    “Hmm?”

    “Ini harus dingin.”

    Moa mengendus kotaknya.

    “Masih dingin.”

    “Kita baru mau ke taman.”

    “Kenapa?”

    “Kan aku janji ketemu Sasa jam dua belas.”

    Moa berpikir sebentar.

    “Taruh di bawah pohon.”

    “Dua jam?”

    “Pohonnya besar.”

    Nao menutup mata.

    Ada hari-hari ketika Moa benar-benar tidak membantu.

    Nao melihat jam.

    11.18.

    Rumah Oma Lili sebenarnya hanya dua puluh menit dari sana. Kalau ia mengantar keranjang sekarang, ia masih mungkin bertemu Sasa sedikit terlambat.

    Tetapi roti susu belum dapat.

    Ia membuka ponsel dan mencari toko lain.

    Ada bakery di dekat stasiun.

    1,7 km.

    Roti susunya tersedia.

    Nao tersenyum.

    “Nah.”

    Moa ikut melihat layar.

    “Jauh.”

    “Cuma satu koma tujuh.”

    “Kakimu pendek.”

    Nao menatapnya.

    “Kakimu lebih pendek.”

    “Aku punya empat.”

    Mereka berangkat.

    Bakery dekat stasiun memang punya roti susu.

    Bahkan terlihat lebih bagus daripada roti Bu Rina. Packaging-nya cantik, ada pita kecil di bagian atas, dan rotinya masih hangat.

    “Harganya dua kali lipat,” kata Nao.

    “Oma nggak tahu harganya.”

    “Aku yang tahu.”

    “Kalau begitu jangan kasih tahu Oma.”

    Nao mulai curiga Moa seharusnya tidak pernah dipercaya mengelola uang.

    Ia membeli satu.

    Saat keluar dari bakery, jam menunjukkan 11.52.

    Sasa sudah mengirim pesan.

    Naooo kamu di mana 😭

    Nao mengetik:

    otw

    Ia melihat tulisan itu sebentar.

    Kemudian menghapusnya.

    Ia sebenarnya tidak sedang on the way ke taman.

    Ia berdiri di depan stasiun dengan sebuah keranjang, dua jenis roti, puding yang semakin tidak dingin, dan seekor poodle yang sedang memperhatikan penjual sosis.

    “Nao.”

    “Apa?”

    “Sosisnya dua belas ribu.”

    “Terus?”

    “Aku cuma kasih informasi.”

    Nao memasukkan ponsel ke tas.

    Ia mulai menghitung. Ke taman sekitar lima belas menit. Kalau bertemu Sasa satu jam, lalu ke rumah Oma…

    Ia menyentuh kotak puding.

    Tidak dingin lagi.

    Moa ikut menyentuhnya.

    “Hangat.”

    “Aku tahu.”

    “Bisa jadi sup.”

    “Moa.”

    “Aku cuma kasih informasi.”

    Nao memandang jalan ke arah taman.

    Kemudian ke arah rumah Oma.

    Ia mengeluarkan ponsel lagi.

    Sa, sorry. Aku harus antar sesuatu dulu ke Oma. Kayaknya aku telat. Jangan tunggu makan ya.

    Tiga titik muncul.

    Hilang.

    Muncul lagi.

    okeh. kabarin ajaa

    Nao merasa sedikit bersalah. Tapi anehnya, setelah mengirim pesan itu, kepalanya terasa lebih ringan.

    “Ayo.”

    “Ke Oma?”

    “Ke Oma.”

    “Lewat penjual sosis?”

    “Tidak.”

    “Nao!”

    Seseorang memanggil dari seberang jalan.

    Nao menoleh. “Eh, Tante Mira.”

    Tante Mira menghampiri mereka dan mengobrol sebentar tentang Mama. Moa sibuk mengendus rerumputan di dekat kaki Nao, lalu duduk ketika kepalanya dielus.

    “Lucu banget sih kamu,” kata Tante Mira.

    Moa menjulurkan lidah.

    Setelah Tante Mira pergi, mereka melanjutkan perjalanan.

    “Menurutku kita tetap harus lewat tukang sosis,” kata Moa.

    Nao meliriknya.

    “Kamu belum menyerah juga?”

    “Dua belas ribu.”

    Mereka tiba di rumah Oma Lili pukul 12.24.

    Oma membuka pintu dengan rambut putih yang masih digulung kecil di belakang kepala.

    “Nao?”

    “Mama titip ini.”

    Nao menyerahkan keranjang.

    Oma melihat ke dalam.

    “Lho, banyak sekali.”

    “Ada roti juga.”

    “Wah.”

    Nao mengeluarkan roti susu yang dibelinya dekat stasiun.

    Oma tersenyum.

    “Ini buat teman-teman Oma nanti sore.”

    Nao berhenti.

    “Teman-teman?”

    “Iya. Jam tiga mereka datang.”

    Nao melihat kotak puding.

    “Oma… pudingnya harus masuk kulkas.”

    “Oh iya.”

    Oma mengambilnya.

    “Untung cepat kamu antar.”

    Nao tidak mengatakan apa-apa.

    Puding masuk ke kulkas. Roti diletakkan di meja.

    Kemudian Oma mengambil roti tawar yang tadi dibeli Nao di toko Bu Rina.

    “Ini juga?”

    “Yang susu tadi habis. Jadi aku beli ini dulu. Terus aku ketemu yang susu di dekat stasiun.”

    Oma memandang dua bungkus roti itu.

    Nao menunggu.

    Lalu Oma tertawa kecil.

    “Besok kita sarapan roti banyak sekali.”

    Nao ikut tertawa.

    Sedikit.

    Di luar rumah Oma, Nao berjalan lebih pelan.

    Moa menyusul di sampingnya.

    “Aku berhasil,” kata Nao.

    “Hmm.”

    “Semua barang sampai.”

    “Hmm.”

    “Rotinya juga dapat.”

    “Dua.”

    “Jangan mulai.”

    Moa berjalan beberapa langkah.

    “Pudingnya hampir jadi sup.”

    Nao melirik tajam.

    “Tapi nggak jadi.”

    “Karena kamu nggak jadi ke taman.”

    Nao diam.

    Mereka sampai di sebuah tembok rendah di bawah pohon. Nao duduk. Moa naik ke sebelahnya dan ikut duduk, kakinya menggantung di sisi tembok.

    Nao meletakkan keranjang kosong di pangkuannya.

    “Tadinya kupikir cuma disuruh antar barang.”

    “Hmm.”

    “Ternyata repot.”

    “Hmm.”

    Nao menoleh.

    “Kamu nggak mau bilang apa-apa?”

    “Aku lapar.”

    Nao tertawa.

    “Ya sudah. Sosis.”

    Moa langsung turun dari tembok.

    “Yang dua belas ribu?”

    “Kamu hafal banget.”

    “Aku memperhatikan hal penting.”

    Nao berdiri dan membawa keranjang kosong itu bersamanya.

    Mereka berjalan kembali ke arah stasiun.

    Baru beberapa langkah, Nao berhenti.

    “Moa.”

    “Hmm?”

    “Kalau tadi aku ke taman dulu, pudingnya rusak.”

    “Hmm.”

    “Kalau aku langsung ke Oma, aku nggak dapat roti susu.”

    “Hmm.”

    Nao memandang keranjang kosongnya.

    “Kalau dari awal aku tahu—”

    “Nao.”

    “Apa?”

    “Aku lapar.”

    Nao menatapnya beberapa detik.

    Kemudian tertawa.

    “Ayo.”

    Mereka melanjutkan perjalanan.

    Di ujung jalan, aroma sosis mulai tercium. Moa mempercepat langkah.

    Nao tidak.

    Kali ini ia melihat dulu jam di ponselnya.

    Sasa masih menunggu kabar.

    THERE IS A PROCUREMENT IDEA HIDING IN THIS STORY.

    Ketika beberapa hal sama-sama penting, bagaimana kita menentukan apa yang harus dijaga lebih dulu?

    Learn: Kamu Masih Mengira Procurement Itu Cuma Belanja? →

  • Hari Pertama Jadi Buyer: Sebenarnya Aku Harus Ngapain?

    Season 1 · Episode 3 — Welcome to Procurement

    Hari pertama kerja biasanya dimulai dengan hal-hal yang cukup aman. Kenalan dengan tim, dikenalkan ke beberapa departemen, menerima laptop, membuat password, lalu mencoba mengingat nama orang-orang yang baru saja dikenalkan lima menit lalu.

    Lalu seseorang datang ke meja dan bertanya, “PO yang ini sudah dikirim ke supplier belum?” Kamu melihat layar, melihat orangnya, lalu melihat layar lagi. PO yang mana? Supplier siapa? Dan… aku bahkan belum tahu cara buka sistemnya.

    Welcome to hari pertama sebagai Buyer. 😄

    Kamu memang belum seharusnya tahu semuanya

    Salah satu tekanan terbesar ketika baru mulai bekerja adalah perasaan bahwa kita seharusnya sudah tahu apa yang harus dilakukan. Apalagi kalau orang-orang di sekitar terlihat santai menyebut PR, PO, MOQ, lead time, ETA, quotation, payment terms, dan entah berapa singkatan lainnya. Mereka terlihat santai karena sudah mengerjakannya ratusan kali; kamu belum.

    Pekerjaan pertama seorang Buyer bukan langsung menjadi jago negosiasi atau mendapatkan saving besar pada minggu pertama. Yang perlu kamu pahami lebih dulu adalah aliran pekerjaannya: dari mana kebutuhan datang, siapa yang menyetujui, bagaimana sampai ke Purchasing, bagaimana supplier dipilih, siapa yang memonitor delivery, dan kapan pembelian dianggap selesai.

    Kalau alurnya mulai terlihat, istilah-istilah yang tadinya terdengar seperti bahasa asing perlahan menemukan tempatnya.

    Jangan cuma baca item. Pahami kebutuhannya.

    Bayangkan ada permintaan pembelian 500 buah bearing. Godaannya adalah langsung membuka data supplier, meminta quotation, lalu membandingkan harga. Tapi sebelum itu, ada pertanyaan sederhana yang jauh lebih berguna: barang ini untuk apa?

    Bearing untuk produksi rutin tentu berbeda dengan bearing untuk mesin yang sedang breakdown. Barangnya mungkin sama, tetapi konteksnya mengubah cara kita menanganinya. Untuk kebutuhan rutin, kita bisa memikirkan harga, stock, dan kebutuhan berikutnya; kalau produksi sedang berhenti, kecepatan mungkin jauh lebih penting daripada selisih harga beberapa ribu rupiah.

    Salah satu kebiasaan terbaik yang bisa dipelajari sejak awal adalah jangan hanya membaca item—pahami kebutuhan di belakangnya.

    Kalau kamu membeli laptop, pertanyaan yang sama tetap berguna. Permintaan untuk karyawan baru yang mulai bekerja bulan depan berbeda dengan laptop pengganti untuk seseorang yang perangkatnya tiba-tiba rusak. Nama barangnya sama, tetapi waktu dan dampaknya berbeda.

    Kebutuhan seorang staf administrasi juga belum tentu sama dengan kebutuhan desainer yang mengolah file besar. Sebelum mencari quotation, tanyakan siapa yang akan menggunakan laptop, aplikasi apa yang perlu dijalankan, dan kapan perangkat harus siap dipakai. “Siap dipakai” mungkin termasuk instalasi aplikasi dan pengaturan akses oleh IT, bukan sekadar kardus tiba di kantor.

    Dari situ, kamu bisa meminta IT memastikan spesifikasinya, mengecek apakah ada perangkat cadangan, lalu membandingkan pilihan yang memang sesuai. Kamu tidak harus menentukan kebutuhan teknis sendiri. Tugas awalmu adalah membantu memperjelas kebutuhan sebelum perusahaan membeli.

    Kenali siapa melakukan apa

    Procurement terlihat seperti pekerjaan yang banyak berhubungan dengan supplier, padahal sebagian besar harimu juga akan berhubungan dengan orang-orang di dalam perusahaan. Di manufaktur, kamu mungkin bekerja dengan Produksi, Warehouse, Quality, Engineering, dan Finance. Di sekolah atau perusahaan jasa, pihaknya bisa berupa pengelola kelas, Operations, IT, HR, Facilities, atau fungsi lainnya.

    Mulailah mengenali perannya: siapa yang membutuhkan, siapa yang menentukan spesifikasi, siapa yang menyetujui, dan siapa yang memeriksa atau menerima hasil pembelian. Untuk laptop tadi, HR mungkin memberi tahu tanggal masuk karyawan, IT memastikan spesifikasi dan kesiapan perangkat, user menjelaskan kebutuhan kerja, dan Finance mengurus pembayaran. Pembagian tepatnya mengikuti organisasi tempat kamu bekerja.

    Kamu tidak perlu langsung memahami pekerjaan semua departemen. Tetapi ketahui siapa yang perlu dihubungi: perangkat tidak sesuai spesifikasi perlu diperiksa oleh siapa? Tanggal kebutuhan berubah, siapa yang perlu tahu? Invoice bermasalah, siapa yang bisa membantu?

    Mengetahui who to ask sering kali lebih berguna daripada berpura-pura mengetahui semua jawabannya sendiri.

    Kenali supplier—dan barang yang kamu beli

    Setelah mulai memahami proses internal, kenali supplier yang menjadi tanggung jawabmu. Mulailah dari yang paling sering berhubungan dengan pekerjaanmu: apa yang mereka supply, berapa lead time-nya, siapa PIC-nya, bagaimana pola delivery-nya, dan apakah performanya selama ini stabil.

    Lalu pelajari juga produknya. Kamu tidak perlu menjadi engineer, tetapi Buyer yang memahami fungsi dan karakter dasar barang yang dibeli akan mengajukan pertanyaan yang berbeda dari Buyer yang hanya mengenal item code dan harga. Semakin kamu memahami barangnya, semakin baik pula percakapanmu dengan supplier dan user internal.

    Better understanding creates better questions.

    Jangan takut bertanya. Tapi belajar cara bertanya.

    Menjadi anak baru bukan masalah, dan menanyakan sesuatu yang belum kamu ketahui juga bukan masalah. Yang menjadi masalah adalah menanyakan pertanyaan yang sama berkali-kali tanpa pernah mencatat jawabannya. Buat catatan tentang istilah baru, supplier, proses approval, atau hal-hal kecil yang kamu pelajari setiap hari.

    Ada juga perbedaan besar antara “Aku nggak ngerti ini gimana” dan “Aku sudah cek PO sebelumnya. Sepertinya prosesnya A lalu B, tapi bagian C aku belum paham. Bisa bantu jelaskan?” Pertanyaan kedua menunjukkan bahwa kamu sudah mencoba memahami masalah sebelum meminta bantuan.

    Orang biasanya lebih mudah membantu ketika melihat kamu juga sudah berusaha.

    Lalu kapan mulai negosiasi?

    Mungkin kamu membayangkan Buyer sebagai seseorang yang duduk berhadapan dengan supplier sambil menekan harga. Nanti akan sampai ke sana. Tetapi sebelum bisa bernegosiasi dengan baik, kamu perlu memahami apa yang sebenarnya sedang dinegosiasikan.

    Harga sebelumnya berapa? Berapa banyak yang dibeli? Ada supplier alternatif atau tidak? Bagaimana kondisi pasar dan apa yang sebenarnya dibutuhkan perusahaan dari supplier tersebut?

    Kadang jawabannya bukan harga. Mungkin perusahaan lebih membutuhkan lead time pendek, MOQ kecil, payment terms panjang, delivery fleksibel, atau dukungan teknis yang lebih baik.

    Negosiasi yang baik dimulai jauh sebelum kamu mengatakan, “Bisa kurang lagi nggak harganya?”

    Beberapa minggu pertama

    Tidak perlu buru-buru menunjukkan bahwa kamu hebat. Gunakan beberapa minggu pertama untuk memahami proses, mengenali orang, mempelajari barang dan supplier, mencatat, serta bertanya ketika memang belum tahu. Ketika diberi pekerjaan kecil, selesaikan dengan rapi.

    Kepercayaan di dunia kerja jarang datang dari satu tindakan besar. Biasanya ia dibangun dari banyak hal kecil: data yang benar, email yang dijawab, janji follow-up yang benar-benar dilakukan, dan keberanian mengatakan “Saya belum tahu, saya cek dulu” daripada memberikan jawaban yang belum pasti.

    Beberapa bulan kemudian, mungkin kamu akan tersenyum mengingat hari pertama ketika bahkan tidak tahu di mana mencari nomor PO.

    Tapi sebelum sampai ke sana, ada satu pihak yang akan sangat sering muncul di layar HP-mu. Kamu akan chat, telepon, kejar, minta bantuan—dan sesekali mungkin membuatmu ingin meletakkan HP jauh-jauh.

    Supplier.

    Partner? Teman? Atau lawan yang harus selalu kita kalahkan?

    Kita bahas di Episode 4.

    SELANJUTNYA DI LEARN

    Supplier Itu Partner, Teman, atau Lawan? →

    Season 1 · Episode 4

    Lihat dari sisi lain

    Masuk ke lingkungan baru kadang terasa seperti semua orang sudah menerima buku petunjuk—kecuali kamu. Nao mencoba cukup lama untuk terlihat paham sebelum menemukan sesuatu yang jauh lebih berguna daripada menebak.

    Baca: The Map with No Legend →

  • Supplier Itu Partner, Teman, atau Lawan?

    Season 1 · Episode 4 — Welcome to Procurement

    Suatu hari, supplier membantumu saat perusahaan sedang kesulitan. Mereka mempercepat delivery, menerima order dalam jumlah kecil, atau tetap mengirim barang meskipun dokumen internalmu belum sepenuhnya selesai. Kamu merasa lega dan berpikir, “Supplier ini baik banget.”

    Beberapa minggu kemudian, supplier yang sama mengajukan kenaikan harga. Alasannya sulit diverifikasi, sementara waktunya terasa tidak tepat. Lalu pikiranmu berubah: “Jangan-jangan selama ini mereka cuma cari keuntungan.”

    Jadi, supplier itu sebenarnya partner, teman, atau lawan?

    Jawaban paling jujurnya: bukan ketiganya secara mutlak.

    Supplier adalah pihak bisnis

    Supplier bukan teman pribadi yang selalu harus membantumu, tetapi mereka juga bukan lawan yang harus selalu dikalahkan. Mereka adalah perusahaan yang mempunyai kepentingan sendiri: mendapatkan order, memperoleh margin, menjaga cash flow, mengurangi risiko, dan memastikan bisnisnya tetap berjalan.

    Perusahaanmu juga mempunyai kepentingan sendiri. Kita membutuhkan barang yang tepat, biaya yang kompetitif, risiko yang terkendali, dan supply yang cukup untuk memenuhi kebutuhan pelanggan. Kadang kepentingan kedua pihak berjalan searah: kita membutuhkan delivery yang stabil dan supplier membutuhkan order yang stabil; kita membutuhkan kualitas yang konsisten dan supplier juga ingin mengurangi reject dan komplain.

    Tetapi kadang kepentingannya berbeda. Kita ingin harga turun, supplier ingin menjaga margin. Kita ingin payment terms lebih panjang, supplier ingin pembayaran lebih cepat. Kita ingin minimum order kecil, sementara supplier ingin produksi dalam jumlah besar agar efisien.

    Hubungan supplier tidak menjadi buruk hanya karena ada kepentingan yang berbeda. Justru perbedaan kepentingan itulah yang harus dikelola secara profesional.

    Kenapa supplier sering disebut partner?

    Istilah supplier partnership terdengar hangat dan modern, tetapi tidak semua supplier otomatis layak disebut partner. Partner bukan sekadar supplier yang sudah lama bekerja sama dengan perusahaan atau PIC yang sudah akrab dengan Buyer.

    Supplier mulai menjadi partner ketika kontribusinya lebih besar daripada sekadar mengirim barang. Mereka memahami kebutuhan bisnis, terbuka ketika ada masalah, membantu mencari solusi, menjaga kualitas, dan bersedia berkembang bersama. Hubungan seperti itu dibangun melalui performa, transparansi, kepercayaan, dan kepentingan jangka panjang yang cukup selaras.

    Tetapi partnership tetap membutuhkan kontrol. Harga tetap perlu dievaluasi, kualitas tetap diukur, risiko tetap diperiksa, dan kesepakatan tetap harus jelas. Menyebut supplier sebagai partner bukan alasan untuk berhenti bersikap objektif.

    Terlalu dekat juga bisa menjadi masalah

    Hubungan yang baik dengan supplier memang penting. Komunikasi menjadi lebih mudah, masalah lebih cepat diselesaikan, dan kedua pihak lebih nyaman berdiskusi. Tetapi Buyer harus berhati-hati ketika hubungan profesional perlahan berubah menjadi loyalitas pribadi.

    Misalnya, kamu mulai merasa tidak enak meminta penawaran pembanding karena supplier sudah lama membantu. Kamu menerima alasan kenaikan harga tanpa pemeriksaan karena sudah percaya dengan PIC-nya, atau membela supplier ketika performanya buruk karena hubungan kalian sudah dekat. Di titik itu, hubungan baik mulai mengganggu penilaian.

    Seorang Buyer tidak dibayar untuk menjaga perasaan supplier. Buyer bertanggung jawab menjaga kepentingan perusahaan secara adil dan profesional. Itu bukan berarti harus dingin atau kasar; artinya kita harus mampu menjaga hubungan baik tanpa kehilangan jarak yang diperlukan untuk mengambil keputusan objektif.

    Menganggap supplier sebagai musuh juga berbahaya

    Ada juga Buyer yang melihat negosiasi seperti pertandingan. Kalau supplier mendapatkan margin, berarti Buyer kalah. Kalau supplier kesulitan, berarti perusahaan berhasil menekan harga.

    Cara berpikir seperti ini mungkin menghasilkan saving dalam jangka pendek, tetapi bisa menciptakan masalah yang lebih mahal kemudian. Supplier yang terus-menerus ditekan dapat menurunkan kualitas, mengurangi layanan, menahan investasi, atau memprioritaskan customer lain yang lebih sehat secara bisnis.

    Perusahaan tidak membutuhkan supplier yang selalu kalah. Perusahaan membutuhkan supplier yang tetap kompetitif tetapi juga cukup sehat untuk memenuhi komitmennya. Negosiasi yang baik bukan tentang menghilangkan keuntungan supplier, melainkan mendapatkan struktur harga, layanan, risiko, dan keuntungan yang masuk akal bagi kedua pihak.

    Kepercayaan bukan berarti percaya begitu saja

    Hubungan supplier membutuhkan kepercayaan. Tanpa kepercayaan, setiap diskusi menjadi lambat dan penuh kecurigaan. Tetapi kepercayaan dalam bisnis seharusnya tetap didukung oleh bukti.

    Kalau supplier mengatakan bahan baku naik, minta data pendukung. Kalau mereka menjanjikan delivery minggu depan, pastikan ada rencana produksi atau pengiriman yang cukup jelas. Kalau supplier mengatakan masalah kualitas sudah diperbaiki, lihat hasil trial atau inspeksi berikutnya.

    Verifikasi bukan bentuk penghinaan. Supplier yang profesional biasanya memahami bahwa Buyer juga mempunyai tanggung jawab untuk memastikan informasi yang diterimanya dapat dipertanggungjawabkan.

    Percaya hubungan, tetapi verifikasi keputusan.

    Jadi, bagaimana sebaiknya memperlakukan supplier?

    Hormati mereka sebagai profesional. Dengarkan masalah mereka, bayar sesuai kesepakatan, berikan forecast yang masuk akal, dan jangan menjanjikan order yang belum pasti. Jangan menggunakan quotation mereka hanya untuk menekan supplier lain kalau memang tidak ada niat bisnis yang jelas.

    Di sisi lain, tetap lakukan evaluasi, perbandingan, negosiasi, dan pengendalian risiko. Bersikap adil bukan berarti selalu menyetujui permintaan supplier, dan bersikap tegas tidak harus berarti kasar.

    Buyer yang matang bisa mengatakan, “Kami memahami kondisi Anda, tetapi kami tetap membutuhkan data dan alternatif solusi.” Itu jauh lebih profesional daripada terlalu mudah percaya atau selalu mencurigai.

    Kesimpulannya

    Supplier bukan teman yang harus selalu dibela dan bukan musuh yang harus selalu dikalahkan. Supplier adalah business counterpart. Hubungan terbaik terjadi ketika kedua pihak memahami kepentingan masing-masing, menjaga komitmen, dan cukup terbuka untuk menyelesaikan masalah tanpa kehilangan objektivitas.

    Namun hubungan yang baik saja tidak cukup. Pada akhirnya, perusahaan tetap perlu memilih supplier berdasarkan kualitas, biaya, delivery, kapasitas, risiko, dan performa.

    Dan di sinilah muncul salah satu godaan terbesar bagi Buyer. Dua supplier menawarkan barang yang sama, tetapi salah satunya jauh lebih murah. Pilihannya terlihat jelas.

    Tetapi apakah harga termurah benar-benar pilihan terbaik?

    Kita bahas di Episode 5.

    SELANJUTNYA DI LEARN

    Harga Termurah Belum Tentu Pilihan Terbaik →

    Season 1 · Episode 5

    Lihat dari sisi lain

    Kepercayaan terasa mudah ketika orang yang kita percaya selalu membantu. Yang lebih sulit adalah tetap memeriksa ketika hubungan itu sudah terasa personal—tanpa mengubah kepercayaan menjadi kecurigaan.

    Baca: The Things Mr. Bram Keeps →

  • Kamu Masih Mengira Procurement Itu Cuma Belanja?

    Season 1 · Episode 1 — Welcome to Procurement

    Coba bayangkan ini. Senin pagi, jam 08.17. Kamu baru duduk, laptop baru menyala, kopi bahkan belum sempat diminum.

    Tiba-tiba telepon masuk. “Barangnya belum datang ya? Produksi siang ini bisa stop.” Belum selesai mencerna kalimat pertama, WhatsApp masuk dari supplier: “Maaf Kak, delivery hari ini sepertinya mundur.” Lalu satu email muncul dari Finance: “Mohon dibantu cek, kenapa harga item ini naik?”

    Welcome to Procurement. ☕

    Kalau selama ini kamu mengira pekerjaan Procurement adalah mencari barang, meminta quotation, negosiasi harga, lalu membuat Purchase Order, kamu tidak sepenuhnya salah. Semua itu memang bagian dari pekerjaannya. Tapi itu seperti mengatakan pekerjaan seorang chef adalah memotong sayuran. Benar, hanya saja ada bagian yang jauh lebih besar di baliknya.

    Sebenarnya Procurement ngapain, sih?

    Bayangkan sebuah perusahaan yang memproduksi blender. Untuk membuat satu blender saja, perusahaan membutuhkan motor, kabel, plastik, baut, kemasan, buku manual, label, dan berbagai komponen lainnya. Seseorang harus memastikan semua itu tersedia pada waktu yang tepat, dalam jumlah yang tepat, dengan kualitas yang tepat, dan dengan biaya yang masuk akal.

    Terlalu cepat membeli, gudang bisa penuh dan uang perusahaan tertahan dalam inventory. Terlambat membeli, produksi bisa berhenti. Membeli terlalu mahal, margin perusahaan turun. Mendapat harga murah tetapi supplier-nya tidak reliable? Itu bisa menjadi cerita yang jauh lebih mahal.

    Blender tadi adalah contoh dari manufaktur. Di sekolah atau universitas, kebutuhannya bisa berupa laptop untuk kelas, alat laboratorium, atau jasa maintenance. Di hotel, mungkin linen dan jasa laundry. Di perusahaan jasa, bisa berupa software dan layanan dari vendor.

    Bentuk pembeliannya berbeda, tetapi Buyer tetap perlu memahami apa yang dibutuhkan, kapan harus siap digunakan, dan apa akibatnya kalau pilihan kita keliru. Laptop yang datang tepat waktu tetapi tidak bisa menjalankan aplikasi kelas belum benar-benar memenuhi kebutuhan. Jasa laundry yang murah tetapi sering terlambat juga bisa membuat kamar hotel belum siap ketika tamu datang.

    Jadi yang kita jaga bukan hanya transaksi pembeliannya. Kita membantu memastikan kebutuhan organisasi benar-benar terpenuhi.

    Di sinilah Procurement mulai terasa berbeda dari sekadar “belanja.”

    Harga paling murah belum tentu menang

    Misalnya ada dua supplier. Supplier A menawarkan harga Rp100.000, sementara Supplier B Rp108.000. Kalau hanya melihat angka, pilihannya terlihat gampang: Supplier A.

    Tetapi kemudian kamu menemukan bahwa Supplier A sering terlambat, minimum order-nya besar, dan ketika ada masalah kualitas perlu waktu lama untuk mendapatkan replacement. Supplier B sedikit lebih mahal, tetapi delivery stabil, kualitas konsisten, dan masalah biasanya ditangani dengan cepat. Sekarang selisih Rp8.000 tadi mulai terlihat berbeda.

    Pertanyaannya bukan lagi:

    “Mana yang paling murah?”

    Tetapi:

    “Mana yang paling baik untuk perusahaan?”

    Dua pertanyaan itu ternyata tidak selalu menghasilkan jawaban yang sama.

    Procurement adalah pekerjaan mengambil keputusan

    Semakin lama bekerja di Procurement, semakin sering kamu menemukan pilihan seperti itu. Harga versus kualitas, inventory versus availability, supplier lama versus supplier baru, saving versus risk, atau kecepatan versus ketelitian. Kadang tidak ada pilihan yang sempurna; yang ada hanyalah pilihan dengan trade-off yang berbeda.

    Itulah sebabnya Procurement professional yang baik bukan hanya perlu pintar Excel atau jago negosiasi. Dia perlu belajar melihat masalah dari beberapa sisi, mencari informasi sebelum mengambil kesimpulan, dan memahami konsekuensi dari sebuah keputusan. Kadang kemampuan yang paling berguna justru keberanian untuk mengatakan “Sebentar, kita cek dulu” ketika semua orang meminta jawaban cepat.

    Kalau semuanya berjalan lancar…

    Ada satu hal unik tentang pekerjaan ini: Procurement sering kali paling terlihat justru ketika sesuatu tidak berjalan baik. Barang terlambat? “Purchase, tolong cek.” Harga naik? “Purchase, kenapa naik?” Supplier bermasalah? “Purchase, tolong follow-up.”

    Tetapi ketika barang dan jasa tersedia tepat waktu, operasional berjalan lancar, supplier bekerja dengan baik, dan biaya terkendali, biasanya kantor tetap tenang. Kebutuhan terpenuhi dan orang-orang bisa menjalankan pekerjaannya. Bisnis berjalan sebagaimana mestinya.

    Dan sebenarnya, itu juga hasil kerja.

    Kalau kamu baru masuk Procurement…

    Mungkin semuanya terasa overwhelming. Ada banyak nama barang yang belum kamu kenal, singkatan aneh, supplier yang memahami produknya jauh lebih baik daripada kamu, dan spreadsheet yang entah kenapa punya 37 kolom. Itu normal untuk sebuah pekerjaan yang baru dipelajari.

    Kamu tidak harus memahami semuanya sekaligus. Mulailah dengan rasa ingin tahu: kenapa supplier ini dipilih, kenapa kita membeli sebanyak ini, kenapa lead time-nya tiga bulan, kenapa harga berubah, atau kenapa barang yang terlihat murah ternyata membuat begitu banyak masalah.

    Pertanyaan-pertanyaan kecil seperti itu perlahan mengubah seseorang dari sekadar orang yang memproses pembelian menjadi seorang Procurement professional.

    Jadi, Procurement bukan cuma belanja

    Procurement adalah tentang memastikan perusahaan mendapatkan apa yang dibutuhkan untuk menjalankan bisnis, sambil menyeimbangkan cost, quality, delivery, inventory, relationship, dan risk. Kita tidak selalu bisa mendapatkan semuanya sekaligus, sehingga hampir setiap keputusan mempunyai konsekuensi.

    Dan semakin jauh masuk ke dunia ini, kamu akan menemukan bahwa kemampuan paling penting dalam Procurement mungkin bukan kemampuan membeli.

    Melainkan kemampuan mengambil keputusan ketika jawabannya tidak selalu hitam-putih.

    Tapi sebelum pergi sejauh itu, ada satu kebingungan yang perlu kita bereskan. Di kantor kamu mungkin mendengar tiga istilah yang sering digunakan seolah-olah artinya sama: Procurement, Purchasing, dan Sourcing.

    SELANJUTNYA DI LEARN

    Procurement, Purchasing, dan Sourcing — Memangnya Beda? →

    Season 1 · Episode 2

    Lihat dari sisi lain

    Sebuah tugas sederhana bisa berubah begitu beberapa kebutuhan mulai bertabrakan. Nao mengira dia cuma perlu mengantar satu keranjang ke rumah Oma. Ternyata roti, puding, waktu, dan satu janji ke Sasa tidak semuanya bisa diperlakukan sama.

    Baca: The Basket for Grandma →