STORIES · SEASON 1 · STORY 6

Everyone Knows Nao Will Fix It

Awalnya hanya sebuah kotak.

Bu Rina mengetuk pagar rumah Nao menjelang siang sambil membawa kotak kardus kecil yang diikat tali rafia. Ia harus pergi sebentar, sementara sore nanti keponakannya akan lewat untuk mengambil kotak itu. Karena rumah Nao hampir selalu ada orang dan letaknya persis di tikungan, Bu Rina bertanya apakah kotaknya boleh dititipkan beberapa jam.

“Tentu, Bu. Taruh saja di sini. Nanti kalau keponakannya datang, saya kasih,” kata Nao.

Kotak itu diletakkan di atas meja kecil dekat pintu.

Moa mendekat, mengendusnya dari tiga sisi, lalu melihat Nao.

“Bukan punya kita,” kata Nao. “Cuma numpang sebentar.”

Moa mengendus sisi keempat, barangkali untuk memastikan.

Beberapa hari kemudian, Sasa datang membawa kantong kain besar. Ia harus pergi latihan, tetapi ada buku yang hendak dipinjam seseorang malam nanti. Karena rumah Nao berada di tengah antara rumah mereka berdua, menurut Sasa akan jauh lebih praktis kalau bukunya ditinggal di sana.

“Aku sebenarnya bisa bawa besok,” kata Sasa, “tapi dia butuh malam ini. Kalau kutaruh di rumahmu, nanti dia tinggal mampir. Aku sudah bilang ke dia supaya chat kamu dulu.”

Nao menerima kantong itu. “Ya sudah, tapi kasih tahu orangnya jangan terlalu malam. Aku juga nggak mau jam sebelas masih jadi perpustakaan.”

Sasa tertawa dan berjanji.

Kantong itu digantung di sandaran kursi dekat pintu.

Moa sedang tidur di bawah kursi tersebut. Ia membuka satu mata ketika kantong itu menyentuh telinganya, bangkit, lalu pindah ke bawah meja makan.

Nao tidak memperhatikan.

Setelah itu, entah bagaimana, orang mulai tahu.

Pak Darto menitipkan kunci gudang komunitas karena sore nanti akan dipakai tim dekorasi. Bu Rina kembali dengan sebuah payung milik tetangganya yang kebetulan rumahnya searah dengan perjalanan Nao besok pagi. Sasa meminta Nao mengingatkan seseorang membawa kabel ekstensi. Seorang anak dari ujung jalan bahkan datang membawa dua gulung pita dan berkata ibunya bilang, “Titip di Kak Nao saja, nanti pasti aman.”

Nao mulai punya satu sudut khusus di dekat pintu.

Kotak Bu Rina sudah lama pergi, tetapi tempatnya segera digantikan benda lain.

Moa memperhatikan perkembangan itu dengan perhatian yang semakin serius.

Nao sebenarnya tidak keberatan.

Ada rasa menyenangkan ketika orang mempercayainya. Kalau seseorang bingung mencari sesuatu, Nao sering tahu siapa yang memegangnya. Kalau ada barang yang harus sampai ke orang lain, Nao cukup teratur untuk mengingatnya. Dan kalau ada rencana kecil yang mulai berantakan, biasanya ia bisa membantu membuatnya sedikit lebih masuk akal.

“Lumayan,” katanya suatu sore sambil menyusun tiga barang berbeda di meja dekat pintu. “Kita jadi useful.”

Moa duduk di lantai, menatap sebuah tas kain yang sekarang menempati tempat favoritnya untuk berbaring ketika matahari sore masuk melalui jendela.

Nao mengikuti pandangannya.

“Oh. Itu cuma sampai besok.”

Moa pindah ke tempat lain.

Besoknya tas itu memang pergi.

Sebagai gantinya datang sebuah kardus.

Masalah sebenarnya baru muncul pada hari Sabtu.

Pagi itu lingkungan mereka sedang menyiapkan acara kecil di taman. Tidak ada yang besar—beberapa meja makanan, permainan anak-anak, musik, dan bazar kecil. Nao hanya punya satu tugas resmi: membawa dua papan petunjuk yang sudah ia buat sendiri malam sebelumnya.

Tetapi pukul sembilan pagi, ponselnya sudah penuh pesan.

Sasa menanyakan kabel ekstensi. Pak Darto bertanya apakah kunci gudang masih ada. Bu Rina ingin memastikan kantong berisi gelas kertas sudah diambil seseorang. Seorang tetangga lain bertanya apakah Nao tahu siapa yang membawa taplak meja panjang.

Nao menjawab satu per satu sambil sarapan.

Moa duduk di seberangnya.

“Aku bukan panitia,” kata Nao sambil mengetik. “Entah kenapa aku tahu terlalu banyak.”

Moa menatapnya.

Nao berhenti mengetik sejenak.

“Jangan lihat aku begitu. Mereka cuma tanya.”

Ponselnya berbunyi lagi.

Nao kembali mengetik.

Menjelang siang, rumah mereka berubah menjadi tempat transit.

Dua kantong ada di dekat pintu. Sebuah gulungan kabel berada di bawah meja. Kardus berisi gelas kertas menempati sudut ruang tamu. Di atas kursi ada tas yang Nao sendiri tidak ingat milik siapa.

Moa kehilangan tempat berjemurnya untuk kedua kalinya minggu itu.

Kali ini ia tidak pindah.

Ia berdiri di depan kardus, melihatnya cukup lama, lalu menggigit pelan salah satu pegangannya.

Nao sedang membaca pesan ketika menyadari Moa berjalan menuju pintu sambil menyeret kantong kecil berisi pita.

“Moa.”

Moa terus berjalan.

“Moa, itu punya Bu Rina.”

Poodle itu berhasil membawa kantong tersebut sampai ke teras sebelum Nao mengambilnya.

Nao mengembalikannya ke dalam rumah. “Kamu nggak bisa sembarangan mengembalikan barang ke orang. Ada sistemnya.”

Moa duduk di ambang pintu.

Beberapa menit kemudian Bu Rina lewat di depan rumah.

Moa berdiri, mengambil kantong pita tadi, dan membawanya keluar lagi.

Bu Rina berhenti.

“Oh, itu punya saya.”

Nao berdiri di ruang tamu dengan ponsel masih di tangan.

Bu Rina mengambil kantongnya sambil tertawa. “Pintar sekali, Moa. Saya malah lupa ini masih di sini.”

Moa kembali masuk.

Ia berjalan ke tempat yang tadi ditempati kantong itu, berputar dua kali, lalu berbaring.

Nao menatapnya.

“Hm.”

Sore harinya seseorang datang membawa sebuah kotak plastik besar.

“Mbak Nao, boleh titip ini? Nanti Pak Darto ambil sebelum acara mulai. Katanya kalau ditaruh di sini lebih gampang karena semua orang tahu rumah Mbak.”

Nao sudah mengulurkan kedua tangan.

Moa muncul dari belakang sofa.

Ia berjalan ke pintu, berdiri di antara Nao dan kotak plastik itu, lalu menatap kotaknya. Setelah itu ia melihat orang yang membawanya. Kemudian kembali melihat kotaknya.

Nao belum pernah melihat seekor poodle menyampaikan pendapat tentang distribusi tanggung jawab dengan begitu jelas.

Tangannya perlahan turun.

“Sebentar,” katanya. “Pak Darto sekarang ada di taman, kan? Kalau iya, lebih aman langsung dibawa ke sana saja. Kalau ditinggal di sini, nanti malah saya yang harus memastikan barang ini sampai ke beliau.”

Orang itu berpikir sebentar, lalu mengangguk. “Oh iya juga. Sekalian saya ke sana.”

Kotak plastik itu pergi bersama pemiliknya.

Moa kembali ke ruang tamu.

Nao memperhatikannya.

“Kamu puas?”

Moa naik ke karpet dan duduk.

Nao mulai curiga jawabannya iya.

Baru beberapa menit kemudian Nao melihat jam.

Ia membeku.

Dua papan petunjuk buatannya masih berada di kamar.

Nao berlari mengambilnya. Salah satu belum selesai dipasangi tali, sementara spidol yang ia perlukan ternyata berada di dasar salah satu tas titipan. Ia harus membongkar beberapa barang hanya untuk menemukannya.

Untuk pertama kalinya hari itu, Nao berhenti.

Rumahnya penuh barang yang bukan miliknya. Ponselnya penuh pertanyaan tentang pekerjaan yang bukan tugasnya. Dan satu-satunya hal yang memang menjadi tanggung jawab Nao sendiri hampir terlupakan.

Moa duduk di pintu kamar.

Nao melihatnya.

“Oke,” katanya. “Sekarang aku mengerti.”

Moa menggaruk telinga.

Mungkin ia mengerti. Mungkin juga tidak.

Tetapi sore itu, Nao mulai mengubah caranya membantu.

Ketika Sasa menelepon menanyakan kabel ekstensi, Nao memberi tahu di mana kabel itu terakhir dilihat dan siapa yang sedang berada di taman. Ia tidak menawarkan diri mengambilkannya. Ketika seseorang bertanya apakah sebuah kantong boleh ditinggalkan di rumah, Nao membantu menghubungi orang yang seharusnya menerima kantong tersebut.

Dan ketika Bu Rina bertanya apakah Nao bisa membantu mengecek daftar perlengkapan, Nao mengangguk.

“Bisa, Bu. Kita cek bareng. Tapi yang pegang daftarnya tetap Bu Rina ya, supaya nanti saya nggak malah jadi pusat semua barang.”

Bu Rina tertawa. “Iya juga. Belakangan semua memang dilempar ke rumah kamu.”

Nao ikut tertawa.

Aneh rasanya.

Ia masih membantu.

Tidak ada yang marah.

Dunia juga tidak runtuh.

Malamnya, setelah acara selesai, rumah kembali terasa seperti rumah.

Tidak ada kardus di dekat pintu. Tidak ada kabel di bawah meja. Kursi kembali menjadi kursi, bukan gudang sementara. Bahkan bagian lantai yang terkena matahari sore akhirnya kosong lagi.

Moa berjalan ke sana, berputar dua kali, lalu menjatuhkan tubuhnya dengan puas.

Nao duduk di sofa sambil melihatnya.

“Kamu tahu,” katanya, “membantu orang ternyata beda dengan mengambil alih urusan orang.”

Moa meregangkan kaki depannya.

Nao tersenyum. “Dan kamu sebenarnya cuma mau tempat tidurmu kembali, kan?”

Ekor Moa bergerak sekali.

Keesokan paginya terdengar ketukan di pagar.

Nao membuka pintu.

Seorang tetangga berdiri di sana sambil membawa kotak kardus.

“Mbak Nao, boleh minta tolong? Saya mau titip ini sebentar. Nanti sore ada yang ambil.”

Nao melihat kotaknya.

Dari dalam rumah, Moa muncul. Ia melihat kotak itu, lalu melihat Nao.

Nao tersenyum.

“Kalau orangnya ambil sore, lebih baik kotaknya tetap dibawa dulu ya. Nanti kasih tahu dia ambil langsung ke tempat Mbak saja. Kalau perlu, saya bantu kasih tahu arah rumahnya.”

Tetangganya berpikir sebentar. “Oh iya juga. Bisa begitu.”

Ia pergi bersama kotaknya.

Nao menutup pagar.

Moa sudah berjalan kembali ke dalam rumah.

Nao mengikutinya.

Di ruang tamu, cahaya pagi jatuh tepat di tempat favorit Moa.

Kosong.

Seperti seharusnya.

THERE IS A PROCUREMENT IDEA HIDING IN THIS STORY.

Bagaimana caranya tetap helpful tanpa perlahan menjadi pemilik semua masalah orang lain?

Learn: Kenapa Buyer Selalu Dicari Kalau Ada Masalah? →

Bagikan cerita ini
Salin link · Bagikan

Procurement is more than buying.