STORIES · SEASON 1 · STORY 1
The Basket for Grandma

Hujan semalam menyisakan titik-titik air di pagar dan daun jambu ketika Nao membuka pintu belakang rumah.
Moa sudah duduk di anak tangga, memperhatikan seekor siput yang sedang berusaha menyeberangi lantai teras.
“Dia dari tadi di situ?” tanya Nao.
“Sudah lama.”
“Kenapa nggak dibantu?”
Moa mengangkat bahu. “Dia nggak minta.”
Nao menghela napas. Kadang-kadang berbicara dengan Moa terasa seperti berbicara dengan seseorang yang sangat bijaksana.
Kadang-kadang tidak.
Pagi itu Mama menitipkan sebuah keranjang kecil.
“Tolong antar ke rumah Oma Lili sebelum jam empat, ya.”
“Isinya apa?”
“Beberapa barang buat sore ini. Nanti sekalian beli roti di Bu Rina. Oma suka yang roti susu.”
Nao mengintip isi keranjang. Ada satu botol kecil, dua bungkus teh, sebuah kotak, dan secarik kertas yang dilipat.
Gampang.
Sangat gampang.
Moa memasukkan kedua kaki depannya ke kantong hoodie kecil yang dipakaikan Nao pagi itu.
“Kita ke mana dulu?”
“Bu Rina.”
“Lewat tukang sosis?”
“Nggak.”
“Kenapa?”
“Karena kita baru sarapan.”
“Aku nggak ingat.”
Mereka sampai di toko Bu Rina pukul sebelas kurang sedikit.
“Roti susu habis, Nao,” kata Bu Rina. “Besok pagi ada lagi.”
Nao mengerutkan hidung.
“Yang mirip?”
“Ada roti cokelat.”
Nao memandang roti cokelat.
Moa juga.
“Cokelat lebih enak,” bisiknya.
“Oma sukanya susu.”
“Oma belum coba yang cokelat.”
“Itu bukan poinnya.”
“Justru itu poinnya.”
Nao mengabaikannya.
Di rak sebelah ada roti tawar kecil. Tidak menarik, tetapi setidaknya tidak terlalu manis.
“Yang ini masih fresh, Bu?”
“Baru datang pagi.”
Nao mengambilnya.
Masalah pertama selesai.
Atau begitu pikirnya.
Di luar toko, Nao membuka kertas kecil dari dalam keranjang.
Roti susu.
Teh.
Obat gosok.
Puding dingin.
Nao berhenti berjalan.
Ia melihat isi keranjang.
Teh ada.
Obat gosok ada.
Kotak yang tadi dilihatnya ternyata berisi puding.
Nao menatap kotak itu cukup lama, lalu menatap matahari yang mulai muncul dari balik awan.
“Moa.”
“Hmm?”
“Ini harus dingin.”
Moa mengendus kotaknya.
“Masih dingin.”
“Kita baru mau ke taman.”
“Kenapa?”
“Kan aku janji ketemu Sasa jam dua belas.”
Moa berpikir sebentar.
“Taruh di bawah pohon.”
“Dua jam?”
“Pohonnya besar.”
Nao menutup mata.
Ada hari-hari ketika Moa benar-benar tidak membantu.
Nao melihat jam.
11.18.
Rumah Oma Lili sebenarnya hanya dua puluh menit dari sana. Kalau ia mengantar keranjang sekarang, ia masih mungkin bertemu Sasa sedikit terlambat.
Tetapi roti susu belum dapat.
Ia membuka ponsel dan mencari toko lain.
Ada bakery di dekat stasiun.
1,7 km.
Roti susunya tersedia.
Nao tersenyum.
“Nah.”
Moa ikut melihat layar.
“Jauh.”
“Cuma satu koma tujuh.”
“Kakimu pendek.”
Nao menatapnya.
“Kakimu lebih pendek.”
“Aku punya empat.”
Mereka berangkat.
Bakery dekat stasiun memang punya roti susu.
Bahkan terlihat lebih bagus daripada roti Bu Rina. Packaging-nya cantik, ada pita kecil di bagian atas, dan rotinya masih hangat.
“Harganya dua kali lipat,” kata Nao.
“Oma nggak tahu harganya.”
“Aku yang tahu.”
“Kalau begitu jangan kasih tahu Oma.”
Nao mulai curiga Moa seharusnya tidak pernah dipercaya mengelola uang.
Ia membeli satu.
Saat keluar dari bakery, jam menunjukkan 11.52.
Sasa sudah mengirim pesan.
Naooo kamu di mana 😭
Nao mengetik:
otw
Ia melihat tulisan itu sebentar.
Kemudian menghapusnya.
Ia sebenarnya tidak sedang on the way ke taman.
Ia berdiri di depan stasiun dengan sebuah keranjang, dua jenis roti, puding yang semakin tidak dingin, dan seekor poodle yang sedang memperhatikan penjual sosis.
“Nao.”
“Apa?”
“Sosisnya dua belas ribu.”
“Terus?”
“Aku cuma kasih informasi.”
Nao memasukkan ponsel ke tas.
Ia mulai menghitung. Ke taman sekitar lima belas menit. Kalau bertemu Sasa satu jam, lalu ke rumah Oma…
Ia menyentuh kotak puding.
Tidak dingin lagi.
Moa ikut menyentuhnya.
“Hangat.”
“Aku tahu.”
“Bisa jadi sup.”
“Moa.”
“Aku cuma kasih informasi.”
Nao memandang jalan ke arah taman.
Kemudian ke arah rumah Oma.
Ia mengeluarkan ponsel lagi.
Sa, sorry. Aku harus antar sesuatu dulu ke Oma. Kayaknya aku telat. Jangan tunggu makan ya.
Tiga titik muncul.
Hilang.
Muncul lagi.
okeh. kabarin ajaa
Nao merasa sedikit bersalah. Tapi anehnya, setelah mengirim pesan itu, kepalanya terasa lebih ringan.
“Ayo.”
“Ke Oma?”
“Ke Oma.”
“Lewat penjual sosis?”
“Tidak.”
“Nao!”
Seseorang memanggil dari seberang jalan.
Nao menoleh. “Eh, Tante Mira.”
Tante Mira menghampiri mereka dan mengobrol sebentar tentang Mama. Moa sibuk mengendus rerumputan di dekat kaki Nao, lalu duduk ketika kepalanya dielus.
“Lucu banget sih kamu,” kata Tante Mira.
Moa menjulurkan lidah.
Setelah Tante Mira pergi, mereka melanjutkan perjalanan.
“Menurutku kita tetap harus lewat tukang sosis,” kata Moa.
Nao meliriknya.
“Kamu belum menyerah juga?”
“Dua belas ribu.”
Mereka tiba di rumah Oma Lili pukul 12.24.
Oma membuka pintu dengan rambut putih yang masih digulung kecil di belakang kepala.
“Nao?”
“Mama titip ini.”
Nao menyerahkan keranjang.
Oma melihat ke dalam.
“Lho, banyak sekali.”
“Ada roti juga.”
“Wah.”
Nao mengeluarkan roti susu yang dibelinya dekat stasiun.
Oma tersenyum.
“Ini buat teman-teman Oma nanti sore.”
Nao berhenti.
“Teman-teman?”
“Iya. Jam tiga mereka datang.”
Nao melihat kotak puding.
“Oma… pudingnya harus masuk kulkas.”
“Oh iya.”
Oma mengambilnya.
“Untung cepat kamu antar.”
Nao tidak mengatakan apa-apa.
Puding masuk ke kulkas. Roti diletakkan di meja.
Kemudian Oma mengambil roti tawar yang tadi dibeli Nao di toko Bu Rina.
“Ini juga?”
“Yang susu tadi habis. Jadi aku beli ini dulu. Terus aku ketemu yang susu di dekat stasiun.”
Oma memandang dua bungkus roti itu.
Nao menunggu.
Lalu Oma tertawa kecil.
“Besok kita sarapan roti banyak sekali.”
Nao ikut tertawa.
Sedikit.

Di luar rumah Oma, Nao berjalan lebih pelan.
Moa menyusul di sampingnya.
“Aku berhasil,” kata Nao.
“Hmm.”
“Semua barang sampai.”
“Hmm.”
“Rotinya juga dapat.”
“Dua.”
“Jangan mulai.”
Moa berjalan beberapa langkah.
“Pudingnya hampir jadi sup.”
Nao melirik tajam.
“Tapi nggak jadi.”
“Karena kamu nggak jadi ke taman.”
Nao diam.
Mereka sampai di sebuah tembok rendah di bawah pohon. Nao duduk. Moa naik ke sebelahnya dan ikut duduk, kakinya menggantung di sisi tembok.
Nao meletakkan keranjang kosong di pangkuannya.
“Tadinya kupikir cuma disuruh antar barang.”
“Hmm.”
“Ternyata repot.”
“Hmm.”
Nao menoleh.
“Kamu nggak mau bilang apa-apa?”
“Aku lapar.”
Nao tertawa.
“Ya sudah. Sosis.”
Moa langsung turun dari tembok.
“Yang dua belas ribu?”
“Kamu hafal banget.”
“Aku memperhatikan hal penting.”
Nao berdiri dan membawa keranjang kosong itu bersamanya.
Mereka berjalan kembali ke arah stasiun.
Baru beberapa langkah, Nao berhenti.
“Moa.”
“Hmm?”
“Kalau tadi aku ke taman dulu, pudingnya rusak.”
“Hmm.”
“Kalau aku langsung ke Oma, aku nggak dapat roti susu.”
“Hmm.”
Nao memandang keranjang kosongnya.
“Kalau dari awal aku tahu—”
“Nao.”
“Apa?”
“Aku lapar.”
Nao menatapnya beberapa detik.
Kemudian tertawa.
“Ayo.”
Mereka melanjutkan perjalanan.
Di ujung jalan, aroma sosis mulai tercium. Moa mempercepat langkah.
Nao tidak.
Kali ini ia melihat dulu jam di ponselnya.
Sasa masih menunggu kabar.