Tag: Mengambil Keputusan

Memilih di antara beberapa pilihan ketika jawabannya tidak selalu jelas atau sempurna.

  • Buyer yang Hebat Ternyata Bukan yang Paling Jago Nego

    Season 1 · Episode 9 — Welcome to Procurement

    Coba bayangkan seorang Buyer yang hebat.

    Mungkin yang muncul di pikiran adalah seseorang yang sangat percaya diri. Duduk berhadapan dengan supplier, bicara tegas, sulit dibantah, lalu setelah satu jam negosiasi berhasil menurunkan harga 10%.

    Supplier menyerah.

    Buyer menang.

    Kelihatannya keren.

    Tapi setelah cukup lama bekerja di Procurement, kamu mungkin akan menemukan sesuatu yang berbeda.

    Buyer terbaik di ruangan belum tentu orang yang paling banyak bicara.

    Negosiasi memang penting. Tapi bukan semuanya.

    Kemampuan negosiasi jelas penting bagi seorang Buyer. Perusahaan mempercayakan uang dalam jumlah besar kepada Procurement, jadi kemampuan mendapatkan harga dan kondisi komersial yang baik bukan sesuatu yang bisa dianggap sepele.

    Tetapi pekerjaan Buyer tidak berhenti ketika harga sudah disepakati. Supplier masih harus mengirim barang, kualitas harus sesuai, kebutuhan internal bisa berubah, dan masalah akan muncul pada saat yang tidak direncanakan.

    Seorang Buyer bisa sangat hebat menekan harga tetapi buruk dalam follow-up. Bisa pandai berbicara tetapi tidak teliti membaca quotation. Bisa terlihat percaya diri di depan supplier tetapi tidak memahami barang yang sedang dinegosiasikan.

    Jadi kemampuan negosiasi adalah salah satu alat.

    Bukan keseluruhan profesinya.

    Buyer yang hebat banyak bertanya

    Ada satu kebiasaan yang sering terlihat sederhana tetapi sangat kuat: rasa ingin tahu.

    Kenapa harga naik?

    Kenapa lead time enam minggu?

    Kenapa MOQ harus 10.000 pcs?

    Kenapa supplier membutuhkan material tertentu?

    Kenapa tahun lalu delivery lancar tetapi tiga bulan terakhir mulai terlambat?

    Buyer yang hanya menerima jawaban akan mengetahui apa yang supplier katakan. Buyer yang terus bertanya dengan tepat perlahan mulai memahami bagaimana bisnis supplier bekerja.

    Dan semakin dalam pemahamannya, semakin baik keputusan yang bisa dibuat.

    Bukan karena dia paling pintar.

    Tetapi karena dia mempunyai informasi yang lebih baik.

    Buyer yang hebat juga mendengarkan

    Negosiasi sering dibayangkan sebagai kemampuan berbicara dan meyakinkan orang lain. Padahal, banyak informasi penting justru muncul ketika kita berhenti bicara.

    Supplier mungkin mengatakan kapasitas produksinya sedang penuh. User mungkin menjelaskan bahwa spesifikasi tertentu sebenarnya masih bisa berubah. Quality mungkin memberi tahu bahwa masalah kecil sudah muncul beberapa kali sebelum akhirnya menjadi serius.

    Kalau kita terlalu sibuk mempersiapkan jawaban, informasi seperti itu mudah terlewat.

    Mendengarkan bukan berarti selalu setuju. Mendengarkan berarti memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi sebelum menentukan respons.

    Kadang satu pertanyaan yang tepat, diikuti beberapa menit mendengarkan, lebih berguna daripada sepuluh menit berdebat.

    Yang membedakan sering kali justru hal-hal membosankan

    Ini bagian yang jarang terlihat menarik di LinkedIn.

    Buyer yang baik mencatat.

    Dia ingat melakukan follow-up ketika berjanji akan follow-up. Dia mengecek kembali angka sebelum mengirim approval. Dia menyimpan histori harga dengan rapi. Dia membaca spesifikasi sebelum meminta quotation dan tidak mengatakan “sama seperti sebelumnya” tanpa memastikan memang sama.

    Tidak ada yang terlihat heroik dari semua itu.

    Tetapi bayangkan kebalikannya: salah quantity di PO, lupa follow-up delivery, menggunakan harga lama yang sudah tidak berlaku, atau menjanjikan sesuatu kepada supplier lalu tidak pernah kembali dengan jawaban.

    Kesalahan kecil yang berulang perlahan menghilangkan kepercayaan.

    Reliability sering kali lebih berharga daripada terlihat brilliant sesekali.

    Buyer yang hebat tahu kapan harus berkata “Saya belum tahu”

    Ada tekanan tertentu di dunia kerja untuk selalu terlihat mempunyai jawaban. Ketika ditanya atasan atau user, rasanya lebih nyaman langsung memberikan respons daripada mengakui bahwa kita belum tahu.

    Padahal ada jawaban yang jauh lebih profesional daripada menebak:

    “Saya belum punya datanya. Saya cek dulu.”

    Lalu benar-benar cek.

    Buyer yang matang tidak mengukur kompetensinya dari seberapa cepat dia menjawab semua pertanyaan. Dia tahu kapan informasi yang tersedia sudah cukup untuk mengambil keputusan dan kapan dia perlu mencari fakta tambahan.

    Kepercayaan tidak dibangun dengan selalu terlihat tahu.

    Kepercayaan dibangun ketika orang tahu bahwa jawabanmu bisa dipercaya.

    Tegas tidak sama dengan keras

    Seorang Buyer memang perlu bisa mengatakan tidak. Kepada supplier, kepada user internal, bahkan kadang kepada atasannya sendiri.

    Tetapi ketegasan tidak membutuhkan suara keras.

    Kamu bisa menolak kenaikan harga sambil tetap menghormati supplier. Kamu bisa mengatakan kepada user bahwa lead time yang diminta tidak realistis tanpa membuat percakapan menjadi konflik. Kamu juga bisa meminta supplier memperbaiki performa tanpa mempermalukan mereka.

    Ketegasan yang matang biasanya terdengar cukup sederhana:

    “Kami memahami alasannya, tetapi berdasarkan data yang ada, kami belum bisa menyetujui kenaikan ini.”

    Tidak dramatis.

    Tidak perlu menang adu suara.

    Posisinya jelas.

    Jadi, seperti apa Buyer yang hebat?

    Tidak ada satu tipe kepribadian yang harus dimiliki.

    Ada Buyer yang extrovert dan sangat nyaman bertemu orang baru. Ada yang lebih tenang dan kuat dalam analisis. Ada yang hebat membangun relationship. Ada yang sangat teliti terhadap angka dan proses.

    Yang penting bukan menjadi karakter tertentu.

    Buyer yang berkembang biasanya belajar menggabungkan beberapa hal: rasa ingin tahu, ketelitian, kemampuan berkomunikasi, keberanian bertanya, kemampuan mendengarkan, integritas, dan judgment yang semakin matang melalui pengalaman.

    Negosiasi tetap penting.

    Excel tetap penting.

    Pengetahuan produk juga penting.

    Tetapi semua itu perlahan mengarah pada kemampuan yang lebih besar:

    membuat keputusan yang bisa dipertanggungjawabkan.

    Dan setelah sembilan episode, mungkin kita sudah mulai melihat pola.

    Procurement ternyata bukan sekadar membuat PO. Bukan sekadar mencari supplier. Bukan sekadar mengejar delivery. Bahkan bukan sekadar mendapatkan harga murah.

    Jadi kalau semua itu hanya bagian-bagiannya…

    Procurement sebenarnya mengelola apa?

    Kita tutup Season 1 dengan pertanyaan itu.

    SELANJUTNYA DI LEARN

    Jadi… Procurement Sebenarnya Mengelola Apa? →

    Season 1 · Episode 10

  • Kamu Masih Mengira Procurement Itu Cuma Belanja?

    Season 1 · Episode 1 — Welcome to Procurement

    Coba bayangkan ini. Senin pagi, jam 08.17. Kamu baru duduk, laptop baru menyala, kopi bahkan belum sempat diminum.

    Tiba-tiba telepon masuk. “Barangnya belum datang ya? Produksi siang ini bisa stop.” Belum selesai mencerna kalimat pertama, WhatsApp masuk dari supplier: “Maaf Kak, delivery hari ini sepertinya mundur.” Lalu satu email muncul dari Finance: “Mohon dibantu cek, kenapa harga item ini naik?”

    Welcome to Procurement. ☕

    Kalau selama ini kamu mengira pekerjaan Procurement adalah mencari barang, meminta quotation, negosiasi harga, lalu membuat Purchase Order, kamu tidak sepenuhnya salah. Semua itu memang bagian dari pekerjaannya. Tapi itu seperti mengatakan pekerjaan seorang chef adalah memotong sayuran. Benar, hanya saja ada bagian yang jauh lebih besar di baliknya.

    Sebenarnya Procurement ngapain, sih?

    Bayangkan sebuah perusahaan yang memproduksi blender. Untuk membuat satu blender saja, perusahaan membutuhkan motor, kabel, plastik, baut, kemasan, buku manual, label, dan berbagai komponen lainnya. Seseorang harus memastikan semua itu tersedia pada waktu yang tepat, dalam jumlah yang tepat, dengan kualitas yang tepat, dan dengan biaya yang masuk akal.

    Terlalu cepat membeli, gudang bisa penuh dan uang perusahaan tertahan dalam inventory. Terlambat membeli, produksi bisa berhenti. Membeli terlalu mahal, margin perusahaan turun. Mendapat harga murah tetapi supplier-nya tidak reliable? Itu bisa menjadi cerita yang jauh lebih mahal.

    Blender tadi adalah contoh dari manufaktur. Di sekolah atau universitas, kebutuhannya bisa berupa laptop untuk kelas, alat laboratorium, atau jasa maintenance. Di hotel, mungkin linen dan jasa laundry. Di perusahaan jasa, bisa berupa software dan layanan dari vendor.

    Bentuk pembeliannya berbeda, tetapi Buyer tetap perlu memahami apa yang dibutuhkan, kapan harus siap digunakan, dan apa akibatnya kalau pilihan kita keliru. Laptop yang datang tepat waktu tetapi tidak bisa menjalankan aplikasi kelas belum benar-benar memenuhi kebutuhan. Jasa laundry yang murah tetapi sering terlambat juga bisa membuat kamar hotel belum siap ketika tamu datang.

    Jadi yang kita jaga bukan hanya transaksi pembeliannya. Kita membantu memastikan kebutuhan organisasi benar-benar terpenuhi.

    Di sinilah Procurement mulai terasa berbeda dari sekadar “belanja.”

    Harga paling murah belum tentu menang

    Misalnya ada dua supplier. Supplier A menawarkan harga Rp100.000, sementara Supplier B Rp108.000. Kalau hanya melihat angka, pilihannya terlihat gampang: Supplier A.

    Tetapi kemudian kamu menemukan bahwa Supplier A sering terlambat, minimum order-nya besar, dan ketika ada masalah kualitas perlu waktu lama untuk mendapatkan replacement. Supplier B sedikit lebih mahal, tetapi delivery stabil, kualitas konsisten, dan masalah biasanya ditangani dengan cepat. Sekarang selisih Rp8.000 tadi mulai terlihat berbeda.

    Pertanyaannya bukan lagi:

    “Mana yang paling murah?”

    Tetapi:

    “Mana yang paling baik untuk perusahaan?”

    Dua pertanyaan itu ternyata tidak selalu menghasilkan jawaban yang sama.

    Procurement adalah pekerjaan mengambil keputusan

    Semakin lama bekerja di Procurement, semakin sering kamu menemukan pilihan seperti itu. Harga versus kualitas, inventory versus availability, supplier lama versus supplier baru, saving versus risk, atau kecepatan versus ketelitian. Kadang tidak ada pilihan yang sempurna; yang ada hanyalah pilihan dengan trade-off yang berbeda.

    Itulah sebabnya Procurement professional yang baik bukan hanya perlu pintar Excel atau jago negosiasi. Dia perlu belajar melihat masalah dari beberapa sisi, mencari informasi sebelum mengambil kesimpulan, dan memahami konsekuensi dari sebuah keputusan. Kadang kemampuan yang paling berguna justru keberanian untuk mengatakan “Sebentar, kita cek dulu” ketika semua orang meminta jawaban cepat.

    Kalau semuanya berjalan lancar…

    Ada satu hal unik tentang pekerjaan ini: Procurement sering kali paling terlihat justru ketika sesuatu tidak berjalan baik. Barang terlambat? “Purchase, tolong cek.” Harga naik? “Purchase, kenapa naik?” Supplier bermasalah? “Purchase, tolong follow-up.”

    Tetapi ketika barang dan jasa tersedia tepat waktu, operasional berjalan lancar, supplier bekerja dengan baik, dan biaya terkendali, biasanya kantor tetap tenang. Kebutuhan terpenuhi dan orang-orang bisa menjalankan pekerjaannya. Bisnis berjalan sebagaimana mestinya.

    Dan sebenarnya, itu juga hasil kerja.

    Kalau kamu baru masuk Procurement…

    Mungkin semuanya terasa overwhelming. Ada banyak nama barang yang belum kamu kenal, singkatan aneh, supplier yang memahami produknya jauh lebih baik daripada kamu, dan spreadsheet yang entah kenapa punya 37 kolom. Itu normal untuk sebuah pekerjaan yang baru dipelajari.

    Kamu tidak harus memahami semuanya sekaligus. Mulailah dengan rasa ingin tahu: kenapa supplier ini dipilih, kenapa kita membeli sebanyak ini, kenapa lead time-nya tiga bulan, kenapa harga berubah, atau kenapa barang yang terlihat murah ternyata membuat begitu banyak masalah.

    Pertanyaan-pertanyaan kecil seperti itu perlahan mengubah seseorang dari sekadar orang yang memproses pembelian menjadi seorang Procurement professional.

    Jadi, Procurement bukan cuma belanja

    Procurement adalah tentang memastikan perusahaan mendapatkan apa yang dibutuhkan untuk menjalankan bisnis, sambil menyeimbangkan cost, quality, delivery, inventory, relationship, dan risk. Kita tidak selalu bisa mendapatkan semuanya sekaligus, sehingga hampir setiap keputusan mempunyai konsekuensi.

    Dan semakin jauh masuk ke dunia ini, kamu akan menemukan bahwa kemampuan paling penting dalam Procurement mungkin bukan kemampuan membeli.

    Melainkan kemampuan mengambil keputusan ketika jawabannya tidak selalu hitam-putih.

    Tapi sebelum pergi sejauh itu, ada satu kebingungan yang perlu kita bereskan. Di kantor kamu mungkin mendengar tiga istilah yang sering digunakan seolah-olah artinya sama: Procurement, Purchasing, dan Sourcing.

    SELANJUTNYA DI LEARN

    Procurement, Purchasing, dan Sourcing — Memangnya Beda? →

    Season 1 · Episode 2

    Lihat dari sisi lain

    Sebuah tugas sederhana bisa berubah begitu beberapa kebutuhan mulai bertabrakan. Nao mengira dia cuma perlu mengantar satu keranjang ke rumah Oma. Ternyata roti, puding, waktu, dan satu janji ke Sasa tidak semuanya bisa diperlakukan sama.

    Baca: The Basket for Grandma →

  • Procurement, Purchasing, Sourcing… Memangnya Beda?

    Season 1 · Episode 2 — Welcome to Procurement

    “Kamu kerja di mana?”

    “Di Procurement.”

    “Oh… bagian Purchasing ya?”

    Jawaban paling gampang mungkin, “Iya, kurang lebih.” Tapi kalau suatu hari kamu bekerja di perusahaan yang cukup besar, kamu mungkin menemukan ada tim Procurement, Purchasing, Sourcing, bahkan Strategic Sourcing. Semuanya berhubungan dengan supplier, harga, dan pembelian.

    Jadi… memangnya beda?

    Tenang. Kita tidak akan mulai dengan definisi panjang. Kita pakai satu cerita saja.

    Anggap kantor membutuhkan 100 kursi baru

    Perusahaanmu membuka kantor baru dan membutuhkan 100 kursi kerja. Kamu mulai mencari supplier, membandingkan produk dan spesifikasi, meminta quotation, mungkin mencoba sample, lalu bernegosiasi. Supplier A murah tetapi garansinya pendek, Supplier B sedikit lebih mahal tetapi kualitasnya lebih baik, sementara Supplier C menawarkan garansi panjang dan spare part.

    Setelah dibandingkan, perusahaan akhirnya memilih Supplier B. Proses mencari, mengevaluasi, membandingkan, dan menentukan dari mana kebutuhan akan dipenuhi biasanya disebut Sourcing.

    Sederhananya:

    Who should we buy from?

    Supplier sudah dipilih. Sekarang benar-benar beli.

    Harga sudah disepakati, spesifikasi sudah jelas, dan terms of payment sudah ditentukan. Sekarang perusahaan membutuhkan 100 kursi tersebut. Purchase Requisition diproses, Purchase Order dibuat dan dikirim, supplier memberikan konfirmasi, lalu delivery dipantau sampai barang datang.

    Bagian yang membuat transaksi pembelian tersebut benar-benar terjadi dan berjalan biasanya disebut Purchasing. Kalau Sourcing banyak bertanya “Kita sebaiknya membeli dari siapa?”, Purchasing memastikan keputusan tersebut benar-benar dieksekusi.

    Sederhananya:

    Okay, we’re buying it. How do we make sure it happens?

    Lalu Procurement ada di mana?

    Procurement melihat gambarnya lebih lebar. Sebelum mencari supplier, mungkin perusahaan perlu menentukan spesifikasi yang benar, budget yang masuk akal, apakah lebih baik membeli atau menyewa, serta apakah membutuhkan satu supplier atau beberapa supplier. Setelah pembelian pun masih ada pertanyaan tentang performa supplier, kualitas, risiko, kontrak, dan apakah strategi yang digunakan masih tepat.

    Jadi Procurement melihat proses tersebut secara end-to-end: memahami kebutuhan, mencari sumber, memilih supplier, melakukan pembelian, mengelola hubungan, sampai mengevaluasi hasilnya. Karena itu, Sourcing dan Purchasing biasanya merupakan bagian dari dunia Procurement yang lebih besar.

    Kalau dibuat sangat sederhana:

    Sourcing memilih sumbernya. →

    Purchasing menjalankan pembeliannya. →

    Procurement mengelola keseluruhan proses dan strateginya. →

    “Tapi di kantor saya kok beda?”

    Nah, ini penting. Jangan selesai membaca artikel ini lalu besok pagi mengatakan kepada teman kantor, “Sebenarnya kerjaan kamu bukan Procurement. Itu Purchasing.”

    Please don’t. 😄

    Di dunia nyata, nama departemen tidak selalu mengikuti definisi yang rapi. Ada perusahaan yang menyebut semuanya Purchasing, ada yang menggunakan Procurement, dan ada yang memisahkan Strategic Sourcing sebagai fungsi tersendiri. Di perusahaan yang lebih kecil, satu Buyer bahkan bisa mengerjakan semuanya dari mencari supplier sampai mengejar delivery.

    Itu tidak otomatis salah. Struktur organisasi tergantung ukuran perusahaan, industri, kompleksitas supply chain, dan bagaimana bisnis tersebut berkembang. Daripada terlalu sibuk memperdebatkan nama departemen, lebih berguna memahami fungsi yang sedang dijalankan.

    Kenapa perbedaannya penting?

    Karena cara berpikirnya berbeda. Kalau menerima permintaan lalu hanya berpikir “Saya harus membuat PO,” fokusmu adalah menyelesaikan transaksi. Tetapi ketika mulai bertanya “Kenapa kita membeli barang ini dari supplier ini?”, kamu sudah mulai melihat sisi Sourcing.

    Dan ketika pertanyaannya berkembang menjadi “Apakah cara kita memenuhi kebutuhan ini masih menjadi pilihan terbaik bagi perusahaan?”, kamu mulai melihat big picture Procurement. Bukan berarti seorang junior Buyer harus tiba-tiba mengambil keputusan strategis, tetapi memahami gambaran besarnya membuat pekerjaan sehari-hari terasa berbeda.

    PO bukan lagi sekadar nomor di sistem.

    Di belakangnya ada keputusan tentang uang perusahaan, supplier, kualitas, inventory, risiko, dan kebutuhan seseorang di dalam organisasi.

    Jadi, mana yang lebih penting?

    Procurement, Purchasing, atau Sourcing?

    Sebenarnya ketiganya saling membutuhkan. Sourcing yang bagus tanpa Purchasing yang disiplin bisa menghasilkan supplier yang tepat tetapi delivery berantakan. Purchasing yang sangat rapi tanpa Sourcing yang baik bisa membuat perusahaan membeli dengan sempurna—dari supplier yang salah.

    Dan strategi Procurement yang terlihat hebat di PowerPoint tidak berarti banyak kalau tidak bisa dijalankan di lapangan.

    Strategy needs execution. Execution needs direction.

    Sekarang gambaran besarnya mulai terlihat. Tapi kalau kamu benar-benar baru diterima sebagai Buyer, mungkin pertanyaanmu jauh lebih sederhana: “Oke, aku ngerti teorinya. Tapi Senin pagi nanti aku duduk di meja kerja…”

    “…sebenarnya aku harus ngapain?”

    Kita mulai dari sana.

    SELANJUTNYA DI LEARN

    Hari Pertama Jadi Buyer: Sebenarnya Aku Harus Ngapain? →

    Season 1 · Episode 3