STORIES · SEASON 1 · STORY 5

The Cheapest Basket

Keranjang Nao sudah mulai menyerah pada kehidupan.

Pegangannya masih terpasang, tetapi sekarang berbunyi kecil setiap kali diangkat. Dua anyaman di bagian bawah sudah putus, dan salah satu sudutnya mulai membuka celah yang cukup besar untuk sesuatu berukuran biskuit melewatinya. Fakta terakhir itu diketahui bukan dari pemeriksaan Nao, melainkan dari penelitian lapangan yang dilakukan Moa selama beberapa minggu.

Pagi itu Nao meletakkan keranjangnya di meja makan dan menatapnya cukup lama. Keranjang itu sudah menemaninya ke pasar, festival kampung, toko Pak Bram, dan berbagai perjalanan kecil yang awalnya tidak pernah membutuhkan keranjang tetapi entah bagaimana selalu berakhir dengan membawa sesuatu pulang.

Moa memasukkan hidungnya ke sudut yang berlubang.

“Jangan dibantu rusak,” kata Nao. “Aku sudah memutuskan beli yang baru.”

Moa menarik kepalanya keluar dan duduk dengan ekspresi seseorang yang merasa baru saja kehilangan sebuah fitur.

Pasar akhir pekan di lapangan kecamatan ternyata punya satu lorong khusus kerajinan. Ada tas kain, kotak kayu, tempat tanaman, sandal anyaman, dan cukup banyak keranjang untuk membuat Nao bertanya-tanya mengapa selama ini ia hanya mengenal satu jenis keranjang.

Penjual pertama adalah seorang ibu dengan meja yang sangat rapi. Keranjangnya ringan, anyamannya halus, dan bagian dalamnya dilapisi kain yang bisa dilepas untuk dicuci. Pegangannya terasa nyaman bahkan ketika Nao memasukkan beberapa barang pajangan ke dalamnya untuk mencoba.

Nao melihat label harga.

Ia meletakkannya kembali dengan lebih hati-hati daripada saat mengambilnya.

“Bagus sekali,” katanya kepada Moa setelah mereka berjalan beberapa meter. “Tapi kalau aku beli itu, sepertinya selama sebulan kita harus mengagumi keranjangnya sambil makan mi instan.”

Moa memandang ke belakang ke arah keranjang tadi. Ia tampaknya tidak melihat hubungan antara keputusan finansial Nao dan menu makannya sendiri, tetapi memilih tidak memperpanjang persoalan.

Penjual kedua berada tidak jauh dari sana. Keranjangnya sedikit lebih berat dan tampilannya jauh lebih sederhana, tetapi pegangannya kokoh dan bagian bawahnya rata. Harganya hampir sepertiga lebih murah daripada yang pertama.

Nao mengangkatnya, memutar sedikit, lalu mencoba membawanya sambil berjalan beberapa langkah.

“Yang ini masuk akal,” katanya. “Nggak cantik-cantik amat, tapi sepertinya bisa diajak hidup bersama.”

Moa mengendus bagian bawahnya.

Itu tampaknya bentuk persetujuan.

Mereka hampir selesai ketika Nao melihat sebuah papan kecil di ujung lorong.

KERANJANG ANYAMAN — HARGA PASAR LANGSUNG

Di bawahnya tersusun keranjang dengan bentuk yang hampir sama seperti yang baru saja mereka lihat. Warnanya sedikit lebih muda, anyamannya rapi, dan yang paling menarik perhatian Nao adalah angka yang ditulis besar pada selembar karton.

Harganya hampir setengah dari keranjang pertama.

Nao berhenti.

Kemudian mundur dua langkah.

“Sebentar.”

Ia mendekati meja.

Penjualnya seorang perempuan muda yang sedang mengikat tali pada beberapa keranjang kecil. Ia menjelaskan bahwa keluarganya membuat sendiri keranjang-keranjang itu di desa sebelah, sehingga mereka tidak menitipkan barang melalui toko atau pengecer. Itu sebabnya harganya bisa lebih rendah.

Nao mengambil satu.

Tidak ada anyaman yang lepas. Pegangannya tidak bergoyang. Bagian bawahnya bahkan terasa cukup kokoh ketika ditekan dengan telapak tangan.

Ini bukan barang jelek.

Justru itu yang membuat Nao semakin tertarik.

“Kalau dilihat begini,” katanya pelan kepada Moa, “aku hampir beli yang tadi dengan harga jauh lebih mahal.”

Moa sedang sibuk dengan hal lain.

Ketika Nao menoleh, separuh tubuhnya sudah berada di dalam salah satu keranjang pajangan.

“Moa.”

Poodle itu berhenti bergerak.

“Keluar. Itu bukan bagian dari quality inspection.”

Moa keluar dengan tenang, seolah keputusan tersebut memang berasal darinya sendiri.

Nao tersenyum kecil, lalu kembali melihat keranjang di tangannya. Beberapa bulan sebelumnya mungkin ia sudah membayar dan pulang dengan perasaan berhasil menemukan bargain. Tetapi kali ini ia tidak langsung membuka dompet.

Ia memikirkan keranjang lamanya.

Apa sebenarnya yang biasa ia masukkan ke sana?

Nao mengambil ponsel dan membuka foto-foto lama. Ada foto bekal makan siang, kotak kue Bu Rina, dua botol minum, beberapa buku, belanjaan kecil, dan sekali waktu tiga pot tanaman yang keputusan pembeliannya masih sulit ia jelaskan.

Ia memperkirakan ukurannya dengan tangan.

Kemudian melihat kembali keranjang murah tadi.

Bentuknya hampir sama, tetapi bagian atasnya sedikit menyempit.

“Boleh saya coba masukkan kotak ini?” tanya Nao sambil menunjuk sebuah kotak makanan yang dipajang di meja sebelah.

Penjualnya mengangguk.

Kotak itu masuk.

Hampir.

Nao harus memiringkannya sedikit agar melewati bagian atas keranjang. Setelah berada di dalam, posisinya juga tidak bisa benar-benar rata.

Nao mengeluarkannya lagi.

“Kalau cuma sayur, buah, atau barang kecil sebenarnya bagus banget ya,” katanya kepada penjual.

“Iya,” jawab perempuan itu. “Yang ini memang paling banyak dibeli buat belanja pasar. Kalau Mbak sering bawa kotak besar, mungkin yang model sebelah sana lebih enak karena mulutnya lebih lebar.”

Ia menunjuk model lain.

Harganya lebih mahal.

Tidak jauh berbeda dengan keranjang kedua yang tadi dilihat Nao.

Nao tersenyum. “Oke. Sekarang masalahnya jadi lebih menarik.”

Mereka kembali ke penjual kedua.

Kali ini Nao tidak hanya melihat keranjangnya. Ia mengambil salah satu kotak pajangan dari meja sebelah, meminta izin, lalu memasukkannya ke dalam.

Masuk dengan rata.

Masih ada ruang di sampingnya untuk botol minum dan beberapa barang kecil. Nao mengangkat keranjang itu lagi. Sedikit lebih berat daripada yang pertama, tetapi tidak cukup berat untuk menjadi masalah.

Moa memperhatikan proses tersebut dengan sangat serius.

Lalu masuk ke keranjang lain.

Nao menatapnya.

“Aku mulai curiga kamu punya metode evaluasi sendiri.”

Moa berputar sekali di dalam keranjang sebelum duduk.

Nao menghela napas. “Baik. Comfortable. Dicatat.”

Penjualnya tertawa.

Nao akhirnya membeli keranjang itu.

Bukan yang paling cantik.

Bukan yang paling murah.

Dan, kalau dipikir-pikir, mungkin juga bukan keranjang terbaik yang ada di seluruh pasar.

Tapi ketika kotak makanannya diletakkan rata di dasar, botol minum masuk di sampingnya, dan pegangannya masih nyaman ketika semuanya diangkat, Nao tahu satu hal sederhana.

Keranjang itu cocok untuk hidupnya.

Dalam perjalanan pulang mereka melewati lorong kerajinan sekali lagi.

Di depan penjual keranjang murah tadi, seorang perempuan sedang memilih dua buah sekaligus. Keranjang pertama diisi sayuran, sementara yang kedua sudah penuh dengan bunga potong dan beberapa gulung kain.

Semuanya masuk dengan mudah.

Perempuan itu membayar sambil tersenyum puas.

Nao memperlambat langkah.

Ia melihat keranjang perempuan itu, lalu melihat keranjang barunya sendiri.

Tidak ada yang salah dengan keranjang murah tadi. Anyamannya bagus, harganya sangat menarik, dan untuk barang-barang yang sedang dibawa perempuan itu, bentuknya bahkan mungkin lebih praktis daripada keranjang Nao.

Nao tersenyum kecil.

Keranjang termurah itu bukan pilihan yang salah.

Ia hanya bukan keranjang untuk Nao.

Moa berjalan beberapa langkah di depannya sambil mengunyah sesuatu.

Nao menyipitkan mata.

“Moa, kamu makan apa?”

Moa terus berjalan.

Nao mempercepat langkah dan melihat sesuatu yang sangat mirip biskuit muncul sebentar dari sisi mulutnya.

Ia menoleh ke keranjang baru yang dibawanya. Tidak ada lubang. Tidak ada biskuit di dalamnya. Bahkan Nao cukup yakin mereka belum membeli biskuit hari itu.

Untuk beberapa detik ia mencoba mencari penjelasan yang masuk akal.

Lalu menyerah.

Ada hal-hal yang memang perlu dievaluasi dengan teliti.

Ada juga Moa.

THERE IS A PROCUREMENT IDEA HIDING IN THIS STORY.

Kalau pilihan termurah sebenarnya bagus, kapan kita punya alasan yang cukup untuk memilih sesuatu yang lebih mahal?

Learn: Harga Termurah Belum Tentu Pilihan Terbaik →

Bagikan cerita ini
Salin link · Bagikan

Procurement is more than buying.